Fenomena sosial dapat diartikan sebagai gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dan dapat diamati dalam kehidupan sosial. Salah satu fenomena sosial yang terdapat dalam kehidupan kita sehari-hari adalah adanya masalah-masalah sosial yang timbul baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
Wikipedia
Sepekan lalu kita disajikan peristiwa peristiwa yang bikin sesak nafas, tragedi Brigadir J, ACT, CFW, semuanya viral saling menutupi antara satu berita dengan berita lainnya, seperti lipatan kertas, dunia terlipat dalam buku Yasraf Amir Piliang. Dunia dilipat: Tamsya melampaui batas batas Kebudayaan.
Viralnya sebuah peristiwa tentu seperti air bah yang meluap menembus dinding nalar kita.
Yang jadi fokus dan lokus di tulisan ini adalah Fenomena sosial anak muda di catwalk lampu merah di Citayam Fadhion Week.
Dalam pandangan sosiologi kerumunan tempatnya tidak terarah dan dimana saja, dengan rentang waktu yang relatif cepat terbentuk dan cepat berakhir. Sedangkan massa, tempat kumpul pada massa ditentukan dengan rentang waktu pembentukan dan pembubaran massa terperinci dan ditentukan, dan publik tempat berkumpul tidak mudah di jelaskan karena dapat dimana saja, dengan rentang waktu pembentukan yang tidak jelas namun tetap memiliki tujuan yang sama.
Fenomena anak anak muda di kerumunan atau kumpulan anak anak yang marginal dan terpuruk di sibuknya rotasi dunia perkotaan , yang melahirkan kreatifitas yang spontan, dengan berjalan lunglai, tatapan kosong hiruk pikuk canda karena ketinggalan kereta, membuat berjalan di zebra cross jalan raya. dengan bergaya ala2 peragawati ( imajinasi penulis) ada yang merekam di hp lalu di posting di medsos lalu jadi bahan olahan digital lahirlah sebuah karya dan kelak, semua akan menjadi Citayam pada waktunya.
Sekarang, sama seperti saat K-Pop mencuat sebagai fenomena “aneh” pada awalnya, muda mudi kita sinis kita lebih memberi warna ketimbang kagum pada kreasi K.Pop.
Bahwa pada awalnya ada yang menganggap hal itu sebagai kegiatan positif, karena menonjolkan kreativitas dalam memadu-padankan pakaian dan menghidupkan usaha yang ada di sekitar lokasi, namun, tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai hal negatif,selain mengganggu aktivitas jalan raya, kegiatan tersebut juga dinilai berpotensi membuka peluang tindak kriminal, dan sebagainya.dan terakhir pemda DKI. Jakarta menganggap akan menimbulkan bibit LGBT,
selain mengganggu aktivitas jalan raya, kegiatan tersebut juga dinilai berpotensi membuka peluang tindak kriminal, dan sebagainya.
Sebagai fenomena sosial, sedikit banyak, fenomena Citayam Fashion Week akan merubah cara hidup kita.
Paling tidak, ada tiba-tiba sebuah pilihan masuk akal akan segera kita pilih justru saat semua orang seolah sedang ingin diseragamkan.
Kawasan SCBD tiba-tiba terlihat berontak mencari wajah baru layaknya entitas modern hadirnya Harajuku (Japan) di Indonesia sebagai rindu hasrat mencari citra lama yang entah kemana telah pergi.
Noted :Harajuku yang ramai dikenal akan kesenian jalanannya dan mode busananya yang berwarna-warni, dengan toko pakaian klasik yang unik dan toko busana cosplay di sepanjang Jalan Takeshita, serta butik tradisional kelas atas yang berjajar di Omotesando Avenue yang rimbun. Sejumlah bar kecil dan kafe trend waktu itu sebagai trend Kiblat Fashion jalanan.
Serta merta bayangan Braga Bandung sebagai pernah julukan Paris van Java terlintas.
Lalu lalang mereka sebagai yang sangat modis membawa ingatan itu.
Entah sebab angin apa, faktanya, anak-anak sebagai wakil “pinggiran” bernama Bojonggede, Citayam hingga Depok itu mampu memecah angkuh mereka yang kemarin jumawa. Seolah meninju batas batas modernitas perkotaan yang meminggirkan bakat terpendamnya.
Pada sisi ekonomi, jangan pernah under estimate pada gerakan seperti itu. Ketika banyak sorot mata tertuju kesana, hanya soal waktu menjadi raksasa.
Bahwa itu tak serta merta menjadi seperti fenomena K-Pop di Korea Selatan yang menjelma menjadi raksasa layaknya Hollywood misalnya, pada kekinian kita, itu sebuah harapan.
