Debu jalanan menyapu ujung gaun merah menyala milik Lastri.
Malam itu sunyi, hanya suara serangga malam yang menemani langkahnya yang gontai.
Di bawah sinar bulan yang temaram, Lastri berjalan menjauhi hiruk-piruk kota yang baru saja “mengonsumsi” tenaganya.
Wajahnya yang tertutup riasan tebal tampak lelah, menyimpan ribuan cerita yang tak pernah ingin didengar siapapun.
Ia merasa haus, tenggorokannya kering seperti tanah di musim kemarau panjang ini.
Di kejauhan, ia melihat sebuah sumur tua di pinggir jalan setapak menuju desanya.
Saat sampai di bibir sumur, langkah Lastri terhenti.
Di sana, seekor anjing kurus tengah mengerang lemah.
Lidahnya yang kering terjulur keluar, mencoba menjilat sisa-sisa kelembapan di atas tanah yang retak.
Anjing itu tampak sekarat, matanya sayu menatap Lastri—seolah meminta belas kasihan terakhir sebelum nyawanya dicabut dahaga.
Lastri terdiam.
Ia melihat ke dalam sumur yang cukup dalam. Tidak ada timba, tidak ada tali.
“Kasihan sekali kau, Nak,” bisiknya parau.
Lastri sadar, di mata dunia, dirinya mungkin dianggap sampah.
Namun, melihat makhluk yang lebih menderita darinya itu, hati nuraninya bergetar.
Tanpa pikir panjang, ia melepas sepatu bot kulitnya yang mahal—satu-satunya barang berharga yang ia miliki untuk menunjang pekerjaannya.
Ia turun ke dalam sumur dengan susah payah, mencengkeram dinding batu yang licin hingga kuku-kukunya patah dan jemarinya berdarah.
Setelah mencapai air, ia mengisi sepatunya hingga penuh, lalu menggigit pinggiran sepatu itu agar bisa memanjat kembali ke atas dengan kedua tangannya.
Sesampainya di atas, ia menyodorkan sepatu berisi air itu ke mulut sang anjing.
Binatang itu meminumnya dengan rakus hingga tetes terakhir.
Setelah kenyang, si anjing mengibaskan ekornya, menatap Lastri dengan binar kehidupan yang baru, lalu perlahan pergi menghilang di kegelapan malam.
Sebuah Pintu Terbuka
Lastri tersenyum tipis—sebuah senyum tulus yang sudah bertahun-tahun tak pernah singgah di bibirnya.
Ia tidak tahu bahwa pada saat itu, segala dosanya yang setinggi gunung luruh seketika.
Langit mencatat ketulusannya yang murni, sebuah aksi kasih sayang tanpa pamrih kepada sesama makhluk hidup.
Di pengujung napasnya kelak, bukan riasan tebal atau penilaian manusia yang membawanya pulang, melainkan sepasang sepatu penuh air yang diberikan kepada makhluk yang kehausan.
Pesan Moral: Kebaikan sekecil apa pun, jika dilakukan dengan ketulusan yang murni, memiliki kekuatan untuk menghapus kegelapan yang paling pekat sekalipun.
