Oleh Besse Risma
Ada pertemuan yang tidak pernah terjadi dalam ruang dan waktu, tetapi terasa begitu dekat dalam rasa. Begitulah aku mengenalnya sosok Dr. Sudirman Muhammadiyah, M.Si yang akrab kusapa Bang SDM. Kami tidak pernah berjabat tangan, tidak pernah duduk dalam satu forum, bahkan tidak pernah saling menatap secara langsung. Namun, melalui barisan kata-kata yang ia tuliskan, aku merasa telah berjalan bersamanya dalam banyak perjalanan pemikiran.
Bang SDM adalah akademisi yang setia menyalakan cahaya melalui tulisan. Hampir setiap waktu, ia membagikan karya-karya kajian akademiknya, tajam dalam analisis, dan kaya referensi. Bagiku, tulisannya bukan sekadar bacaan, melainkan jembatan ilmu. Banyak di antaranya yang menjadi rujukan dalam pekerjaanku, menguatkan argumen, memperkaya sudut pandang, dan membimbingku memahami dunia pendidikan dengan lebih dalam. Ia mengajarkan tanpa pernah merasa menggurui.
Bukan hanya tulisan kajian akademik yang ia hadirkan. Di sela kesibukannya, ia juga menuliskan narasi-narasi inspiratif yang menyentuh hati. Kata-katanya sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam. Ia seolah memahami bahwa ilmu saja tidak cukup, manusia juga membutuhkan sentuhan jiwa.
Kepergiannya terasa seperti kehilangan arah bagi banyak orang yang diam-diam bertumbuh dari tulisannya termasuk aku salah satunya. Ada ruang yang tiba-tiba kosong, notifikasi yang tak lagi muncul, dan tulisan-tulisan baru di website Bengkel Narasi Indonesia yang tak lagi dinanti. Namun, di balik itu semua, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar pergi yaitu jejaknya.
Karya-karya Bang SDM akan tetap hidup. Ia telah meninggalkan warisan yang tidak lekang oleh waktu yaitu ilmu yang terus mengalir, yang menginspirasi, terus tumbuh, dan semangat berbagi yang terus menyala dalam diri orang-orang yang pernah disentuhnya. Mungkin raganya telah tiada, tetapi pikirannya tetap berbicara melalui setiap tulisan yang ia tinggalkan.
Selamat jalan, Bapak Dr Sudirman Muhammadiyah, M.Si.Terima Kasih telah menjadi cahaya bagi kami yang belajar dalam diam. Karyamu abadi, dan namamu akan selalu hidup dalam setiap kata yang kami baca dan tulis. Benar kata orang bijak, “Penulis tidak ada matinya, karena ia akan hidup berkali-kali setiap karyanya dibaca oleh orang lain”. Inilah yang dimaksud jejak yang tidak pernah pergi.
“Bengkel Narasi Indonesia Kolaka Utara”