Pada skala hanya SCBD Jakarta, bisa jadi hanya embrio munculnya di kota kota lain di Indonesia, namun ketika gerakan ini meluas hingga batas mustahil di Malang, Bandung, Surabaya, Jember,
Balikpapan, Samarinda, Manado, Makasar dan banyak kota yang lain, itu pasti cerita luar biasa bagi kekinian kita.
Ketika anak anak muda kita berlenggak lenggok menyeberang zebra cross manakala lampu merah menyala dan tepuk sorak penonton pun terdengar.melahirkan nuansa yang berbeda dan baru.
Sambil berdiri, sebagian warga, sambil tangan memegang gelas plastik berisi kopi sasetan di tangan kiri dan tangan kanan kamera hp mereka menyiarkan kemeriahan itu ke seluruh sudut dunia.
Dan itu dimulai oleh mereka yang kemarin kita anggap udik, alay kampungan, dll. Itu diinisiasi oleh mereka para anak-anak yang kita tanggapi dengan sinis bahkan kita sebut biasa saja akan hilang dengan sendirinya.
Fakta dan Kenyataan kini, banyak artis papan atas, para politisi, hingga para pesohor kaya dan ningrat hadir numpang tenar demi konten bahkan ada yang ingin paten kan lewat HAKI. Mereka berebut menjadi yang paling penting dan berharga.
Bahkan youtuber terkenal BW, sudah mendaftarkan untuk dapat haki, dan setelah mendapat cibiran nitizen akhir niat tersebut di urungkan dan di cabut.
Baju kita kembali lebih berwarna. Cara kita mengekspresikan diri, kembali menjadi apa adanya seperti dulu pernah.
Dan yang terpenting, di tengah situasi serba tak pasti atas ancaman krisis dunia, kita menemukan jalan keluar sekaligus menemukan cara bersaudara yang jauh lebih alamiah. Tanpa basa basi formalitas tapi tumbuh dari akar kampung kampung yang tidak kampungan.
Sama seperti kelak semua akan K-Pop pada waktunya, Citayam Fashion Week pun seolah berbicara yang sama.
Kelak, bukan mustahil nama itu justru menjadi harafiah kita bicara ketika budaya pop Indonesia kita diskusikan.
Bisa disimpulkan, jika para elit bangsa ini ( dipusat atau didaerah ) kedepan dlm berkompetisi tidak memakai “Identitas Budaya Tertentu” yg notabene saat ini dianggap punya kekuatan masa terbesar, maka Indonesia ( Nusantara ) pasti akan menemukan kembali jati diri bangsa ini.
Anak Citayam mendefinisikan sendiri gaya berpakaiannya, menolak distandarkan, berekspresi dengan uang sendiri dan viral sendiri dan jadi trending pekan ini.
Dari Tiktok ke lensa antarabangsa. Asalnya ia sebuah tempat buat anak-anak Jakarta melepak di kala hujung minggu tapi kerana keunikan stail dan fesyen mereka, Citayam Fashion Week kini menjadi satu identiti khusus mereka. Fenomena Sosial lahir dari sudut sudut kejamnya ibukota.
Dr.Sudirman, S. Pd. M. Si.
B. CFW, dari Tinjauan Sosiologis.
Secara sosiologis, fenomena masyarakat tontonan, massa, kerumunan bergerombol memang selalu berpotensi meluaskan skalanya, apalagi jika sudah diliput media massa.
Sementara itu Kementerian ATR BPN cosplay tentara-tentaraan pakai duit APBN, seragam dengan pangkat pangkat ala ala militer, tentunya pakai duit negara. Katanya agar terlihat wibawa. (https://t.co/DilgW7GkN1).
1). Dalam fenomena masyarakat tontonan, muda-mudi di Citayam ini saling bertukar simbol dan ketika muda-mudi lain ingin memasuki komunitas ini, mereka pun juga harus memiliki simbol untuk dipertukarkan, konkretnya adalah dengan berpenampilan seperti muda-mudi di Citayam,(Wahyu Nugroho.Sosiolog).
2). Kedua, munculnya “social distinction” atau jarak sosial dengan muda-mudi lain. Penggunaan kode-kode atau simbol tertentu dalam fashion, kata dia, berpotensi memunculkan definisi tentang apa yang dianggap keren dan tidak keren, apa yang bagus dan tidak bagus, serta apa yang dianggap kekinian dan tidak kekinian di kalangan anak muda.
“Mereka yang dianggap tidak keren, tidak bagus, atau tidak kekinian bisa tereksklusi atau tersisihkan dari dunia pergaulan, karena memang salah satu akibat dari fashion adalah menciptakan struktur sosial semu dalam dunia pergaulan,”
4). Aspek ketiga yang muncul dari fenomena Citayam fashion week adalah budaya konsumerisme yakni ketika muda-mudi ini menghabiskan lebih banyak uang untuk penampilan daripada untuk hal-hal lain yang lebih produktif, misalnya untuk pendidikan mereka, apalagi jika mereka sampai harus berutang atau mengajukan kredit agar bisa berpenampilan seperti yang mereka inginkan.
