Oleh: Rosmawati

Ada ironi yang terus kita ulang: kita menitipkan anak ke sekolah dengan harapan pulang membawa adab, tapi kita lupa menyalakan lampu adab itu di rumah. Kita menuntut guru mencetak generasi emas, sambil membiarkan waktu anak habis untuk layar yang tidak pernah mengajari mereka tentang tanggung jawab. Kita memperlakukan sekolah seperti tempat laundry. Tempat di mana anak yang kusut bisa kembali rapi hanya dengan membayar SPP.

Padahal mesin cuci terbaik pun akan jebol jika setiap hari dimasuki baju yang nodanya sudah mengeras. Begitu juga sekolah. Guru sehebat apapun akan kelelahan jika setiap pagi harus menghadapi anak yang datang tanpa bekal disiplin dari rumah. Yang tidak paham cara menghormati waktu, tidak terbiasa mendengar sebelum bicara, dan tidak mengerti bahwa kebebasan harus dibayar dengan tanggung jawab.

Rumah adalah madrasah pertama dan utama bukan karena dalil agama semata, tapi karena logika kehidupan. Di sanalah seorang manusia pertama kali belajar bahwa dunia punya aturan. Bahwa jam 5 pagi adalah waktu untuk bangun, bukan untuk lanjut scroll. Bahwa piring kotor harus dicuci, bukan menunggu orang lain. Bahwa kata maaf dan terima kasih bukan basa-basi, tapi fondasi. Jika pelajaran dasar ini bolong, sekolah hanya akan jadi tempat menambal, bukan membangun.

Partisipasi Semesta yang digaungkan Hardiknas 2026 harus kita baca sebagai ajakan pulang. Pulang ke peran. Orang tua berhenti menjadi pelanggan yang komplain ke sekolah, dan mulai menjadi mitra yang ikut berkeringat mendidik. Jika sekolah mengajarkan cara menghitung, rumah harus mengajarkan cara memperhitungkan waktu. Jika sekolah mengajari sains, rumah harus mengajari konsekuensi. Ini bukan tugas tambahan. Ini tugas utama.

Di Bengkel Narasi Indonesia, kami menyebut kesadaran ini sebagai Literasi Waktu. Sebuah literasi yang lebih mendesak dari literasi digital. Karena anak yang tidak bisa membaca jam akan kehilangan arah, sekalipun ia jago membaca kode. Anak yang tidak paham arti menunda akan tumbuh menjadi dewasa yang cerdas nilainya, tapi bangkrut hidupnya. Waktu adalah kurikulum yang tidak tertulis di buku paket, tapi menentukan lulus tidaknya seseorang dalam ujian kehidupan.

Mengembalikan rumah sebagai madrasah berarti mengganti perintah dengan teladan. Mengganti marah dengan dialog. Mengganti ruang keluarga yang sunyi karena semua menunduk ke layar, menjadi ruang yang hidup karena cerita dan tanya jawab. Merdeka Belajar tidak akan pernah lahir dari anak yang di rumahnya dijajah oleh gadget dan dibiarkan tanpa batas. Kemerdekaan berpikir itu dimulai dari kemerdekaan mengatur diri sendiri.

Karena itu, berhentilah berpikir bahwa uang bulanan ke sekolah bisa mencuci semua kekurangan anak. Guru bukan penatu karakter. Mereka adalah arsitek nalar. Tugas mereka merancang cara berpikir, bukan membersihkan lumpur adab yang kita biarkan menumpuk di rumah. Jika kita ingin anak kita disegani di sekolah, pastikan ia berangkat dari rumah dalam keadaan sudah setengah jadi: sudah kenal disiplin, sudah paham hormat, sudah mengerti arti waktu.

Bergerak Bersama bukan sekadar slogan. Ia adalah pembagian peran yang adil. Guru bergerak di kelas, orang tua bergerak di rumah, masyarakat bergerak di lingkungannya. Ketika tiga roda ini berputar serentak, barulah pendidikan Indonesia benar-benar melaju. Bengkel Narasi Indonesia memilih memulai dari roda yang paling dekat: rumah. Mengajak setiap keluarga untuk menghidupkan madrasahnya, dengan mengaktifkan kurikulum yang paling dasar yaitu Literasi Waktu. Sebab bangsa yang besar tidak dibangun di ruang kelas yang mewah, tapi di ruang makan yang menghidupkan dialog, disiplin, dan harapan. Benar kata quote sang penggerak jiwa Ruslan Ismail Mage, “Kembalikan rumah sebagai madrasah pertama dan utama, karena sekolah bukan tempat laundry”.

_Bengkel Narasi Indonesia_

Merawat Nalar, Menggerakkan Bangsa.

(Visited 6 times, 6 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.