Ikatan Bidan Indoensia (IBI) memperingati ulang tahun yang ke-75 tahun ini, tepatnya pada 24 Juni 2026. Peringatan tahun ini mengangkat tema internasional yaitu One Million More Midwives, yang dikonversi ke peringatan IBI nasional menjadi Bidan Berdaya, Perempuan Sehat. Meriahnya kegiatan ini banyak diwartakan oleh media se-Indoensia.

Di Kabupaten Paser, peringatan ini mundur 1 bulan, yaitu Rabu 22 Juli 2026. Tema juga disesuaikan, lebih operasional dan agak panjang. Yaitu Dunia membutuhkan lebih dari sejuta bidan: Bidan Indonesia memperkuat kepemimpinan dalam pelayanan kebidanan berbasis hak, berpusat pada perempuan dan anak serta siap mengawal generasi emas tahun 2045. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Lou Bepekat Kabupaten Paser, dihadiri Wakil Ketua II Komite IV DPD RI Sinta Rosma Yenti MA, juga Bupati Paser dr Fahmi Fadli.

Bupati Fahmi dalam sambutannya menyampaikan misi Pemerintah Kabupaten yang sejalan dengan tugas keseharian para bidan, yaitu ‘Anak Desa Harus Sehat dan Cerdas’. Ini termasuk salah satu dari 11 program prioritas Pemerintah Daerah, dan teraksentuasi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Paser tahun 2025-2029.

Bupati mengingatkan bahwa peringatan yang meriah di tengah efisiensi anggaran harus dibarengi dengan keberhasilan di tempat tugas masing-masing. Salah satu indikatornya, adalah menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Ini merupakan implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2022 tentang Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan bagi Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, dan Bayi Baru Lahir Melalui Program Jaminan Persalinan (Jampersal).

Upaya peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bedasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Paser, AKI terus mengalami penurunan, dari 12 kasus pada 2023 menjadi 7 kasus pada 2024, dan turun lagi menjadi 5 kasus pada tahun 2025. Sayang sekali ini belum diikuti AKB pada periode yang sama. Sempat menurun dari 72 kasus pada 2023 menjadi 62 kasus pada 2024, angkanya naik lagi pada 2025 menjadi 73 kasus. 

Meski demikian, apresiasi tetap diberikan kepada bidan yang bersama perawat sebagai garda terdepan mewujudkan generasi yang sehat sejak dini. Tugas mereka tidaklah ringan, karena juga memikul sebagian tanggung jawab menurunkan angka stunting.

Prevalensi stunting di Paser berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 tercatat sebesar 23,4 persen. Pada 2025, Pemerintah Pusat tidak melaksanakan survei SSGI, sehingga data yang digunakan mengacu pada Sistem Informasi Gisi dan Kesehatan Keluarga (Sigizikesga) yang menunjukkan prevalensi stunting Passr sebesar 16,86 persen.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak harus terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta penguatan layanan kesehatan hingga tingkat desa.

Intervensi percepatan penurunan AKI, AKB dan stunting harus tetap dijaga agar mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas, sesuai dengan tema peringatan HUT ke-75 IBI, mempersiapkan generasi emas 2045.

Selain menuntut tenaga kesehatan untuk bekerja maksimal dan profesional, hak-hak mereka juga diusahakan untuk selalu terpenuhi. Tunjangan Penghasilan Pendapatan (TPP) baik untuk PNS maupun P3K dijamin oleh Bupati tidak akan dikurangi meskipun badai efisiensi melanda nasional dan berdampak ke daerah. Di samping itu mereka yang bertugas di tempat yang memerlukan keberanian ekstra dalam transportasi diberikan perlakukan khusus. Seperti memberikan kendaraan yang sesuai dengan medan.

Yang paling utama, mempermudah perjalanan mereka menjangkau pelosok yang paling terpencil, di tepi hutan, pesisir dan pelosok. Ini berlaku bukan cuma bagi tenaga kesehatan tapi juga tenaga pendidikan dan masyarakat setempat. Beberapa kendala utama yang beberapa tahun lalu membuat mereka terasa jauh dari ibukota Kabupaten adalah kondisi jalan dan jembatan yang masih rusak parah, jaringan telekomunikasi yang masih diwarnai blankspot, serta ketersediaan air bersih dan listrik.

Namun sekarang, semua kendala ini berhasil dikikis. Jalan dan jembatan tetap jadi prioritas meski menyesuaikan kondisi fiskal, jaringan telekomunikasi diupayakan dengan kerjasama pihak penyedia jasa, begitu juga listrik dan air dimaksimalkan bersama BUMN dan BUMD, yaitu PLN dan PDAM.

Singkat kata, filosofi pembangunan di Paser sangat jelas. Yaitu dimana ada makhluk hidup, dimana ada manusia, maka disitu harus ditingkatkan kualitasnya. Hasilnya, beberapa bidan memberikan respon positif terhadap kebijakan pemerintah.

Seorang bidan bernama Ana yang bertugas di sebuah desa pelosok menceritakan bagaimana perjuangan yang harus ditempuh bersama tenaga kesehatan dan guru setiap hari sebelum dibangunnya jembatan rangka baja dan rigid beton di ruas jalan menuju desa tempatnya mengabdi. Jika hujan, mereka berangkat kerja dengan penuh kecemasan, menghabiskan waktu berjam-jam agar bisa tiba dengan selamat dan bahkan sesekali terpaksa tidak bekerja. 

Ada juga bidan Linda yang berdomilisi di ibukota kecamatan namun wilayah tugasnya sampai ke desa yang waktu tempuhnya sekitar 2 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang kurang layak bagi perempuan. Linda bercerita, jika ada panggilan telepon darurat dari wilayah terjauh, dia akan segera berangkat menggunakan motor trail meskipun larut malam.

Peresmian tiga jembatan oleh Bupati Paser pada Juni 2026 menuju wilayah kerja kedua bidan menjadi salah satu kado terindah untuk ulang tahun ke-75 IBI di Kabupaten Paser. Mereka senang sekali, karena keberadaan jembatan bisa memangkas waktu tempuh yang signifikan, serta menghilangkan rasa was-was yang bertahun-tahun mereka rasakan.

Ada dua hal terakhir yang disampaikan Bupati, yaitu kebijakan menempatkan 2 bidan di setiap desa, dan ini sudah terpenuhi, bahkan melewati angka itu. Jumlah desa di Paser adalah 139, sedangkan bidan berjumlah 702, meskipun tentu saja tidak semuanya bertugas di Puskesmas Pembantu yang berbasis di desa, karena ada yang di 20 Puskesmas dan di 2 Rumah Sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Panglima Sebaya dan Rumah Sakit Kerang.

Terakhir, masalah klasik yaitu hubungan kerja antara bidan dan dukun beranak, yang sejak dulu berjalan secara sendiri-sendiri, namun sekarang mereka sudah menjadi mitra strategis dalam tugas dan keseharian.

Selamat ulang tahun ke-75 IBI. Dirgahayu. Tetaplah mengabdi setulus hati, biarkan Tuhan yang menilai.

Paser, Kalimantan Timur, 22 Juli 2026

(Visited 22 times, 22 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.