Oleh ; Gusnawati Lukman
Rasti adalah seorang penulis dan sekaligus diberi tugas sebagai editor di salah satu komunitas menulis. Orangnya supel,luwes, sederhana dengan tubuh yang agak bonsor. Katanya sih dia selalu diet ,tapi nggak berhasil-berhasil ( ngemil terus sih..he..he..he ). Tapi terkadang juga terlihat cantik loh. Mau bukti ? Ketemu sendiri dong orangnya.
Sebagai seorang editor yang tiap hari menerima kiriman tulisan dari para penulis-penulis kreatif, Rasti selalu sibuk hingga kadang tidak sempat lagi menuliskan semua ide-ide yang memenuhi kepalanya. Begitu banyak hal yang ingin ia tuangkan menjadi sebuah karya nyata. Tapi tak apalah, toh ia juga mendapatkan banyak ilmu dari tulisan sahabat-sahabatnya yang selalu ia baca lalu diterbitkan.
Rasti mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari tugasnya sebagai seorang editor. Dia bisa mengenal karakter penulis dari genre tulisan mereka. Dari kiriman tulisan yang biasa-biasa saja sampai tulisan yang isinya terkadang mengaduk-aduk perasaannya sebagai seorang perempuan. Kisah inspiratif para wanita yang berjuang mempertahankan hidup dan kehidupan keluarganya, berjuang sendiri, menderita sendiri dan bangkit melawan keterpurukan yang dialaminya. Menjadi seorang yang mandiri,kuat,tangguh dan bertanggung jawab. Semua itu membuatnya kadang termenung, larut dengan pikiran yang berkecamuk di benaknya. Kadang dia menangis ketika membaca karya-karya inspiratif mereka. Perjuangan yang luar biasa dan tidak mengenal lelah. Kehidupan yang terkadang tidak selalu berpihak kepada mereka. Keras, terjal dan berliku. Kemampuan mereka untuk bertahan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Nah, ini hal yang berbeda lagi. Ketika dia menerima tulisan berupa puisi- puisi yang isinya selalu tentang perasaan rindu yang dialami penulisnya, Rasti berubah jadi cengeng. Dia suka nangis, berdiam diri seakan-akan perasaan itu juga menderanya. Bahasa rindu yang luar biasa dari seorang yang terpisahkan jarak , yang tidak dapat mengungkapkan isi hati masing-masing karena hambatan yang selalu menghadang di depan mata. Sepasang jiwa yang hanya bisa berharap pada satu asa, entah untuk bersama, atau hanya akan mengulang luka. Mereka merasakan rindu sebagai sebuah monster yang seram.
Ketika penulis merindu, maka pada saat itulah semua objek menjadi aksara-aksara yang indah penuh makna. Gambaran diri kekasih hati dambaan jiwa ,semua menjadi diksi-diksi indah yang tak berujung. Namanya yang selalu tereja bersama hati yang membuncah oleh kerinduan, dan lidah kadang keluh ketika ingin mengungkapkannya.
Wahai hati yang terkadang tidak bisa bersahabat dengan rasa, bersabarlah barang sejenak. Aku menunggu kekasihku. Aku adalah tujuannya ketika pulang. Aku adalah sebuah rindu yang akan mendekapnya, tanpa melepaskan lagi.
Bahasa kerinduan yang tak berujung,kadang mengulik kembali rasa yang dimiliki Rasti. Hatinya yang selalu merindu, membuatnya jadi wanita yang cengeng.
Mungkin Rasti akan melakukan hal yang sama dengan penulis-penulis yang memiliki kerinduan yang tak berujung dan lidah enggan berucap, yaitu menuliskan segala rasanya dengan pena yang tidak akan pernah kering membuat goresan-goresan terindah yang lahir dari semua hati yang selalu merindu.
Ah, jadi penulis dan editor kok cengeng. Semangat Rasti. Karya-karyamu selalu ditunggu.
Watansoppeng, 2 Oktober 2021
