Oleh: Muhammad Sholeh Arshatta

Sebatang tua bangka adalah aku, yang bangkai di kursi roda. Tempat dulu anak-anak dipangku sepulang sekolah menyusu & menyewa separuh raga, sepenuh hati tanpa pamrih.

Aku berusaha jadi rumah paling ramah. Rela digilir tubuh-tubuh lusuh mereka yang datang dari antah berantah tiba-tiba merebahkan segala keluh kesah hingga mengantar beranjak dewasa.

Kini cinta dibalas air tuba. Mereka telah selingkuh pada kaya di villa megah & aku tua renta terlupa disia-siakan. Tiada sapa sesiapa.

Aku salah kaprah pelihara domba berbulu singa. Adalah remah-remah selingan belaka di mata mereka. Sampah rapuh tak setangguh penyangga rumah. Mereka hanya singgah di cintanya yang tak sungguh.

Pekanbaru, 2024

(Visited 60 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Muhammad Sholeh Arshatta

Muhammad Sholeh Arshatta adalah nama pena dari Muhammad Sholeh, S.Si. Pria berdarah Bugis yang lahir di Sialang Panjang-Tembilahan Hulu (Riau), 04 Desember 1995. Menamatkan S1 di Jurusan Biologi FMIPA Universitas Riau pada tahun 2018. Saat ini penulis berprofesi sebagai Tenaga Kesehatan di perusahaan Nestle Indonesia, berdomisili di Pekanbaru-Riau. Penulis buku puisi "Kepingan Renjana Matamu" ini merupakan penerima Anugerah COMPETER Indonesia 2023 yang tunak di COMPETER sejak 2016 dan diamanahkan sebagai Duta Baca Online Asqa Book Award XIX 2024. Kecintaannya terhadap tulisan membawanya menjadi seorang novelis dari buku berjudul "Arok Tan Lika Liku Menjemput Surga" terbit Mei 2024. Puisi-puisinya tersebar di berbagai media baik cetak maupun online dan tergabung di dalam puluhan buku Antologi bersama. IG:@muhammadsholeharshatta.

One thought on “Rumah Singgah Terakhir”
  1. Puisi yg sangat dlm maknax tersirat kata penghianatan , ditinggal pergi oleh perselingkuhan , merajang hati tinggal meradang seorang diri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.