Sudah menjadi rahasia umum bahwa Arsiparis itu diamanahkan kepada seorang Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan kearsipan pada instansi pemerintah maupun swasta.

Kita juga tahu bahwa Jabatan Fungsional Arsiparis dikategorikan menjadi dua. Yakni kategori terampil dan arsiparis kategori keahlian, tentunya keduanya jabatan fungsional menggiurkan yang menjanjikan kesuksesan karir.

Sementara kegiatan kearsipan adalah kegiatan yang berkenaan dengan arsip. Terlepas dari hasil kegiatan kearsipan dan cerita sukses para Pejabat Fungsional Arsiparis dimanapun berada, terdapat kondisi kesehatan mengancam jiwa para Arsiparis dan itu terlupakan dari rapat virtual maupun tatap muka, dimana ada kondisi fisik tak kasat mata, tidak normal para Arsiparis yang bekerja di Kementerian Lembaga Pemerintah/Swasta baik di Pusat maupun di Daerah, yakni mereka yang mengidap penyakit kanker paru, serangan jantung dan gangguan saluran pernafasan alias asma, yang disebabkan kerap menghirup partikel-partkel debu.

Kondisi seperti ini sangat vital bagi kesehatan seorang Arsiparis dan profesi sejenisnya, namun jarang terendus publik, pasalnya para Arsiparis akrab dikenal ‘pejuang memori bangsa’ ini memilih bungkam demi mendukung penyelesaian pekerjaan, upaya tindakan perlindungan, pengamanan, dan mencegah dari kerusakan ataupun kehilangan arsip. Oleh karena itu, siapa pun baik pejabat atau pelaksana yang merusak, menghilangkan, mengabaikan keselamatan, kerahasiaan, dan menyalahgunakan arsip tentunya dikenakan sanksi hukum.

Terlepas dari itu semua Arsiparis juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Kesehatan seorang Arsiparis sebagian besar terkait kebiasaan berjibaku dengan debu-debu arsip lama yang tersimpan puluhan tahun lamanya. Namun tidak demikian di ANRI selaku induknya Arsiparis. Mulai sarana dan prasarana di Arsip Nasional hingga kesehatan pegawainya terpenuhi.

Cerita sedih pengelola arsip tidak pernah menguap dipermukaan, sebab para pejuang memori bangsa ini enggan mengungkapnya, aksi heroik ini demi menjaga kerahasiaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari sentimentil pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Terkait dengan persoalan tadi, hal ini sangat beralasan untuk mewaspadai adanya kondisi lingkungan kerja di Kearsipan, khususnya pengelolaan Arsip Inaktif yang usianya belasan hingga puluhan tahun, tentu kondisi ini sangat tidak sehat. Sebuah kondisi umum yang sebetulnya bisa sangat berbahaya di dalam gedung Arsip adalah adanya tumpukan atau kertas di rak-rak yang tidak bisa diolah seorang Arsiparis dalam jangka waktu singkat, butuh proses panjang dan lama.

Secara awam, pemusnahan Arsip-Arsip usang itu mudah banget, cukup dengan dibakar sampai berdebu atau direndam dalam cairan kimia selesai urusan, kan sudah diaudit mau cari apa lagi, justru yang membuat berbelit-belit itu dari sisi regulasi yang harus dipatuhi oleh ASN, khususnya Arsiparis ketika akan melakukan pemusnahan.

Pada permukaan kertas maupun tumpukan buku yang disimpan lama tanpa tersentuh tangan para Arsiparis yang disebut pejuang memori bangsa terlihat adanya lapisan debu-debu tipis, biasanya berwarna hitam, dan sebagian ada yang masuk ke permukaan bagian dalam kertas. Ketika sebuah Arsip dibuka satu persatu, timbulah cairan udara yang debunya terhirup hidung, secara langsung ke hidung bahkan menginap disela-sela kuku para Arsiparis maupun pengelola Arsip, sehingga sering terasa adanya bau khas debu kertas. Nah, apabila ini dibiarkan berlarut-larut akan mengancam jiwa manusia, yaitu si Arsiparis itu sendiri.

Kasus masuknya debu kertas berupa arsip-arsip lama ke dalam tubuh manusia merupakan kasus unik yang mungkin jarang terjadi pada debu-debu yang menempel pada permukaan benda selain kertas usang itu.

Uraian ini terkesan absorb, abu-abu, ngayal, ora memper babar blas. Monggo terserah simpulannya, yang jelas permasalahan kesehatan mental maupun rohani seorang Arsiparis, bahwa segala problematika bagaimana peran arsiparis dalam pengelolaan arsip dan informasi, serta realita hidup yang menimpa profesi arsiparis. Karena arsiparislah yang bersentuhan langsung dengan arsip.

Terlepas dari itu semua, tak terasa Kemerdekaan Republik Indonesia memasuki usianya ke 77 tahun, mengusung tema “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”, semoga!.

(Visited 32 times, 1 visits today)
2 thoughts on “Dibalik Kesuksesan, Ada Kondisi Kesehatan yang Mengancam Jiwa Arsiparis”
    1. Iya Bunda Pipiet, saya dulu seorang Arsiparis, tapi karena di mutasi ke Bidang Perpustakaan, akhirnya beralih profesi jadi Pustakawan. Benar, Arsiparis memang cukup berisiko tugasnya. Tapi pustakawan pun yang mengelola buku tua, sama resikonya. Dulu di kantor Arsip, sebelum Otonomi Daerah, staf bidang kearsipan di jamin makanannya, setiap hari disiapkan minum susu, dan setiap jumat makan bubur kacang ijo. Juga selalu disediakan multi vitamin untuk para staf, dan bukan hanya Arsiparis. Dulu seingat saya, kalau kita akan mengolah arsip inaktif atau statis, biasanya kita diwajibkan pake masker, dan baju lab (yg mirip jubah), untuk mengurangi risiko debu2 arsip. Dan saya yakin sampai sekarang di kantor unit Kearsipan masih seperti itu. Mungkin Arsiparis yg di OPD juga seharusnya seperti itu, tp biasanya di OPD hanya mengelola arsip2 aktif atau inaktif, yg relatif masih baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: