Silaturahmi Nasional (Silatnas) dan Musyawarah Komisariat (Muskom) Fakultas Sastra Universitas Muslim Indoensia (UMI) Makassar digelar selama dua hari di penghujung Mei 2026 di Auditorium Al Jibra Kampus UMI Makassar. Fakultas Sastra UMI, sekarang telah berubah nomenklatur menjadi Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan. Disingkat FSIKP.

Melalui Muskom ini terpilih ketua Ikatan Alumni (IKA) FSIKP UMI yang baru untuk periode 2026-2031. Yaitu Direktur Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Budpar Ekraf) IKN, Dr Muhsin Palinrungi SS MA yang juga alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UMI angkatan 1993, menggantikan Dr Abdollah MM MPd yang memimpin organisasi ini selama 2 periode.

Muhsin, mantan Kepala Bappeda Kabupaten Paser Kalimantan Timur, berhasil mengungguli tiga calon lain yaitu Direktur Bina Peningkatan Produktivitas di Kementerian Tenaga Kerja RI, Muhammad Ali Hapsah SS MA PhD, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Bontang H Lukman SS MSi, dan Dosen FSKIP UMI Makassar sekaligus penulis buku-buku bahasa dan sastra Indonesia Dr Kasma F Amin SS MPd.

Di luar dari jalannya Muskom yang alot dan demokratis namun tetap dibalut dengan rasa kekeluargaan, ada tujuan lain yang ingin dicapai oleh para alumni yang hadir. Yaitu silaturahmi. Tak bisa dipungkiri, ada kerinduan mendalam di antara alumni yang mungkin saja sudah berpisah puluhan tahun lamanya. Dan terima kasih pada Silatnas dan Muskom ini, mereka kembali bertemu meski wajah tak lagi semulus dan penampilan tak lagi se-unyu-unyu dulu.

Persiapan Muskom dimulai sejak beberapa bulan sebelumnya. Komunikasi intensif dilakukan melalui grup WhatsApp. Suasana kekeluargaan mulai terasa di dalam grup, karena ternyata, ada yang sudah lama tak berjumpa tapi tiba-tiba gabung di grup dan bertemu teman lama walau masih di dunia maya.

Dari ruang diskusi grup WA alumni yang riuh rendah, kemudian masing-masing membentuk kelompok kecil grup angkatan dan grup wilayah domisili. Dilanjutkan dengan video call dalam kelompok kecil. Bahkan, ada juga yang sampai ‘nge-room’ berdua melalui Video Call atau Voice Call untuk bisa bercerita lebih spesifik. Menertawai teman yang dulu gagah dan cantik namun sekarang sudah mulai keriput dan peot.

Pembicaraan seputar suasana kuliah dulu, berbaur jadi satu dengan tukar informasi terkait kesibukan sekarang, lalu menanyakan teman lain yang bertahun-tahun hilang dari peredaran seperti ditelan bumi.

Suasana semakin ramai beberapa hari menjelang Muskom. Puncaknya terjadi pada hari H, yaitu Sabtu dan Minggu, 30-31 Mei 2026. Ratusan peserta lintas alumni hadir memenuhi aula. Suasana Muskom memang berjalan tertib. Tapi yang lebih seru, pertemuan, salaman, pelukan, berfoto ria, lalu bertukar cerita.

Banyak yang kelakuannya masih seperti dulu. Atau tepatnya, kembali lagi seperti dulu karena terbawa suasana kuliah. Namun ada juga yang sudah berubah. Berwibawa, jaga image, mengikuti lingkungan yang sekarang.

Tampaknya ruang-ruang diskusi kecil lebih menarik. Di luar suasana Muskom ada kelompok-kelompok kecil. Lalu berlanjut di café-café. Berjam-jam, cerita belum habis. Semakin malam, masih lanjut ke tempat lain. Juga pada hari kedua yang diisi dengan jalan sehat, senam bersama dan penutupan.

Penutupan Muskom dan para alumni kembali ke kesibukan masing-masing bukan mengakhiri silaturahmi itu. Ada pekerjaan rumah besar yang dibawa pulang masing-masing alumni. Dari diskusi-diskusi kecil, muncul berbagai ide. Juga pertanyaan besar, akan jadi apa nanti IKA FSIKP UMI ke depan. 

