Karena dengan berimajinasi, seseorang bisa memiliki pikiran dan wawasan yang jauh lebih luas. Harapannya, hal tersebut bisa membantunya mendapatkan masa depan yang jauh lebih cerah.
sudirman muhammadiyah
Setiap pulang kampung halaman selalu napak tilas sebagai bentuk muhasabah diri, bahwa kita bukan siapa siapa, kita berasal dari nol bergerak membentuk kehidupan sendiri, hasil ilmu pengetahuan dari belajar adalah wisdom.
Bijak dalam bijaksana dalam hidup berkehidupan, sesungguhnya banyak petuah petuah kearifan lokal yang dapat di jadikan sebagai pedoman dalam hidup ini.
Suatu hari, waktu itu di SD saya tidak juara satu di Kelas, aku terima rapor nangis, nenek saya di rumah memotivasiku bahwa rangking satu itu hanya capain sementara yang utama belajar sebanyak banyak.
Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai, itu kata pelaut Bugis Makassar, tetapi di Soppeng tidak ada laut nenek, ia memang tidak ada tetapi di dunia ini lautan lebih luas daripada daratan nak kamu harus pegang itu prinsip hidup jangan pernah mundur seinci kalau kamu sudah niatkan tentang sesuatu termasuk menuntut ilmu. Puluhan tahun kutinggalkan kampung ku ini lato Basse yang bijak pun tinggal pusara, di belakang rumah.
cukup berdialog imajinir liarku, semua paddissengeng tentang kewaranian sebagai cucu lelaki masih butuh di kaji ulang duniamu dulu tidak seindah sekarang, kejam dan teknologi jadi terdepan.
Lato tidak apa apa kita mundur bshlan kalau perlu biduk jangan di berangkatkan dulu kalau cuaca sangat ekstrem , kita bisa tunggu cuaca baik dan bersahabat baru berangkat. Agar dapat selamat sampai tujuan. Jangan tiba masa tiba akal.
Imajienier tetap berlanjut giliran aku yang diam jadi pendengarnya Lato Basse, H.Achmad Slamat, Hj.Binti Usman, H.Muhammadiyah, Hj.Katuo.mereka bergantian menasehatiku.
Anak ku kehidupan itu seperti Anak Panah,
Dimundurkan Untuk Melesat Ke Depan.
Pernahkah kamu melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat bahkan lenyap dari peredaran?
Pernahkan kamu melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah kau lihat (atau bahkan dirimu sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak hasil?
.
Kita seperti anak panah di tangan Allah..! Ada masa-masa anak panah itu melesat cepat terlepas dari busurnya menuju sasaran yang dimaksudkan
Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam kantong-Nya. Namun di saat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam busur-Nya ditarik kebelakang.. Sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran
Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh. Semakin panjang rentang busur menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat
Jadi
Jika kau seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah : Mungkin Allah tengah meletakkanmu di busur-Nya. Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat kau dilepaskan, kau memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran. Dan jika kau melihat seorang teman seperti tengah mengalami kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan “Apinya telah padam” atau.. “Jangan-jangan dia ada dosa..”
.
Jadilah teman yang baik, yang mendampingi di saat temanmu sedang “dimundurkan” karena dengan demikian kau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai
Kamu, aku, dia, mereka, kita… adalah anak-anak panah ditangan Allah..! Hidup untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan
Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah tekun dalam kebenaran, dan senantiasa ISTIQOMAH dan tetaplah berdoa memohon kepada Allah, niscaya Allah akan memberi lebih dari yg kita mohon.
Ada masa dimana:
Kujawab imajinernya tentang kondisi ku sekarang :
Mataku lelah untuk melihat dunia
Tangan lelah untuk menulis
Kaki lelah untuk berjalan
Telinga lelah untuk mendengar
Mulut lelah untuk berbicara
Otak lelah untuk berfikir
Dan, hati lelah untuk mencintai
Aku masih ada asa untuk berdiri tegak semangatku masih berapi api untuk menjaga marwah dan kewibawaan keluarga, aku tetap berlayar dan tdk akan surut ke pantai, anak panahku dari dulu sudah kubidik menuju titik bidikan kesuksesan.
Ditulis di atas pusara orang orang hebatku waktu perahuku mulai dirakit dan yang memberi panah beserta busurnya walaupun tidak melihat perahuku sudah jadi kapal pesiar yang menampung keluarga besar kita dan busur panahku berujung berlian dan permata telah tertancap tepat di fokus akademis, bukan di politik. Maha terpelajar dan maha guru besar Professor akan ku persembahkan untuk kalian.
Imajinir ini kuakhiri dengan tetesan air bening yang tak tertahan, aku sehay kalau di kampung tapi panahku tertancap di jantung peradaban ilmu pengetahuan, Aku akan bergerak terus saatnya cikar kanan kembali mengabdi tiada batas di Universitas Kehidupan.
Cennoe, Soppeng 4 Oktober 2021
Salamaqi to padasalamaq
Pura babbara sompekku, pura tangkisi golikku, ulebbirenni tellennge nato’walie (layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali)
Filosofi Bugis.

Sudirman Muhammadiyah
