Oleh: Ghinda Aprilia

Peraturan Hong Kong yang njlimet buat saya ke Shopping Centre dan ke Pasar. Merasa di tubuh ini ada yang lain, daya tidak bisa asal suntik, saya bertahan untuk tidak vaksin, menunggu cek ke dokter.

Keinginan untuk pergi ke dokter sempat diurungkan berkali-kali, karena wabah Omicron semakin merebak. Tetapi rasanya tidak bisa menunggu lebih lama, karena ke pasar yang murah harganya di Sham Shui Po market harus scan hp, di situ akan tertera record kita sudah vaksin atau belum.

Singsang booking ke klinik, saya di rujuk ke Rumah Sakit Kong Wah Hospital yang berada di Yaumatei. Hari itu saya cuma konsultasi, keluhan saya tidak bisa tidur, sulit BAB, gula darah naik, kolesterol over juga asam urat melambung.

Dokter menyarankan kembali minggu berikutnya untuk antri cek urine dan sampel darah. Dalam keadaan puasa, nderegdeg, ambil sampel darah lumayan banyak. Memilih untuk rehat beberapa saat, karena saya tak mau membatalkan puasa saya.

Di saat saya berlibur, ada pesan masuk dari koko.

“Tanggal 5, jam 10.15 kamu kembali ke rumah sakit.”

“Ok sir, saya akan ke sana, terimakasih.”

Pagi-pagi persiapan berangkat, dari rumah cuma bawa sebotol kecil air, saya mau bawa biskuit saya larang, karena cuma sebentar, dan saya tidak mau dia makan di Rumah Sakit takut berbahaya makan banyak pasien.

Datang ke counter, saya dikasih nomor 36, di room 5. Tetapi saya disuruh ke counter no 2. Dari situ no saya tetap 36, tetapi ganti ke room 3. Rada terheran-heran, kok ada no 36 yang lainnya tertera di pemberitahuan room 5, langsung saya masuk, tetapi dokter bilang, tempatmu bukan di sini.

Akhirnya saya meminta kepastian ke room counter, benar saya disuruh nunggu panggilan. Tiba saatnya dokter memanggil no 36 dalam bahasa inggris, saya ketuk pintu dan menyerahkan ID card. dr membuka komputer dan mengecek reward saya.

“Kamu belum ada reward apapun disini, silahkan balik lagi ke counter.” Saya disuruh ke counter dengan membawa secarik kertas, entah apa tulisannya.

Dari situ saya disuruh ngukur tensi darah, deegg kaget lumayan tensi tinggi, belum pernah saya mengalami ini sebelumnya.

Terus disuruh ke counter khusus cek suhu tubuh, lewat telinga. Kaget melihat nomor di angka 37, 8 telinga kanan dan 37,6 telinga kiri. Saya yakinkan sama suster kalau saya tidak demam.

Lalu saya disuruh masuk ke room 2, di situ saya diambil sampel darah, ini untuk cek gula darah.

Setelah itu saya disuruh masuk lagi ke room 5. Lagi-lagi dokterĀ  bilang,”Ini kamu tidak lengkap, tidak ada berat dan tinggi badan, tensi darah juga tidak ada.

Akhirnya dengan kepala pening dan super duper ribet baru kali ini saya ke RS cara menangani kurang selektif. Saya menuju counter untuk cek BB dan tensi. Ada kesalahan, cek tensi pertama ternyata masih dalam tas.

Setelah itu saya disarankan masuk room 5, dokter cek semua reward saya.

“Kamu dalam kondisi berbahaya, kamu tidak boleh pulang, sekarang kamu saya rujuk ke Emergency.”

Langsung air mata ini tak tertahankan, bagaimana dengan Sailo jika saya harus diopname? Saya disuruh nunggu di depan room 2, tidak lama ada suster datang membawa kursi roda dan berkas-berkas saya.

“Sus, saya bisa jalan sendiri, tidak usah pakai kursi roda.”

“Kamu dalam kondisi berbahaya, turuti saja apa kata dokter.” Dengan ramah suster memberi saya peringatan.

Saya didorong suster, tangan saya sambil megang Sailo. Ya Allah saya jadi pesakitan? Tak terasa air mata meleleh. Saya sudah dzolim sama badan saya sendiri, tidak pernah cek body, makan juga tidak teratur.

Selama bulan puasa ini saya berhenti minum-minum herbal, minum air pun tidak bisa sampai 2 liter, sudah keburu kenyang.

Sailo melihat saya menangis, dia nampak gelisah juga.

“Cece ham? Cece pakbehe?”(Cece nangis? Cece marah?)

Sampai di ruang Emergency, lumayan muter-muter, tahu-tahu saya sudah berada di gedung lain.

Suster mengambil sampel darah dan mengukur tensi darah. Keadaannya masih tetap melambung. Saya menunggu antrian lumayan lama. Sailo nampak sudah jenuh, karena kami berangkat jam 9. Seharusnya dia waktunya makan siang, tapi entah mau beli dimana.

