Jauh di relung hati, apa yang aku lakukan setiap hari di sekolah bukan hanya 2×2=4 atau 4+5 =9, tapi bagaimana menularkan konsistensi dari apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan. Selain itu kita juga harus punya kemampuan yang baik dalam mengajar dan mendidik, serta sepenuh hati memberikan apa yang kita punyai terhadap anak-anak didik.

Aku belum lama mengajar di suatu sekolah dasar, namun semangat yang selalu ada di setiap pertemuan dengan anak-anak membuatku tak pernah hilang arah pikir dalam memberikan pemahaman pada peserta didik. Mereka bukan hanya paham, tapi bagiku harus mendalam. Karena sejatinya seorang siswa yang hanya mengerti namun tidak paham, bagaikan merasakan sayur namun tidak sampai pada rasanya. Jika seorang siswa mengerti dan paham namun tidak mendalam, terkadang di kehidupan nyata pola pikirnya kurang komprehensif dan terkadang terkesan dangkal.

Mendidik itu seni, di mana bukan hanya kepintaran otak yang dimainkan, tetapi juga bagaimana roh, desire (hasrat), sign of feelling (tanda perasaan), dan estetika perlu disatupadukan dalam proses pemberian pembelajaran dan pendidikan. Banyak siswa yang merasa bosan karena guru/pendidik terlalu monoton dalam menyampaikan gagasan. Banyak juga siswa yang merasa takut karena pendidik terlalu keras/terlalu kaku terhadap gerak gerik siswa di dalam pembelajaran.

Saat siswa/peserta didik sudah mampu memahami konsep dan konteks materi pembelajaran, maka kita sebagai seorang pendidik harus mampu menularkan integritas, kemampuan, dan dedikasi pada mereka. Untuk apa? Ya, tentunya kita menginginkan keberlanjutan. Keberlanjutan dari suatu siklus pendidikan, di mana tercipta dari suatu kebiasaan yang baik, menjadi karakter, dari karakter akan menjadi jati diri peserta didik di masa depan.

Memiliki integritas, kemampuan, dan dedikasi adalah modal dasar/pondasi seorang pendidik, dan ini penting. Mari kita bayangkan 10 tahun yang akan datang tercipta generasi-generasi unggul dari hasil pendidikan yang menjadi siklus keberlanjutan, menjadi system pendidikan yang terpadu, bukankah hasilnya sangat gemilang?. Harapan Indonesia dengan generasi unggul akan terwujud. Kita tidak mencontoh negara lain, tapi negara lain yang mencontoh kita. Hal ini bukan hanya bisa terjadi, tapi sangat bisa terjadi. Catatannya adalah kokoh di dalam sikap. Sikap yang seperti apa? Integritas, mampu, dan dedikasi adalah jawabannya.

Sebagai kaum yang lahir di era mendekati 90-an, aku merasa perlu untuk menanamkan dan menularkan hal-hal positif. Sikap disiplin orang zaman dahulu dan sikap kritis orang zaman sekarang, menjadi perpaduan yang epik dalam menciptakan generasi unggul yang dilandasi integritas, kemampuan, dan dedikasi tersebut. Untuk itu, perlu rasanya membuat karya-karya yang bertajuk kematangan sikap yang disertai dengan contoh nyata, baik secara individu, teman sejawat, maupun lintas bidang atau lintas generasi. Semua itu menjadi usaha-usaha kita sebagai seorang pendidik dalam rangka lagi dan lagi menciptakan generasi unggul. Sehingga setiap kali peringatan hardiknas (hari pendidikan nasional) bukan hanya euphoria yang terjadi di dunia pendidikan atau sebatas peringatan biasa tetapi syarat makna mendalam dan ada wujud nyata yang berbeda di setiap tahunnya, yaitu muncul generasi-generasi unggul berintegritas, mampu, berdedikasi, bahkan berakhlak mulia.

(Visited 1 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Uus Usnawati

Seorang perempuan yang selalu happy, berjuang untuk hidupnya, tak kenal lelah. Panggil saja Uuz happyday atau Miss Happy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.