Jumat 23 Juli 2021, Ibu Gus memberikan sebuah buku yang berjudul “Sumpah Pena”. Aku pun tak sabaran ingin membacanya, terlebih judulnya terasa memiliki energi besar yang menarik jiwa masuk kedalamnya. Sewaktu membaca buku Sumpah Pena itu, saya berhenti sejenak ketika membaca kalimat “Khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Dalam Al-quran, orang yang berbuat baik kepada sesama akan mendapat predikat sebagai sebaik-baiknya makhluk. Balasan bagi orang beriman yang beramal, salah satunya adalah berbuat baik kepada orang lain dengan memberikan sedekah dan menafkahkan hartanya untuk kepentingan masyarakat.

Dari kutipan tersebut, saya mulai paham, bahwa ternyata sedekah itu bukan hanya berupa uang tetapi menulis pun juga termasuk sedekah. Karena dengan tulisan, kita dapat membagi informasi dan memotivasi orang untuk berbuat serta tergerak hatinya melakukan sesuatu yang lebih baik.

Seperti dalam buku yang ditulis oleh bapak Ruslan Ismail Mage tentang Ibu. Banyak pembaca sadar dan tergerak hatinya melakukan kebaikan, termasuk saya. Buku-buku beliau penuh dengan ide-ide yang cemerlang, dan kata-kata bijak yang menggugah rasa, sehingga semua pembaca termotivasi.

Kolaborasi bapak Ruslan Ismail Mage (RIM) yang digelari sebagai “Ayam Jantan” dari Timur bersama Bapak Kuspriyanto (Iyan) sebagai “Putra Siliwangi” benar-benar menginspirasi. Dengan segala kerendahan hati mereka berbagi kepada sesama lewat tulisannya. Keduanya tidak henti-hentinya mengajak menulis kepada semua orang agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

Banyak pujangga yang menyerukan kebaikan melalui tulisan. Akankah aku menjadi bagian dari mereka? Bergabung bersama mereka, untuk menulis, menulis, dan terus menulis menginspirasi kehidupan. Namun kenapa bagiku sangat sulit menggoreskan pena di atas kertas. Saya kadang sudah menulis beberapa kalimat, tapi langsung berhenti lagi karena kehabisan kata-kata.

Walaupun dalam hati meronta ingin sekali menulis dan bergabung dengan mereka. Ingin dirindukan oleh makhluk bumi sebagaimana pesan bang RIM kepada seluruh komunitas Bengkel Narasi. Ingin bermanfaat buat orang lain dengan membagikan tulisan-tulisan inspiratif. Namun lagi-lagi  tidak tahu harus memulai dari mana.

Akhirnya setelah acara webinar launching buku “Sumpah Pena” selesai pukul 21.30 Wita, aku coba buka laptop untuk menulis pertanyaan-pertanyaan yang  muncul di benakku.
Apakah saya bisa  menghadirkan kata, kalimat, kemudian menjadi beberapa paragrap cerita bernuansa kebaikan yang menggugah jiwa? Sebagaimana yang disampaikan sang inspirator menulis BN bang RIM.

Mungkinkah saya bisa menjadi bagian dari mereka (manusia-manusia pembelajar rendah hati yang selalu berbagi tulisan inspiratif di BN).
Mungkinkah hal itu bisa tercapai? Ataukah hanya tinggal angan-angan saja?
Meskipun penulis produktif BN bapak Suharman Musa dan mentor andalan BN bapak Dr.Sudirman Muhammadiyah memberikan semangat untuk terus menulis dan goyangkan terus penanya. Lagi-lagi terbentur, terbentur, terbentuk, tapi belum mampu menggoyangkan penaku untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Hanya berbagai pertanyaan saja yang muncul.

Harapanku, semoga dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku merupakan langkah awal untuk menulis. Hari-hariku akan indah apabila penaku sudah meliuk-liuk di atas kertas putihku. Aku tidak akan membiarkan lembaran itu mengering tanpa kugoreskan penaku. Bukankah aku sudah memiliki buku “Sumpah Pena” yang tidak memberi ruang gerak sedikit pun kepada pembacanya untuk menunda menulis.
 
Watansoppeng, 25 Juli 2021

(Visited 82 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.