Oleh : Ghinda Aprilia
Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-76, Bengkel Narasi menggelar webinar kemerdekaan bertema “Sastrawan Lintas Generasi” Sabtu, 14 Agustus 2021. Webinar ini menjadi istimewa karena menghadirkan tamu istimewa sang maestro puisi, penyair dan sastrawan besar Indonesia bapak Taufik Ismail.
Diskusi diawali dengan pembacaan puisi oleh bapak Taufik Ismail yang berjudul, “Renungan hari kemerdekaan”, yang ditulisnya 56 tahun lalu. Diskusi ini semakin menarik setelah peserta bertanya, “Untuk menulis puisi harus darimana dan bagaimana mengeksekusi ide-ide itu?” Jawaban sang maestro sungguh luar biasa. Menurutnya “Hilangkan keragu-raguan, ikhtiar, kemudian lakukan dua hal yaitu membaca, membaca, membaca, dan menulis, menulis, menulis, lalu ditutup dengan doa.” Memohon kepada Allah Swt semoga dimudahkan. Jadi semua yang ditulis jangan dibiarkan tercampak, tapi dikumpulkan semuanya. Mulailah dengan coret-coret di atas kertas, silahkan menulis lepas apa saja yang dipikirkan dan dirasakan. Jika sedang menulis tiba-tiba otak terasa macet, segera tinggalkan sementara waktu dan jangan sama sekali dilawan.
Salah satu audiens yang pertanyaannya cukup menggelitik, “saya sangat bangga sekali bisa bertemu dan berkomunikasi langsung dengan seorang maestro dan begawan puisi Indonesia, dan betul-betul dapat melihat wajah aslinya . Saya tidak bisa bayangkan selama ini cuma membaca karyanya, ternyata orangnya masih hidup, semoga panjang umur”.
Dari semua pertanyaan yang disampaikan, sang maestro menjawab semuanya dengan menekankan, “Usahakan ada kebiasaan terus-menerus untuk membaca. Apa yang kita baca bebas, pokoknya baca apa saja yang disukai. Membaca itu wajib bagi umat Islam, karena wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah membaca. Jadi bacalah lalu menulisnya. Jangan menulis di kertas lepas, tetapi tulis di buku. Setelah itu berdoa, mohon pada-Nya supaya yang kita baca dan tulis itu di ridhai-Nya.
Sebuah nasehat sekaligus tamparan buat diri saya dari sang maestro. Hikmah yang saya ambil, terlalu banyak waktu yang sudah terbuang sia-sia. Selama ini saya lebih suka mendengarkan daripada membaca. Bismillah, mudahkan ya Rabb, bisa istiqamah membaca dan menulis. Selama ini saya sengaja jauhi teman-teman penulis saya, supaya saya tidak tertarik, karena sudah ada kegiatan lain di hari libur. Namun semakin saya jauhi, takdir berkata lain. Saat ini saya malah bergabung di group-group literasi yang salah satunya adalah Bengkel Narasi. Semoga di Bengkel Narasi saya bisa meningkatkan kemampuan menulis.
Penulis : Kontributor BN di Hongkong
