Oleh: Tammasse Balla
Kemarin pagi (25 Maret 2026), cahaya Makassar jatuh dengan lembut di pelataran Unhas Convention Hall. Momentum ini seakan-akan ingin ikut bersaksi bahwa kemarin bukan sekadar ada pertemuan, melainkan ada peristiwa batin. Sivitas akademika Unhas berdatangan dengan langkah yang beragam, ada yang mantap, ada yang santai, ada pula yang tampak masih menyisakan lelah setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa bulan Ramadan 1447 H.
Di dalam ruangan, segala sesuatu tampak tertata rapi. Kursi-kursi berjejer, panggung berdiri tegak, dan udara seakan telah dipersiapkan untuk menampung kata-kata sambutan yang penuh kehormatan. Namun di antara kerapian itu, ada garis tak kasatmata yang terasa begitu nyata, yaitu sekat antara mereka yang disebut pejabat dan mereka yang disebut bukan pejabat.
Sekat itu bukan hanya soal kursi. Ia adalah simbol. Ia berbicara tanpa suara, namun maknanya menggema, bahwa ada jarak yang dijaga, ada strata yang dipelihara, ada batas yang seolah-olah tak boleh dilintasi, bahkan dalam momen yang seharusnya meruntuhkan segala perbedaan.
Padahal, acara Halalbihalal seperti itu bukanlah seremoni protokoler. Ia lahir dari kerinduan manusia untuk kembali ke titik nol, ke ruang di mana semua ego diluruhkan, semua gelar ditanggalkan, dan semua manusia berdiri sebagai manusia. Tidak lebih, tidak kurang.
Di hadapan Tuhan, tidak ada kursi VIP. Tidak ada barisan kehormatan. Tidak ada pangkat yang membuat seseorang lebih dulu diampuni atau lebih layak untuk saling memaafkan. Semua sama, rapuh, keliru, dan membutuhkan pelukan kemanusiaan.
Namun manusia sering kali terlalu mencintai simbol. Kita membangun jarak, lalu memeliharanya. Kita menciptakan hierarki, lalu mempercayainya sebagai kodrat. Bahkan dalam momen yang paling sakral sekalipun, kita masih sibuk memastikan siapa duduk di depan dan siapa di belakang.
Barangkali kita lupa, bahwa ilmu yang kita ajarkan di ruang-ruang kelas itu sejatinya adalah jalan menuju kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidak pernah tumbuh dari sekat. Ia lahir dari perjumpaan, dari keterbukaan, dari kesediaan untuk saling melihat sebagai sesama.
Sivitas akademika bukan sekadar struktur organisasi. Ia adalah keluarga besar yang dipersatukan oleh pencarian makna. Dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, mahasiswa, semuanya adalah simpul dalam satu jaringan kehidupan yang saling menguatkan.
Jika kita masih duduk terpisah oleh jabatan, maka sesungguhnya kita sedang mengingkari ruh kebersamaan itu. Kita sedang membiarkan tembok tak terlihat berdiri di antara hati-hati yang seharusnya saling menyapa tanpa curiga.
Betapa indahnya jika kursi-kursi itu dilebur. Rektor duduk berdampingan dengan staf administrasi. Dekan berbincang hangat dengan tenaga kebersihan. Wakil rektor tertawa bersama pegawai yang mungkin selama ini hanya dikenal lewat tanda tangan di berkas. Di situlah Halalbihalal menemukan maknanya. Bukan pada susunan acara, bukan pada pidato yang panjang, melainkan pada momen ketika manusia benar-benar hadir sebagai manusia, tanpa atribut, tanpa jarak, tanpa sekat.
Kita tidak kehilangan wibawa ketika duduk sejajar. Justru di situlah wibawa menemukan kemuliaannya, ketika ia tidak menuntut penghormatan, tetapi memancarkan keteladanan. Ketika ia tidak menjaga jarak, tetapi merangkul dengan tulus.
Kemarin siang, di tengah segala kerapian dan protokol yang telah disusun, semoga ada keberanian kecil yang tumbuh di dalam hati kita, keberanian untuk meruntuhkan sekat-sekat itu. Hanya dengan begitu, kita benar-benar bisa berkata dengan jujur dan penuh makna, bahwa kita adalah satu, warga Unhas, dalam kemanusiaan yang utuh.
Salam sehat dan sukses tanpa sekat. [HTB]
Makassar, 26 Maret 2026 M. /
6 S yawal 1447 H.