Citayam Fashion Week idealnya tak hanya sekadar menjadi ajang mempertontonkan atau menukarkan berbagai kode dan simbol di kalangan anak muda, tetapi juga bisa memupuk modal sosial di antara mereka.
Modal sosial ini jika dikelola dengan baik, bisa disalurkan untuk hal-hal produktif misalnya membuat proyek bersama yang berkaitan dengan media sosial sehingga bisa memperoleh pemasukan darinya, atau bisa juga dengan mengajukan proposal ke pihak-pihak tertentu guna menggelar kegiatan kepemudaan yang positif dan masih berkaitan dengan fashion,”.
Tidak menutup kemungkinan pula, kegiatan ini menjelma menjadi festival per pekan dan menjadi sarana merintis kewirausahaan muda di kalangan muda-mudi.
Di sisi lain, festival ini juga bisa merangsang kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, terlebih jika Citayam Fashion Week menjadi tujuan wisata baru bagi masyarakat luas, tepatnya wisata fashion.
“Citayam Fashion Week“
Kalau mau distop baiknya carikan alternatif lokasi baru semisal di sisi kiri Jalan Tanjung Karang yang dulunya jadi lahan parkir TJ.
Tinggal ditambah garis-garis zebra cross, latar viewnya juga bagus. Ketertiban dijaga, kreatifitas didukung.
Perlu kita contoh hal yang membantu Harajuku di Japan tetap hidup adalah banyaknya mahasiswa dari perguruan tinggi mode dan kecantikan Tokyo di lingkungan fashion jalanan.
Mereka sering membawa anak-anak Harajuku lain ke proyek sekolah mereka sebagai model, asisten dll,. Bukan obyek tapi subyek dari karya dan kreatifitasnya sendiri.
( https://t.co/8CKkLFMPAa).
Penutup.
Citayam Fashion Week(CFW) jadi plesetan dari agenda-agenda mode kenamaan dunia termasuk New York Fashion Week, Paris Fashion Week. Jika agenda fashion dunia ini memamerkan karya busana desainer terkenal, Citayam. Fashion Week jadi wadah anak-anak muda Citayam, Bojong Gede, dan Depok untuk sekadar nongkrong dengan gaya mereka yang nyentrik.
Berawal dari TikTok, fenomena kumpul-kumpul remaja ini pun disorot netizen. Street fashion mereka pun tak kalah dari street fashion luar negeri. Tak heran ada yang sampai membandingkan Citayam Fashion Week dengan fenomena mode di Harajuku. Apalagi ada yang sampai memberikan plesetan ‘Haraduku’ yakni perkawinan dari Harajuku dan Dukuh Atas.

Jika mendapat dukungan baik dari netizen, warga maupun pelaku bisnis di kawasan Dukuh Atas-Sudirman, bukan tidak mungkin kawasan ini akan populer seperti halnya Harajuku.

Buat siapa pun yang ingin membantu membangun komunitas street fashion di Jakarta, memiliki media sosial yang secara reguler mengunggah jepretan fenomena jalanan membantu anak-anak ini saling bertemu, mendorong mereka untuk saling menginspirasi dan jadi tempat untuk mempromosikan gelaran fashion lokal atau pop up atau hal lain.
Secara sosiologis ini bentuk perlawanan dari struktur masyarakat mekanik ke masyarakat organik, ingin mengaktualisasikan diri untuk dilirik dan dianggap.
Makassar, Juli 2022.

Sudirman Muhammadiyah
(Belajar Bijak lewat Sosiologi).

Suatu penomena yg membua strata diri seseorang bisa berubah tanpa dia sadari, salah satunya adalah hasil karya citayam fashion week yg sekarang dapat menghasilkan sesuatu lewat karya yg tak terduga dari para pelakunya dan membawa mereka mendapatkan penghasilan lewat media sosial.
Tapi kenapa dan apa alasannya Walikota Depok menolak penggelaran Citayam Fashion Week, sedangkan hal ini adalah bertujuan untuk membangun jati diri para pemuda? 🙏😃😃
Karena sdh melenceng jadi ajang lgbt para bencong2 mulai eksis d remaja d duga dpt merusak generasi muda bu
Sebelumnya memang bagus-bagus saja sebagai ajang kreasianak-anak nongkrong. Sampai disetarakan dengan kegiatan serupa di Jepang, apa tuh naanya…. Eeeh, dimanfaatkan juga oleh ara bences muda. Itu ada ABG namanya Mami, ampuuunlah gayanya…benceees habis!