Pitulua, September 2018
Cahaya lampu begitu temaram terlihat dalam gelap ditambah heningnya suasana, penuh dengan suasana kekeluargaan dalam bingkai satya dan dharma pramuka.
Coklat muda warna bajunya, merah putih warna kacunya ikat dipinggang baretnya keren merekalah pandu-pandu pramuka masa yg akan datang.
Bau badan belum mandi seharian terasa begitu sesak memenuhi rongga hidung. Mengajak saya sedikit bernostalgia dengan masa lalu, rasa itu pernah terasa begitu hangat dalam waktu cukup lama di kehidupanku dimasa lalu, yappp benar itu rasa yang dulu pernah ada !! Begitu kuyakinkan diriku dengan nostalgia malam itu.
Duduk dibarisan belakang seperti terjadi rotasi waktu masa saat usia masih menjadi seorang peserta didik, bedanya usia saat ini bukan lagi menjadi usia peserta didik. Dimana usia peserta didik Pramuka mulai dari usia 7-25 tahun dan untuk selanjutnya di usiaku yang ke 26 tahun disebut sebagai aggota dewasa, tetap juga dalam konteks peserta didik, tetapi berbeda metode pola pendidikan karakternya.
Pramuka, yahhh pramuka organisasiku, merah putih warna kacuku satya dan dharma pramuka adalah tuntunanku.
Seberes menyelesaikan kegiatan ditenda, semua tertuju kearah panggung hiburan. Malam itu semua larut dengan suasana yang begitu jumawa, memadu kasih antara kerinduan untuk pulang dan kehangatan untuk tiggal, Isyarat dari mata saling bertatap untuk selanjutnya esok akan terpisah jarak tapi tidak terpisah dalam doa. Terjadi diantara kerumunan peserta didik, itulah yang biasa kami sebut sayonara.
Tangisan haru saling sahut menyahut dalam heningnya suasana batin, untuk saling berpisah esok, lagu mungkinkah dari stinky semakin membuat suasana menjadi begitu hening.
Mungkinkah, kita kan terus Bersama, walau terbentang jarak antara kita. Begitu lantunan lagu bertalu talu terus berdendang, biarkan kupeluk erat bayangmu tuk melepaskan semua kerinduanku, begitu bait selanjutnya, juga terus mendayu-dayu menambah kesan yang mendalam.
Suasana poto bersama dibawah cahaya lampu silih berganti diperankan oleh jemari, sebut saja itu selvie !!
Lagu bugis juga menyertai dilantukan oleh seorang lelaki muda, dengan penuh penghayatan layaknya itu cerita hidup, membuat semua orang bertepuk tangan benuh hasrat kekeluargaan.
Akhir Kalimat, semua akan pulang, kembali ke peraduan, pangkuan ibu terkasih. Gumamku dalam diam.
“Pilih Rumah atau Jalan”
Rumah adalah tempat tinggalmu dan tempatmu menapaki kehidupan serta disitu juga tersimpan masa lalumu. Sedang Jalan menuntunmu agar kamu menapakinya untuk menentukan masa depanmu.
Kalau kamu bingung dengan pilihanmu, maka biarkan waktu menyelesaikan bagiannya, biarkan waktu yang akan menjawab, karna waktu menyimpan rahasia tentang masa lalu dan masa depanmu, kamu akan mendapatkan hadiah terindah atas apa pilihanmu.
Jangan pernah lelah, jangan pernah berhenti, rahasia hidup memang begitu rumit, dalam membaca teks, pahami lebih dahulu konteksnya biar kamu tak salah langkah menentukan pilihanmu.

Dalam pramuka kk andi akbar
Waktu menyimpan rahasia masa lalu dan masa depan……
Siapp Kak😊🙏🙏