Oleh: Gusnawati, S.Pd.,M.Pd.,
Aku masih di sini, berdiri di antara lelah yang sering datang diam-diam dan harapan yang terus kupelihara. Hidup telah membawaku melalui banyak peran: sebagai seorang ibu, seorang guru, dan seorang pembelajar yang tak pernah benar-benar selesai. Tidak semua hari terasa mudah, tetapi setiap hari selalu memberiku alasan untuk tetap melangkah.
Aku masih di sini, meski tubuhku tak lagi sekuat dulu. Ada hari-hari ketika rasa sakit datang tanpa aba-aba, ketika lelah bukan hanya singgah di raga, tetapi juga menetap di hati. Kesehatan yang kian tak stabil sering memaksa berhenti sejenak, menyadarkanku bahwa aku bukan lagi sosok yang bisa memaksakan segalanya seperti dahulu. Bolak balik tempat praktik dokter ahli jantung, kontrol di rumah sakit, antrian lama kadang membuat tubuh semakin lelah. Namun, dalam diam aku belajar menerima bahwa batasan juga bagian dari kehidupan.
Kemarin waktu perayaan Hari Guru Nasional tidak sempat lagi menerima penghargaan dari pemerintah Kabupaten Soppeng di podium kehormatan sebagai seorang inovator dengan beberapa inovasi yang sudah diakui daerah karena sudah ada di IGD menahan sakit yang tak tertahankan lagi. Begitulah, ada masa ketika harapan untuk terus bertumbuh terasa begitu jauh. Sakit yang berulang membuatku mempertanyakan banyak hal: tentang waktu, tentang rencana, tentang mimpi-mimpi yang dulu begitu berani kurajut. Dengan kondisi diri yang sudah seperti ini, kadang rasa optimis itu pudar.
Sebagai seorang ibu, kekuatanku sering kembali ketika mengingat anakku yang kini sedang berada di tahap akhir perkuliahannya di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Makassar. Melihat perjuangannya menyelesaikan skripsi di tengah tekanan dan kecemasan membuatku belajar kembali tentang keteguhan. Aku sering memikirkan bagaimana masa depan dia kelak. Aku ingin memberikan kehidupan yang lebih baik kepadanya walaupun itu semua tergantung dari usaha dan ketekunannya menjalani semua alur hidup ini.
Aku masih di sini juga karena panggilanku sebagai guru. Di tengah kondisi fisik yang tidak selalu ramah, aku tetap melangkah mengikuti lomba-lomba dan berbagai kegiatan guru lainnya. Bukan untuk membuktikan bahwa diri ini hebat, ingin mendapatkan puji-pujian dari semua orang, tetapi untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku masih mampu memberi makna. Prestasi-prestasi itu lahir dari proses yang sunyi, dari doa-doa yang dipanjatkan. Setiap penghargaan yang aku raih adalah bonus dari keberanian untuk mencoba, jatuh, lalu bangkit kembali dengan ide-ide yang lebih segar.
Sebagai seorang guru di SMP Negeri 1 Watansoppeng, harapanku sederhana namun dalam. Aku berharap anak-anak didikku tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berempati, dan berani menghadapi hidup apa adanya. Harapanku sederhana namun dalam. Aku ingin juga anak-anak tumbuh bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter, berani bermimpi, dan percaya pada potensi diri mereka. Aku ingin sekolah menjadi tempat yang aman untuk belajar, gagal, mencoba lagi, dan menemukan jati diri.Untuk rekan sejawat, aku berharap kita saling menopang, memahami bahwa setiap guru membawa cerita dan perjuangannya masing-masing, dan bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan yang nyata.
Aku ingin tetap menjadi pribadi yang tangguh, kuat, cerdas, menjadi kekuatan dan inspirasi yang akan aku perlihatkan pada anak-anakku di Komunitas Literasi Menulis Pena Anak Indonesia. Banyak hal yang ingin aku lanjutkan dan perbaiki agar eksistensinya tidak pudar, lenyap, tanpa ada bekas. Mereka adalah kumpulan anak-anak cerdas,kuat,tangguh, hebat, dan berprestasi. Aku sangat bangga membersamai mereka dalam komunitas yang bukan kaleng-kaleng itu. Di sana aku belajar bahwa menulis bukan hanya tentang kata, tetapi tentang menyelamatkan suara, memberi ruang bagi anak-anak untuk bercerita, bermimpi, dan merasa dihargai. Dari mereka, aku justru sering menemukan alasan untuk tidak menyerah. Aku kadang tidak peduli kelelahan yang menggerogoti fisikku. Aku ingin mereka bertumbuh, menjadi penulis kenamaan dengan karya literasi yang berkualitas, elegan, dan diakui publik. Mereka adalah humas literasi daerah yang berjuang membumikan literasi walaupun jarang yang peduli kepada mereka.
Kini aku mengerti, bertumbuh tidak selalu berarti berlari atau melompat jauh. Kadang bertumbuh berarti tetap tinggal, tetap bernapas, tetap setia pada peran, meski harapan sempat redup. Hari ini, dengan segala kekurangan dan sakit yang masih ada, aku ingin berkata dengan jujur: aku masih di sini. Itu saja sudah cukup. Dari situ, harapan kecil pun perlahan menemukan jalannya kembali.
Hari ini, aku menatap esok dengan hati yang lebih tenang. Harapan mungkin tidak selalu berteriak lantang, tetapi ia setia hadir dalam bentuk kesabaran dan doa. Aku percaya bahwa hari baru selalu memberi kesempatan untuk memulai kembali, meski dari titik yang paling sederhana.
Jika suatu saat aku kembali lelah, aku ingin mengingat satu kalimat ini: aku masih di sini. Masih bernapas, masih belajar, masih berjuang. Selama itu pula, harapan akan selalu punya tempat untuk tumbuh, dan hidup akan selalu layak diperjuangkan.
Watansoppeng, 31 Desember 2025
