Aku adalah perempuan yang belajar menyembunyikan lelah di balik senyum yang sederhana. Seorang ibu, dengan tangan yang tak pernah benar-benar berhenti, dan hati yang terus berlari meski tubuh ingin diam.
Pagi-pagiku dimulai sebelum matahari membuka mata, di dapur kecil aku meracik harapan dari bahan seadanya, Nasi yang mengepul, lauk yang sederhana namun penuh doa, agar hari ini kami tetap kuat menjalani hidup.
Anakku adalah semesta kecilku,tawanya adalah energi yang tak pernah habis,meski sering kali aku harus mencuri waktu di antara tugas-tugas yang tak kunjung selesai.Tak banyak yang tahu,di balik peranku sebagai ibu, aku juga seorang pejuang ilmu yang sedang menapaki dua jalan terjal sekaligus yaitu sarjana dan magister.
Bukan karena aku kuat,tetapi karena aku tidak punya pilihan untuk menyerah.
Di meja belajar yang sempit,aku menumpuk mimpi di antara buku-buku tebal, huruf demi huruf kutelan dalam kantuk, Kalimat demi kalimat kutulis dalam sunyi.
Malam adalah sahabat setiaku saat dunia terlelap, aku justru terjaga, mengikat harapan agar tidak jatuh begitu saja.
Aku pernah merasa rapuh, saat tugas datang bersamaan, saat uang terasa begitu terbatas, saat hati bertanya lirih “Apakah semua ini akan berarti?” Namun setiap kali keraguan itu datang, aku melihat wajah kecil yang mempercayaiku sepenuhnya, dan saat itu juga aku tahu aku tidak boleh kalah.
Aku mungkin bukan siapa-siapa di mata dunia,tetapi di rumah kecil ini, aku adalah alasan mengapa harapan tetap hidup.
Dalam diam, aku berjuang. Tidak semua orang harus tahu betapa beratnya langkah ini, Tidak semua air mata perlu dijelaskan,Karena perjuangan sejati sering kali tidak bersuara, namun terasa dalam setiap doa yang dipanjatkan.
Jika suatu hari nanti aku sampai di titik itu,titik di mana lelah ini berubah menjadi bahagia, aku ingin mengenang hari ini dengan senyum, bahwa aku pernah berjalan sejauh ini,meski dengan langkah yang tertatih.
Jika dunia bertanya siapa aku,aku hanya akan menjawab sederhana, aku adalah ibu, yang dalam diam, tidak pernah berhenti berjuang.
By Besse Rismawati
