Seorang penguasa yang bijak harus mengandalkan apa yang berada di bawah kendalinya sendiri, bukan pada apa yang di bawah kendali orang lain.”

Machiavelli

A. PEMIKIRAN SANG PANGERAN NICCOLŌ MACHIAVELLI

Sebagian orang begitu antipati memandang Machievelli dengan gagasan “menghalalkan segala cara”, La Prince sebuah buku yang menarik untuk dibicarakan.

SEKILAS Niccolò Machiavelli
Niccolo Machiavelli lahir di Firenze pada 3 Mei 1469, dan merupakan anak pasangan jaksa Bernardo di Niccolo Machiavelli dan Bartolomea di Stefano Nelli.

Berasal dari salah satu keluarga terpandang di Firenze, Machiavelli mendapat pendidikan tata bahasa, retorika, dan bahasa Latin.Dalam suratnya kepada teman di 1498, Machiavelli menuliskan khotbah Girolamo Savonarola, seorang biarawan Dominikan yang pindah ke Florence.

Machiavelli begitu tertarik akan metode retorika dan khotbah yang dibawakan oleh Savonarola. kemudian dihukum mati dengan cara digantung pada 24 Mei karena dianggap menyebarkan bidaah. Jenazahnya lalu dibakar di alun-alun.

B. PEMIKIRAN INTI KEKUASAAN

Tercatat dalam bahasa kekuasaan bahwa tidak ada hubungan manusia yang selanggeng dengan hubungan kekuasaan dan secars ekstrim hubungan ini berbarengan dengan sejarah kelahiran manusia.sehingga Machievelli mendarasnya bahwa kekuasaan tak melulu “tahta” tetapi didalamnya ada nilai causalitas yang menjadikan kekuasaan itu. dicari dan diraih.

Karena itu bisa bermakna karena zoon politicon suguhan Plato, atau relasi kekuasaan dengan pengetahuan sebagaimana pikiran Michel Faucault.

Olehnya itu, itu Machievellis pada prinsipnya mem-framing konsep kekuasaan itu seperti membangun gedung dengan fondasi yang kuat, jangan melihat dari indahnya bangunan tapi lihat konstruksinya. Politik tentu juga butuh rekonstruksi agar nilai tetap terjaga, walau memang politik hanya berkisar pada “hitam putih”.

Karenanya, Politik itu nilai, perlu kiranya pikiran politik “hitam putih” diinjeksi agar peradaban politik menemui esensinya. Mungkin sejatinya politik demikian.

C. KEKUASAAN : NEGARA
Bagi Machiavelli, kekuasaan itu identik dengan negara. Negara merupakan simbolisasi tertinggi kekuasaan politik yang sifatnya mencakup semua dan mutlak. Ahmad Suhelmi, (2007)Di dalam sebuah negara kekuasaan itu semakin terlihat pengaruhnya karena negara bisa dikatakan perwujudan dari kekuasaan tersebut.

Dinamika hubungan seorang penguasa, negara, dan rakyat menjadi cerita tersendiri dalam pembahasan mengenai kekuasaan dan negara.

Penting dicatat bahwa seorang penguasa yang bijak haruslah memiliki hal-hal yang disebut Joseph Losco dan Leonard Williams. Hal bijak tersebut yang (1). pertama ialah sebuah kemampuan untuk menjadi buruk sekaligus, baik dicintai maupun ditakuti, sesuai dengan sifat manusia dan binatang yang diterapkan dalam proporsi yang tidak berlebihan dan tumpang tindih satu sama lain. (2). Kedua ialah watak seperti ketegasan, kekejaman, kemandirian, disiplin, dan kontrol diri. Hal yang (3) ketiga adalah sebuah reputasi menyangkut kemurahan hati, pengampun, dapat dipercaya, dan tulus. Machiavelli menasihati seorang penguasa untuk melakukan apapun yang diperlukan, sekalipun yang dilakukan adalah hal yang tercela karena rakyat pada akhirnya hanya peduli dengan hasilnya, yang tidak lain adalah kebaikan bagi negara. Penguasa perlu bertindak sebagai pemimpin yang bertangan besi jika itu yang dapat dilakukan untuk dapat menjaga negara selama perombakan besar-besaran yang memerlukan kekuasaan demokratis banyak orang yang luhur. Joseph Losco dan Leonard Williams, op.cit, (hal 563 )

Penguasa tidak perlu merasa aneh dalam melakukan perbuatan tercela yang dengan itu negara dapat bertahan. Hal ini dikarenakan jika semua tindakan tercela tersebut dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu mencolok maka rakyat atau orang lain bisa saja memandang hal tersebut sebagai sebuah kebaikan.

Dalam suatu keadaan bisa saja sesuatu hal yang baik malah mendatangkan hal buruk bagi negara dan sebaliknya.

Wassalam, demikian Ngopi bareng konsep pemikiran Machiavelli, semoga bermanfaat.
Makassar, 28 Juni 2021

Sudirman Muhammadiyah

REFERENSI RUJUKAN

1). Suhelmi, Ahmad. 2007. Pemikiran Politik Barat : Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat, dan Kekuasaan.Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama


2). Thomson, David. 1986. Political Ideas, diterj. oleh API. Jakarta : Aksara Persada Indonesia

3). Niccolo Machiavelli,”Surat Peringatan(Dedicatory Letter)” dikutip dalam Joseph Losco dan Leonard Williams, Political Theory Classic and Contemporary Readings diterj. oleh Haris Munandar, Jakarta : Grafindo, 2005 hal. 592


4). Max Lerner,”Introduction,” dalam Machiavelli, The Prince and The Discourses, New York : The Modern Library, 1950, hal. xxv

5). Max Lerner,”Introduction,” dikutip dalam Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat : Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat, dan Kekuasaan, Jakarta : Gramedia, 2007, hal. 132

6). Niccolo Machiavelli,”The Prince,” dikutip dalam Losco, loc.cit. hal. 572

7). Noviatri,”Kata Pengantar,” dalam Niccolo Machiavelli, Sang Pangeran diterj. oleh Noviatri, 2010, Jakarta : PT Elex Media Komputindo, hal. 7
8). Niccolo Machiavelli, Sang Pangeran, diterj. oleh Noviatri, 2010, Jakarta : PT Elex Media Komputindo, hal. 57-58

9). Ahmad Suhelmi, 2007, Pemikiran Politik Barat : Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat, dan Kekuasaan, Jakarta : Gramedia, hal. 137

10). Joseph Losco dan Leonard Williams, op.cit, hal 563

(Visited 132 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.