By Rosita Samad*)

Senja merangkak pergi disambut rona temaram rembulan penanda bergesernya hari ini membawa pergi kisah tawa dan duka bak ritme penuh nada. Tak ada yang abadi, ada saat kita dihadapkan dengan rutinitas yang terkesan biasa saja dan dilain waktu terselip tawa bahagia yang kadang menyeruak diantara puing-puing luka dan kecewa. Tiada yang abadi karena Sunatullah nya sudah demikian.

Waktu mengajarkan kita bijak memaknai ritme hidup, menghargai segala ketetapan Allah dalam senang maupun sulit menerima dengan ketaatan. Pondasi berfikir bahwasanya tiada kekuatan melebihi kuasaNYA, namun bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Beranilah berharap langitkan dalam doa apapun itu yang menjadi asamu.

Seorang ibu berani berharap kesuksesan putra putrinya yang dikemas dengan doa dan perjuangan panjang, melintasi segala kemustahilan hidupnya. Milyaran ibu dengan doa serta harapan tanpa batas. Ayah yang berjuang mengumpulkan keping demi keping untuk mewujudkan mimpi dan harapan putra putri tercintanya.

Seorang pekerja berani berharap peningkatan kesejahteraan diri dan keluarga nya melalui kerja keras dan dedikasi tinggi pada tempatnya bekerja. Bergelut dengan waktu dan tenaga mengorbankan keinginan dan kepentingan, tunduk pada aturan dan standar kerja yang mesti dipatuhi.

Seorang pelajar berani berharap sukses dalam studi dengan upaya belajar giat dan sungguh-sungguh menyelesaikan tahap demi tahap kurikulum pelajaran. Mengorbankan waktu bermain dan bersenang-senang dengan teman menikmati masa indah remaja. Berjalan menuntut ilmu pengetahuan sebagai bekal terjun dalam masyarakat heterogen di masa mendatang.

Siapapun kita janganlah takut bermimpi karena mimpi itu gratis dan kembali kepada masing-masing pribadi bagaimana upaya menggapainya. Hari ini mungkin harapan dterkabulmu belum terkabul, namun yakinkan dirimu bahwa tak semua terjadi sesuai maunya kita. Sang Pencipta lebih tau apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Tetaplah berani menatap masa datang karena Rahmat Allah tanpa batas.

Berani berharap memberi energi positif menyandarkan bahwa bagaimana pun melangit nya kita tetaplah makhluk yang tak punya daya kekuatan melainkan ijin Allah. Mohon ampun atas khilaf masa lalu, syukuri pencapaian hari ini dan berharap lebih baik di masa mendatang. Tak ada yang abadi didunia ini kecuali kepentingan, tak patut bersandar pada makhluk karena sama dengan menyiapkan patah hati yang direncanakan.

Makassar, Juli 2026
*) Penulis adalah penelaah teknis kebijakan DLHK Prov. Sulsel dan alumni SMT Pertanian Negeri Sidrap

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.