MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) adalah sebuah organisasi non profit yang memiliki visi untuk menjadikan masyarakat Indonesia, mensyukuri nikmat dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah menganugerahkan kekayaan alam yang indah dengan menjadikan industri pariwisata sebagai bagian yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari bagi pemerintah, sektor swasta dan masyarakat Indonesia.(masata.or.id)
Wow Hebat Keren.
Hari ini 29/21 kami duduk santai penuh syahdu, di Bantaran Sungai Kelurahan Ranteangin. Duduk berdialog soal “Pengenalan Budaya Kampungku sebagai upaya pelestarian budaya Alam Mekongga”.
Suasana yang begitu sejuk dibawah rindangnya pohon jati, ditemani secangkir coffe buatan seorang sahabat makin menambah kehangatan dalam rasa kekeluargaan semakin erat.
Giat yang diawali dengan kalimat syukur kepada pencipta alam semesta, serta salam kepada sahabat nabi dan salawat kepada Baginda Rasulullah SAW, dipandu oleh MC dengan begitu khidmad.
Berharap, kita tidak melupakan budaya, karena budaya itu harus dilestarikan sebagai suatu nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ungkap Pak Lurah Ranteangin saat membuka acara dialog tersebut.
Budaya adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan akal, juga diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi manusia. Terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan dan karya seni. Sederhananya bahwa budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang, dan diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi.
Pergeseran budaya sangat rentan terjadi, dari masa kemasa!!
Dalam kesempatan berbicara sebagai Narasumber Bunda Rosmawati mengungkapkan bahwa Era Keemasan Imperialisme Digital, menemukan bulan madunya di musim pandemic saat ini.
Sebagai contoh, budaya silaturahmi langsung dengan keluarga dan sahabat saat ini telah diganti dengan menggunakan platform media online.
Pergeseran budaya pada orang tua juga berubah!!
Dulu kalau anak kita menangis, kita menyanyikan sebuah lagu dengan culture yang kita miliki. Saat ini yang terjadi, saat anak kita menangis, yang kita lakukan adalah memberikan mereka HP untuk mereka main game, nonton YouTube atau lain sebaginya, dengan tujuan untuk menyenangkan sang anak. Ungkap Bunda Rosmawati
Beberapa hal telah mengalami pergeseran esensi, hingga saatnya nanti, anak akan menjadi anak-anak anti sosial, tidak ada kepedulian dengan lingkungannya, gampang marah, jiwa dan rasa kemanusiaannya melemah, egois dan mudah tersinggung serta semua serba individualistis.
Lalu apa peran kita sebagai pemuda hari ini?
Generasi muda yang berbudaya perlu menjaga 3 hal pokok. Pertama menggali nilai budaya, kedua mengembangkan nilai budaya dan yang terakhir melestarikan nilai budaya. Kenali nilai-nilai budaya yang berada di lingkungan keluarga kita masing-masing, lalu kembangkan untuk tidak melupakan entitas keaslian budaya tersebut, serta lestarikan dan wariskan secara turun temurun kepada anak dan cucu kita. Ungkap Pak Usman (Sekretaris Lembaga Adat Tamalaki)
Sejatinya bahwa nilai budaya itu adalah cerminan perilaku baik masing-masing yang memberi contoh di lingkungan keluarga maupun tempat tinggal. Hal senada di ungkapkan oleh Lousie Damen dalam bukunya yang berjudul Culture Learning: The Fifth Dimension in the Language Classroom, bahwa budaya mempelajari berbagi pola atau model manusia untuk hidup seperti pola hidup sehari-hari. Pola dan model ini meliputi semua aspek interaksi sosial manusia.
Lalu apa yang perlu kita lakukan untuk menjaga dan mempertahankan budaya yang ada, salah satunya adalah dengan menghadirkan Dialog-dialog Kebudayaan seperti yang dilaksanakan oleh kawan-kawan dari Masata Kolaka Utara ini, sebagai bentuk tindakan preventif sebelum nilai-nilai budaya itu terus hilang dari generasi saat ini.
Selain itu pula, diperlukan suatu tatanan kehidupan dengan pendekatan agama, berdasarkan apa yang disampaikan dalam Al-Qur’an. Maka manusia tinggal memilih mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya berdasarkan petunjuk yang disampaikan dalam Al-Qur’an, dan kebahagiaan akan datang bagi mereka yang menggunakan akalnya dibarengi dengan iman yang dimilikinya. Ungkap Bunda Islamiati
Sejatinya budaya adalah karya manusia sedangkan agama adalah karya Allah. dengan demikian agama bukan budaya dan budaya bukan pula agama, namun keduanya saling berhubungan erat satu sama lain. Olehnya itu mewarnai corak budaya dengan nilai-nilai agama adalah suatu keharusan yang dimiliki oleh generasi masa kini. Sebagai contoh, budaya sipakatau (saling memanusiakan), sipakainge (saling mengingatkan) sipakalebbi (saling menghargai) jika dibaluti dengan agama maka akan menghadirkan suatu tatanan kehidupan yang Madani. Begitu pesan yang coba saya tangkap dari Bunda Islamiati.
Akhir kata, kepada pemilik kebaikan yang terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan berhenti untuk menebar kebaikan dengan menghadirkan kegiatan yang edukatif dan bermanfaat, jalan yang kalian tuju adalah jalan kebaikan, jalan yang diridhoi oleh Allah Swt Tuhan pemilik alam semesta.

Hebat… Sahabat.. Terus jadi inspirasi di daerahnya..
Terimakasih Kak’