Namanya Jasman Muhammad. Dipanggil Igor. Kakak kelas di Sastra Inggris Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Dia angkatan 1994, dan saya 1996. Kami sama-sama dari Enrekang. Dia dari Massemba, Enrekang Kota, dan saya dari perbatasan Enrekang dan Toraja. Saling kenal di kampus, tapi tidak akrab.

Lalu kami bertemu di perkampungan bahasa Inggris Fort Rotterdam, Makassar. Saya gabung lebih awal Juli 1997, lalu Igor menyusul pada November 1997. Waktu baru masuk, dia diberi nama Gorilla. Lama-lama jadi Igor. Dia senang dengan panggilan itu. Bahkan kemudian yang bergabung setelah itu, banyak yang tidak tahu nama aslinya.

Di Fort Rotterdam, kami bersama selama 4 tahun. Yaitu sampai Juli 2001. Setiap bulan, kami adakan in-house training percakapan bahasa Inggris selama 14 hari. Namanya, London Village. Semua peserta dan instruktur tinggal di situ, berbahasa Inggris. Kalau menggunakan bahasa lain, dan ketahuan, maka didenda 100 rupiah per kata.

Selama 4 tahun itu, orang datang silih berganti. Ada yang menetap lama, bertahun-tahun, tapi ada juga yang cuma 1 atau 2 bulan lalu pergi. Tapi kita, dan beberapa kawan lainnya, mungkin sekitar 10 orang, bersama-sama selama 4 tahun.

Kata teman-teman, saya dan Igor cukup akrab. Bisa dikatakan lebih akrab dan lebih dekat dibanding teman yang lainnya. Mungkin karena kita bisa komunikasi dalam 4 bahasa. Ya, 4 bahasa. Pertama, bahasa Indonesia, sudah pasti. Kedua, bahasa Enrekang, meskipun lebih banyak salah paham dari pada benar paham. Masalahnya, meskipun satu kabupaten, bahasa kita tidak sama. Saya lebih lancar bahasa Duri dan bahasa Toraja, dan Igor fasih dalam bahasa Pattinjo dan Maroangin.

Ketiga, bahasa Inggris. Dari bangun pagi sampai tidur malam, kita berbahasa Inggris. Kami komunikasi, bercanda, dan bahkan terkadang saling memarahi dalam bahasa Inggris.

Keempat, bahasa bola. Tahun 2000 kita sama-sama di PSM Makassar, yaitu waktu jadi tuan rumah Piala Champion Asia, antara PSM, Shandong Luneng China, Suwon Samsung Korea Selatan dan Jubilo Iwata Jepang. Saya Liaison Officer (LO) untuk wasit dan Igor LO di Shandong Luneng.

Untuk klub kebanggaan luar negeri, kita sama-sama suka dengan seragam garis vertikal merah-hitam. Penggemar bola pasti tahu. Pada suatu hari kami ke toko jersey bola. Setelah beli baju merah-hitam dengan nomor punggung 3 dan nama Maldini, kami melihat yang lain. Kebetulan saya senang lihat warna biru. Jadi ada handuk dengan motif biru-hitam. Saat lagi pegang-pegang, dia langsung melarang. Katanya, kalau memang suka warna biru, maka pilihlah biru-kuning. Akhirnya kami beli handuk itu. Tulisannya: Parma.

Banyak cerita kami lalui selama 4 tahun itu. Igor menjadi saksi dan terdiam di sudut ruangan saat dokter mata marah karena saya berhenti memakai kacamata. Lalu kita juga pernah dimarahi di kantor Gubernur karena harus mengajar bahasa Inggris tapi telat datang.

Kami pernah ditilang, lalu minta tolong bapaknya teman untuk nguruskan STNK yang diambil. Pernah ke Belawa Kabupaten Wajo bertiga bosnya London Village pak Abdullah dengan Suzuki Katana warna oren. Kita pernah … Kita juga pernah …Dan masih banyak ‘kita pernah’ yang lain.

Cerita lain, di rumah merah, Jalan Cenderawasih, yang jadi sekretariat London Village, pernah teman-teman buat kapurung. Pedas. Saya tidak bisa makan, lalu menendang panci hingga penyok. Igor yang perbaiki panci itu. Di rumah merah itu pula, saya pernah pingsan. Banyak teman kira saya pura-pura. Igor satu-satunya yang percaya kalau saya pingsan beneran. Tapi koq saya tahu kalau pingsan beneran? Jangan-jangan memang hanya pura-pura.

Hidup seperti saudara, kita lalu dipisahkan oleh nasib. Saya ke Kalimantan Timur dan Igor ke Gorontalo. Terpisah pada Agustus 2001, lalu bersama lagi di Makassar pada akhir 2005 sampai awal 2006. Setelah itu kami berpisah, dan hanya komunikasi lewat telepon dan pesan singkat (Short Message Service – SMS). Pada 2009, kami terhubung melalui media sosial Facebook. Menggunakan bahasa keempat tadi, kami sering saling beri komentar pada hari Ahad dan Senin, setelah pertandingan Liga Italia. Sering pula pada hari Jumat. Maklum tim kami adalah peserta liga malam Jumat waktu itu.

Selama komunikasi di media sosial, kami tak pernah ketemu. Sering Makassar, kami selalu selisih. Saat ada reuni, Igor hadir. Saya sudah punya tiket waktu itu, namun karena suatu alasan, di-cancel. Kita masih menantikan kapan saatnya ketemu. Kami hanya saling berkirim jersey jika ada keluaran baru.

Hingga pada Rabu 17 Mei 2023 lalu, saya kaget setelah mendapatkan kiriman video melalui WhatsApp tentang Igor, dalam kondisi yang sangat mengenaskan, terbaring di rumah sakit dengan badan penuh melepuh. Katanya kecelakaan lalu lintas, lalu badannya tertumpah kuah bakso yang panas. Pasti sangat sakit.

Padahal waktu itu saya mau sampaikan kabar bahwa kita harus mengubur lagi mimpi untuk ke final Liga Champion musim 2023-2024, karena kalah aggregat 3-0 dari si biru-hitam. Namun niat untuk menyampaikan hal ini tidak kesampaian. Khawatir dia tambah sakit. Akhirnya diputuskan, nanti sajalah kalau sudah sembuh baru kita cerita bola lagi.

Tuhan berkata lain. Senin 22 Mei 2023, siang, ada kabar kalau Igor telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sejenak bumi terasa berhenti berputar. Sedih melihat foto Igor di mobil jenazah, yang akan membawanya dari Rumah Sakit Morowali ke Gorontalo, tempat tinggal selama ini bersama seorang istri dan 2 anak, berusia 6 tahun dan satunya masih bayi.

Selamat jalan saudaraku. Allahummag firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Semoga Allah Swt mengampuni segala kesalahan dan kekhilafanmu.

Catatan: Tulisan memerlukan waktu 2 tahun lebih dan ‘dipaksa’ selesai. Setiap membuka filenya, sangat sulit meneruskan kata-katanya. 

Paser, Kalimantan Timur, 5 Juli 2026

(Visited 10 times, 10 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.