Sinar matahari sore itu memantul di permukaan Batang Maek yang tenang, namun suasana di pinggir sungai Gunuang Malintang justru sangat riuh.
Suara palu yang beradu dengan papan kayu terdengar bersahutan. Buyung, seorang pemuda yang baru saja pulang merantau dari Jakarta, menyeka keringat di dahinya.
Di depannya, sebuah struktur kayu megah mulai menyerupai kapal pesiar putih—itulan “Kajang” milik sukunya.
“Jangan terlalu kaku memasang kain itu, Yung. Bakajang ini bukan cuma soal gagah-gagahan kapal, tapi soal bagaimana kita melipat ego jadi satu rakit,” tegur Mak Datuk, mamak (paman) Buyung, sambil tersenyum bijak.
Buyung mengangguk. Selama sepuluh tahun merantau, ia hampir lupa rasanya manggaleh (bergotong royong) seperti ini. Baginya dulu, Bakajang hanyalah festival tahunan.
Namun, saat ia melihat pemuda dari suku lain ikut membantu mengangkat tiang di kapal sukunya, ia sadar: air Batang Maek tidak pernah memisahkan mereka, justru menyatukan.
Hari H pun tiba. Lima kapal megah yang melambangkan empat suku dan satu pemerintahan nagari sudah bersandar di dermaga darurat.
Warna-warni marawa berkibar tertiup angin Pangkalan. Buyung berdiri di atas dek kapal sukunya yang dicat putih bersih dengan ornamen ukiran Minang yang detail.
Saat prosesi manjalang (berkunjung) dimulai, kapal-kapal itu bergerak perlahan. Buyung menyaksikan bagaimana niniak mamak dan bundo kanduang naik ke atas kapal dengan pakaian adat yang agung.
Di atas air, mereka saling bertukar sembah dan sirih. Tidak ada kasta, yang ada hanyalah penghormatan.
“Yung,” panggil Mak Datuk saat mereka sedang duduk di atas dek sambil menikmati penganan kecil setelah prosesi adat. “Kau lihat kapal-kapal ini?
Besok mungkin mereka dibongkar, tapi rasa persaudaraan yang kita rakit selama sebulan membangunnya harus tetap terapung di hatimu meski kau balik ke Jakarta nanti.”
Buyung terdiam.
Ia memandang ke arah sungai yang mulai gelap, dihiasi lampu-lampu kapal yang berpendar cantik di atas air. Riuh rendah suara masyarakat yang bersorak dari pinggir sungai terasa seperti pelukan hangat.
Di atas rakit itu, Buyung menyadari satu hal: ia tidak pernah benar-benar pergi jauh. Selama Batang Maek masih mengalir dan tradisi Bakajang masih terjaga, ia selalu punya jalan untuk pulang.
