Kata ‘resensi’ yang kita gunakan di Indonesia berasal dari bahasa Belanda yaitu ‘recentie’ yang dalam bahasa Indonesia kadang berpadanan kata dengan ‘bedah buku’. ‘tinjauan buku’ dan ada media cetak yang menggunakan ‘timbangan buku’. Kalau dalam bahasa Inggris, lebih dikenal dengan nama ‘book review’. Secara ringkas, Sudaryanto dalam bukunya ‘Ayo Meresensi Buku (2008)’ mendefinisikan Resensi Buku sebagai “suatu tulisan yang berisi pendapat dari pembaca buku tentang kelebihan dan kekurangan sebuah buku”.
Apa saja yang bisa diresensi? Selain buku yang biasa ditulis resensinya adalah film, kaset dan CD musik. Pada tulisan ringkas ini, kita fokus saja pada resensi buku. Buku yang biasa di buatkan resensinya selain buku fiksi (novel, drama dan lain lain) juga buku buku non-fiksi.

Masa masa kejayaan media cetak sampai tahun 2010an, dan sekarang diera digital, semakin berkurang. Pada media cetak dulu seperti mjalah, surat kabar, tabloid dan buletin, kita sering membaca kolom resensi buku. Seiring perkembangan zaman sekarang ini, resensi dapat ditemukan di media media daring (online). Kemudahan akses informasi melalui internet, membuat banyak pembaca yang membuat resensi buku. Bahkan ada tenaga profesi atau jabatan fungsional ASN (aparatur sipil negara) yang salah satu tugasnya adalah membuat resensi buku, yaitu jabatan fungsional Pustakawan.
Sebenarnya menulis resensi adalah pekerjaan yang gampang gampang susah. Kalau kita rajin membaca buku dan benar benar memahami isi buku yang kita baca, maka dengan mudah kita bisa tulis resensinya. Sementara itu, bagi orang yang malas membaca, membaca tapi tidak memahami isi buku yang dibacanya, maka akan susah membuat resensinya. Apalagi membuat resensi buku itu, harus obyektif dan apa adanya.
Tenaga fungsional Pustakawan, terutama yang jenjang Pustakawan Ahli Madya, salah satu tugasnya adalah membuat resensi. Pada Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia No. 6 Tahun 2023 Tentang Standar Kualitas Hasil Kerja dan Pedoman Penilaian Kualitas Hasil Kerja Pustakawan, pada poin ke-20, halaman 117 disebutkan bahwa ‘Membuat resensi bahan perpustakaan yang dipublikasikan adalah kegiatan membuat ulasan dan penilaian terhadap isi buku koleksi/bahan perpustakaaan yang diterbitkan dengan tujuan untuk memberikan informasi tentang kelebihan dan kelemahan buku tersebut. Satuan hasil kerjanya adalah Naskah, dan harus dipublikasikan, baik lewat media cetak maupun media daring.

Pada dasarnya resensi buku itu terbagi menjadi beberapa bagian. Yang pertama adalah judul resensi, nama penulis resensi, data buku yang diresensi misalnya judul, pengarang/penulis, penerjemah (kalau ada), editor (penyunting), penerbit, tahun dan tempat terbit, fisik buku (jumlah halaman, panjang x lebar dalam cm, bergambar atau tidak), No. ISBN. Judul resensi tidak perlu sama degan judul buku. Pada bagian utama resensi buku terdiri dari 3 bagian utama, yaitu pendahuluan, yang berisi ringkasan buku, atau bisa juga pengenalan penulis atau pengarang buku, kemudian isi buku yang menguraikan urutan penulisan, atau struktur penulisan dan analisis kelebihan dan kekurangan / kelemahan buku tersebut. Bagian terakhir penutup bisa dibuatkan kesimpulan, atau bisa juga rekomendasi tentang apa yang perlu dilakukan pembaca setelah membaca buku tersebut.
Tentang kelebihan suatu buku, dapat diuraikan kelengkapan pembahasannya, keluasan topiknya, penggunaan bahasanya yang mudah dipahami, adanya indeks yang memudahkan pembaca mencari topik tertentu, adanya daftar pustaka yang bisa menambah bahan rujukan bagi pembacanya, dan lain lain. Sedangkan kekurangan atau kelemahan buku, misalnya, topiknya terlalu meluas, melampaui judul bukunya, bahasanya yang terlalu akademis dan penuh istilah ilmiah, tidak adanya illustrasi gambar, foto, diagram, sketsa dalam buku itu, atau foto dan gambar yang ada buram dan tidak jelas, banyaknya typo (atau salah ketik), isi bukunya sudah usang (terutama buku yang mengupas tekologi). Bahkan kondisi fisik buku juga bisa di sebutkan, misalnya ada halaman yang hilang dan lain lain.
Contoh resensi buku yang pernah saya tulis adalah buku tentang kuliner tradisional Sulawesi Selatan. Kelebihan buku tersebut adalah cakupan resep tradisional sangat luas, terdiri dari resep resep masakan 4 suku atau etnis utama di Sulawesi Selatan yaitu Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Resep resep makanan jaman dulu juga ada. Kekurangannya, adalah buku tersebut tanpa adanya gambar atau foto satupun. Buku resep masakan tanpa foto sangat tidak menarik bagi pembaca. Buku tersebut juga sudah lama tidak terbit sehingga menyulitkan pembaca untuk memilikinya. Bahkan di perpustakaan pun tidak semua memilikinya karena terbitan lama dan langka.
Kesimpulannya adalah, kita bisa menuliskan resensi buku yang kita baca, baik buku fiksi maupun non-fiksi, membaca dan memahami seluruh isi buku, meringkas isi bukunya, menganalisis kelebihan dan kekurangannya dan kemudian menuliskannya dalam bentuk resensi buku yang bermanfaat bagi pembaca lain. Selamat menulis Resensi buku !