Alumni, yang kini telah bertransformasi dalam berbagai aspek kehidupan, adalah senjata utama untuk membuat peran IKA lebih baik untuk membesarkan nama organisasi sekaligus berbuat lebih baik bagi almamater. Tak bisa dipungkiri, ada rasa bangga setiap individu yang bisa berbuat bagi kampus meskipun dalam skala kecil.

Keragaman latar belakang sosial para alumni adalah potensi yang harus dimaksimalkan oleh IKA FSIKP UMI. Pengurus IKA boleh terbatas dalam jumlah personil, tapi partisipasi adalah kewajiban setiap alumnus. Karena itu setelah kepengurusan IKA terbentuk, salah satu program kerja yang harus dilakukan adalah re-inventarisasi alumni yang sudah tersebar di berbagai belahan bumi. Memanggil mereka ‘pulang’ ke pangkuan FSIKP.

Banyak yang bisa dilakukan. Seperti berperan sebagai penghubung dunia pendidikan tinggi dan dunia usaha, penggerak jaringan, promosi almamater dan membangun reputasi fakultas dan kampus di masyarakat. Sesuai dengan tema Muskom FSIKP UMI yaitu terhubung, berkarya, berdampak, beberapa peran nyata alumni bisa dijabarkan di bawah ini.

Pertama, diberdayakan sebagai pembuka jalan bagi mahasiswa agar lebih dekat dengan dunia kerja. Kesenjangan antara teori akademik dan praktik di dunia kerja bisa dijembatani dalam bentuk magang, atau kunjungan singkat. Mahasiswa bisa menerapkan ilmu secara langsung, belajar soft skill seperti komunikasi dan kerja sama tim, perluas jaringan, bahkan bisa membuktikan kompetensi mereka, yang ujung-ujungnya bisa ditawari pekerjaan setelah lulus kuliah.

Kedua, mengenalkan mahasiswa dengan kalangan profesional dalam membangun koneksi dan lowongan kerja. Mungkin alumni tidak bisa memberikan pekerjaan secara langsung, tapi bisa mengenalkan kepada kolega atau rekan di dunia kerja yang lebih luas. Teach how to fish, do not give them fish. Ajari memancing ikan, bukan memberi ikan.

Ketiga, sebagai mentor dan inspirator. Melalui IKA FSIKP, alumni mengambil peran sebagai pembimbing atau penasihat, pembicara di seminar, role model yang berbagi pengetahuan dan pengalaman praktis, senior yang membentuk karakter dan kesiapan mental sebagai persiapan memasuki dunia kerja.

Keempat, membantu almamater dalam pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi. Perkembangan zaman dan tuntutan dunia kerja menuntut inovasi dari tenaga pendidik di kampus. Selain itu alumni juga harus bisa berbagi pengalaman dengan kontribusi ide, gagasan dan pemikiran, evaluasi kurikulum, atau praktisi mengajar seperti dosen tamu. Ini penting agar ilmu yang dipelajari mahasiswa sesuai dengan kebutuhan dunia kerja di zaman milenial.

Kelima, memberi pemahaman kepada mahasiswa bahwa kuliah tidak sekadar mengejar nilai sempurna di ijazah. Baru-baru ini Menteri Ketenagakerjaan RI Yassierli menyebut ijazah akademik bukan lagi jaminan tunggal untuk memenangkan persaingan di pasar kerja global yang terdisrupsi oleh Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence(AI). 

Kini, lulusan perguruan tinggi harus siap triple readiness atau tiga pilar kesiapan. Yaitu technical skill meliputi keterampilan digital, human skill yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis, empati dan kepemimpinan, dan market entry, yang diterjemahkan sebagai kesiapan lulusan memahami dinamika industri melalui portofolio yang kuat, pengalaman magang serta sertifikasi kompetensi.

Lalu, apakah semua ini bisa dipenuhi oleh IKA FSIKP UMI yang baru di bawah kepemimpinan sang Direktur Ibu Kota Nusantara (IKN). Hanya waktu yang bisa menjawab. Allah Al-‘Alim yang mengatur segalanya. 

(AKS, Sastra Inggris UMI Anggatan 1996)

Makassar, 1 Juni 2026

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.