
Tidak jarang malam-malamku kuingin mengajakmu menghitung bintang sambil mrresapi nyanyian angin malam yang melagukan simponi kerinduan. Betapa aku merindukanmu sebagai pendamping setiaku, menemaniku suka dan duka, bercanda ria berdua menikmati hidup. Tapi dalam kesendirian, aku hanya mampu memandamg potretmu di atas sana, terang sinarnya, namun tak satu pun jemariku yang mampu menjangkaumu lagi.
Sejak kepergianmu kekasih hati belaian jiwaku, aku laksaan nahkoda yang kehilangan perahu kehidupan. Aku kehilangan separuh jiwaku, semangat hidupku redup sedikit demi sedikit ditelan kesendirian dalam kesepian.
Aku bertekad untuk tidak pernah menduakan cinta kita. Walau jasadmu telah pergi, tetapi aku selalu berpikir dan meyakini engkau selalu hidup dalam jiwa. Aku selalu merasakan menggenggam tanganmu selamanya tanpa limit, sebagaimana cincin kawin kita yang lingkarannya tak terputus.
Saat kepergianmu menghadap ke Sang Khalik, dalam benakku saat itu hanya berpikir bagaimana merawat buah cinta kita dengan baik, penuh kasih sayang dalam kesendirian. Tuhan memberikan kesempatan dan kesabaran untuk merawat buah cinta kita dengan baik, sampai akhirnya anak-anak telah tumbuh dewasa dan mandiri.
Entah kenapa, akhir-akhir ini aku kadang termenung panjang dalam kesendirian, hatiku berkecamuk, kesabaranku berdamai dengan kesendirianku selama ini, sepertinya goyah. Sebagai laki-laki setengah tua yang masih menyimpan pesona, aku masih butuh cinta dari seseorang.
Aku menghela nafas panjang dan bergumam dalam hati kecilku, kesabaran juga ada batasnya. Tekadku untuk tidak menduakan cinta kita, baik dikalah engkau ada maupun dikalah engkau sudah kembali ke pada Ilahi Rabbi, sedikit demi sedikit mulai hilang tak berbekas.
Gelora cinta yang melandaku tidak bisa lagi terbendung, bagaikan air bah yang bergemuruh dahsyat mencari pasangan hidup. Diwaktu masih muda tidak terlalu sulit dibanding dengan keadaanku hari ini, seorang duda beranak yang bisa masuk kategori “duren” (duda keren), kata teman-teman memberiku semangat.
Dikatakan tampan tidak juga, tapi kata tetangga yang janda beranak satu itu, aku dibilang gagah, katanya. Gelora yang kembali menyala itu, membuatku mulai berkenalan dengan beberapa gadis. Namun anak-anak dan keluarga besarku tidak merestui.
Sampai akhirnya mereka yang memilihkan aku pasangan untuk mendampingi rutinitasku menjalani kehidupan. Aku pun setuju dengan berbagai pertimbangan, dan itulah takdir hidupku yang sudah tertulis di lauhilmahfudh.
Waktu dan hari H sudah ditentukan untuk pelamaran, namun aku seperti menanti dalam hari-hari yang panjang. Akhirnya teman-teman semua mengantar aku ke penghulu pada hari Ahad tanggal 24 Oktober 2021. Resmilah aku mengakhiri kesendirianku, sebuah penantian yang cukup panjang, melelahkan dan akhirnya mengasyikkan.

Selamat ats penantian panjangnya yg tak pernah melelahkan,ahirnya berbuah manis
N selamat menempuh hidup baru, semoga rumah tangga barunya senantiasa di liputi kebahagian, dan menjadi keluarga yg samawa Aamiinn …..Aamiinn… Aamiinn
…YRA