Saya ketemu baru tiga kali, tapi di pertemuan pertama sudah langsung akrab. Soalnya satu frekuensi, sama-sama suka baca novel. Katanya dia punya koleksi lengkap semua novel karya Habibur Rahman El Shirazy. Wow. Hampir saja saya minta pinjam, tapi masa iya, baru kenal langsung pinjam buku ? Malu-maluin.
Di awal Juli lalu, dia posting bukunya yang baru selesai cetak, disertai keterangan akan dibagikan ke tamu undangan pada pesta pernikahannya nanti. Saya langsung berharap, semoga diundang sembari mewanti-wanti kapan datangnya hari bahagia itu.
Suatu ketika dia hadir dan jadi penanya di diskusi yang saya pandu. Saya sedikit kecewa saat narasumber yang ternyata sohibnya menyampaikan kalau dia sudah berstatus pengantin baru. Oh sudah selesai to pestanya ? tanya saya dalam hati. Untung ke esokan harinya buru-buru dia klarifikasi, ketika salah satu statusnya saya komentari. Belumpi Kanda, nanti 28 Juli, insyaalah saya pasti undangki. Jawaban itu bikin saya lega, harapanku belum pupus ternyata. Dan kemarin, belum pernah seantusias itu saya menghadiri sebuah resepsi. Secara, baru kali ini ada pesta souvenirnya buku, biasanya cuma gantungan kunci, gelas atau mangkuk.
Saya kagum sama orang yang bisa berkarya. Bagi saya kualitas seseorang bisa diukur dari karyanya. Apalagi bisa bikin buku. Buku berbeda dengan skripsi. Skripsi dibuat hanya karena syarat untuk jadi sarjana. Ada beban akademik yang memaksa mahasiswa menyusunnya. Sedangkan buku dibuat sukarela. Mampu menyulam aksara sampai membentuk ribuan kalimat itu bukan pekerjaan mudah yang bisa dilakukan sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang diberkahi kemampuan seistimewa itu. Apalagi tidak ada aiming-iming materi dalam pengerjaannya. Butuh keterampilan, semangat membuncah, serta fokus yang tidak gampang gagal
Mungkin semua sudah pada dengar lagu “Ku hamil duluan” yang dipopulerkan Tuty Wibowo. Itu lirik lagu paling kurang ajar yang pernah saya dengar. Sangat jauh dari kata kreatif apalagi keren. Tapi bagaimanapun itu sebuah karya. Sejorok-joroknya karya tetap ada penggemarnya. Lagu itu sudah popular sejak 2011 dan semakin viral sejak munculnya Tiktok. Kalau viral berarti sudah menghasilkan rupiah.
Saya bukan memuji lagu jorok itu, namun sekedar memberi ilustrasi, bahwa dengan kata-kata tak bermakna saja diiringi aransemen seadanya sudah diapresiasi sebegitu rupa, menghasilkan rupiah pula. Terlepas bahwa lagu itu menuai jutaan kritik karena dianggap tidak mendidik dan melabrak norma-norma sosial. Tapi sekali lagi itu sebuah karya. Bukankah semua karya akan bernasib sama. Dipuji sekaligus dikritik. Bagaimana kalau karya itu bermanfaat, menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal positif ? tentu maslahatnya jauh lebih mulia dan lebih besar lagi
Apa yang dipersembahkan Akbar herman di hari bahagianya, selain unik, sekaligus menunjukkan kelasnya, bahwa dia bukan orang biasa, dia mampu memberi sesuatu yang istimewah yang orang lain belum fikirkan. Berbahagialah Munasyrah yang jadi belahan jiwanya. Saat tulang rusuknya tidak lengkap saja, dia sudah bikin sejarah, apalagi kalau sudah sempurna, kita tunggu saja, kejutan apalagi berikutnya.
Selamat menempuh hidup baru adindaku. Semoga bahagia sampai tua