Otak saya masih muter-muter, membayangkan andai diopname, rumah masih berantakan. Sailo siapa yang handle, ceker persiapan makan-makan dengan teman organisasi di hari minggu masih diatas kompor. Daging sapi masih di rice cooker, yang rencananya saya mau membuat gulai nangka.

Tiba saatnya panggilan dari dokter yang ramah. 

“Apa kamu makan obat sebelumnya?”

“Ya dokter, obat diabetes, dulu saya berobat di Indonesia dan di Hong Kong saya beli obat yang sama.”

“Kamu dalam kondisi membahayakan, kamu harus dirawat minimal 3 hari di sini, supaya tensi darah, gula darah, kolesterol dan asam urat kembali normal!” Dokter melihat komputer dan mencocokkan dengan berkas-berkas yang saya berikan.

“Dokter, bisakah saya diopname malam ini atau besok pagi?” “Anak ini tidak ada yang mengasuh kecuali saya, jadi saya tidak bisa mendadak seperti ini, atau saya izin boss  dulu.”

“Silahkan kamu telepon bossnya, sambil nunggu X-ray dan cek body lainnya!”

Kebetulan hp saya tidak ada batre dan no hp baru yang saya pakai telepon, boss saya tidak tahu. Koko gak on WhatsApp, Asho tidak membaca wapri dari saya. Syahdu di saat urgent tidak ada yang bisa saya hubungi.

Saya dimasukin ke ruang lainnya, Sailo disuruh nunggu di luar, saya protes.

“Jangan nunggu di luar sus, saya takut dia hilang, tidak apa-apa saya salin di depan Sailo, dia tidak ngerti sex.”

Saya harus ganti baju dengan baju pasien untuk periksa jantung, hati dan organ-organ tubuh lainnya. Awam buat saya itu selang nempel di tubuh.

Setelah beres, saya antri lagi diantar ke ruang X-ray. Cuma di ruang itu Sailo benar-benar tidak boleh masuk. Setelah itu antri di ruang tunggu lumayan lama. Saya tahu Sailo sudah clingukan, nagih untuk makan siang, tetapi tanpa berkata.

Akhirnya tiba saatnya diantar kembali ke ruang dokter.

“Apa kamu sudah telepon bossmu?”

“Belum diangkat dokter, ketiga boss saya sudah saya hubungi, tetapi mereka mungkin sibuk. “

“Ok, alternatif saya berikan kamu suntikan dan obat yang harus diminum, tanggal 11 kamu ambil sampel darah lagi dan tanggal 12 kamu harus cek body seperti hari ini, dan kamu harus menandatangani surat cancel opname.”

Setelah itu saya dibawa lagi ke room sebelumnya, entah apa yang disuntikkan ke dalam perut saya, jarumnya super kecil, disuntik ke perut saya yang tebal kulitnya tidak terasa sakit. Setelah itu rehat dan mengambil obat di lantai satu.

Ya Allah, Alhamdulillah dapat maksa saya bisa balik. Gak terbayang deh kulkas full makanan untuk berlibur, juga di dapur penuh belum saya benahi. 

Ada inisiatif menyuruh teman ambil makanan ke rumah, karena sudah dipastikan saya tidak bisa ikut halal bihalal. Janji untuk datang ke tempat teman juga saya urungkan.

Ambil ibrah dari kejadian ini untuk teman-teman saya di rantau, khususnya Hong Kong. 

“Jaga kesehatan, jangan menunggu ambruk baru masuk ke rumah sakit.” Jaga pola makan, pola hidup dan pola pikir. Di atas umur 40 tahun itu sudah warning. Di sana keluarga menanti kehadiran kita.

(Visited 70 times, 1 visits today)

By Ghinda Aprilia

Sebaik-baik hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.

3 thoughts on “Niat Vaksin, Masuk Emergency”
  1. Lebih ruweeeet dpd di Rscm yaaa….Indonesia mah sudah kondusif. Tiga rumah sakit yg saya singgahi pekan yal sudah sangat longgar. Hanya masker saja yg nasih diterapkan.

    Ikut lieur etah macana pangalamanmu. Asa sorangan we anu ngalamanana.
    Postinganmu semakin keren dan memginspirasi.
    Maafkan atin ya sayangku Ghinda. Semesta doa untukmu.

    1. Lebih ruweeeet dpd di Rscm yaaa….Indonesia mah sudah kondusif. Tiga rumah sakit yg saya singgahi pekan yal sudah sangat longgar. Hanya masker saja yg nasih diterapkan.

      Ikut lieur etah macana pangalamanmu. Asa sorangan we anu ngalamanana.
      Postinganmu semakin keren dan memginspirasi.
      Maafkan atin ya sayangku Ghinda. Semesta doa untukmu.

  2. Manini strong women, minal Aidin walfaa idzin Manini, hampura ieu pura-pura sibuk. Doa terbaik untuk Manini, sakali masuk RS, leuleus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.