Oleh: Muhaimin
Sejak tanggal dua puluh lima Agustus,
jalan-jalan penuh teriakan
langit dipenuhi asap
dan di setiap sudut kota
air mata jadi hujan yang tak henti.
Rakyat berjalan di jalan berdebu,
perut lapar, harapan rapuh,
namun tetap menggenggam doa
agar hidup esok tak seburam hari ini.
Di sana,,di atas singgasana megah,
pemimpin tertawa dengan perut kenyang,
tangan mereka sibuk menghitung harta,
sementara suara rakyat,
ditelan meja-meja rapat yang dingin.
Serakah,
itulah wajah yang menutupi nurani,
mata mereka silau emas,
telinga mereka tuli oleh jeritan,
hati mereka membatu oleh kekuasaan,mereka tak tau kalau di seberang sana
ada nyawa melayang diseret ke tanah
oleh roda kekerasan.
Rakyat menunduk,
bukan karena tunduk pada kebesaran,
melainkan karena beban
yang dipaksa mereka pikul
dari kebijakan tanpa belas kasih.
Oh, pemimpin,
Apakah kau lupa: kalau kau di pilih oleh rakyat,,apakah kau lupa kalau kau duduk di kursi kekuasaan itu atas amanah rakyat,,tahta bukan abadi pemimpin,
harta bukan penebus,
dan doa rakyat yang terzalimi
lebih bahaya dari senjata
yang pernah kau genggam.
Indonesiaku,,,
di tanahmu kembali api menyala,
bukan obor kemerdekaan,
melainkan bara amarah rakyat
yang membakar gedung-gedung,
merobek dinding keadilan.
Oh, negeriku,,
kami rindu melihatmu damai,
bukan penuh jerit, bukan penuh kubur baru.
Kami ingin kau kembali menjadi pelukan,
bukan luka yang terus berdarah.
Indonesia tercinta,
kami berdoa di atas puing dan abu,
agar engkau lekas sembuh,
agar merah putih tak lagi basah
oleh air mata rakyatmu sendiri.
Kolaka Utara, 31 Desember 2025
