Oleh: Rosmawati*

Di sebuah sudut kota Kolaka Utara, tahun 2014, ada kebiasaan kecil yang lahir tanpa rencana. Setiap pagi, beranda Facebook dibuka bukan untuk mencari riuh, melainkan untuk memungut cahaya. Cahaya itu bernama kalimat-kalimat inspiratif sang penggerak jiwa Ruslan Ismail Mage, yang hadir tanpa meminta tepuk tangan, namun selalu berhasil mengetuk pintu-pintu jiwa yang terkunci.

Dibaca sungguh-sungguh, setiap cahaya bekerja dengan caranya sendiri. Kadang ia datang seperti embun yang menyejukkan kalbu yang kering. Kadang ia hadir seperti tamparan halus yang membangunkan dari tidur panjang. Di hari lain, ia menyala seperti obor, membakar semangat untuk berjalan menjemput asa yang lama bersembunyi.

Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah kebiasaan sunyi. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada yang menunggu hasilnya. Hanya keyakinan sederhana yang terus dijaga: bahwa hal baik adalah amanah. Ia tidak boleh dibiarkan tenggelam dan dilupakan linimasa.

Awal Agustus 2021, keyakinan itu berubah menjadi panggilan. Catatan-catatan yang dipungut selama tujuh tahun itu dibentangkan di atas meja. Satu per satu dirapikan, lalu dijahit dengan hati-hati. Dari laku menjahit itu lahir sebuah niat: membiarkannya berpindah tangan, agar bisa menemani orang lain seperti ia dulu ditemani.

Niat itu disampaikan dengan segala kerendahan kepada pemilik cahaya, Bang Ruslan Ismail Mage. Dengan lapang dada beliau mengizinkan. Sipil Institute dan Elfatih Media Insani menyambut, lalu bersama-sama meresmikannya sebagai karya pertama Bengkel Narasi. Kurang dari dua pekan, susunan yang dijahit dalam sunyi itu telah menjelma menjadi Ensiklopedia Sang Penggerak: Pemikiran Inspiratif Ruslan Ismail Mage.

Di halaman pembukanya, tertulis pengakuan yang kemudian menjadi fondasi Bengkel Narasi: “Karya ini lahir dari cahaya milik Bang Ruslan Ismail Mage. Tugas kami hanya memungut, merapikan, lalu menjahitnya kembali untuk pembaca. Tinta dan terangnya milik beliau.”

Dari sanalah Bengkel Narasi belajar bahwa pekerjaan besar sering kali dimulai dari kesetiaan yang tidak terlihat. Bahwa negeri ini tidak hanya dibangun oleh suara yang lantang, tetapi juga ditata oleh tangan-tangan yang sabar menjahit hal kecil. 23 April 2026, tepat lima tahun berdirinya, sebuah penghargaan “Anugrah Award Bengkel Narasi” diselenggarakan untuk merayakan anggotanya yang terus menyalakan api literasi menulis. Terima kasih untuk setiap jiwa yang percaya bahwa satu kebaikan yang dijahit dengan cinta, sanggup menata satu ruang sunyi di dada orang lain.

*BNsiana sejati dan koordinator Penak Anak Indonesia Kolaka Utara

(Visited 1 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.