Oleh Besse Risma

Dalam perjalanan hidupku, ada sebuah masa yang hanya bisa kukenal dari cerita orang lain, satu fase yang mungkin akan tetap sulit kupahami hingga hari ini. Sebuah masa yang begitu kelam, namun justru menjadi bukti nyata bahwa di balik setiap ujian, Allah selalu menyiapkan jalan pertolongan yang tak pernah disangka-sangka.

Saat usiaku sekitar tujuh belas tahun, hidupku berubah tanpa peringatan. Aku jatuh sakit dengan kondisi yang sulit dijelaskan. Menurut cerita orang tua dan keluargaku, selama hampir tiga bulan aku seperti kehilangan diriku sendiri. Anehnya, aku tidak mengingat apa pun tentang masa itu.Mereka bercerita bahwa fisikku sebenarnya masih kuat, tetapi tubuhku semakin kurus. Aku sering berbicara tidak jelas, bahkan melafalkan kata-kata secara terbalik. Aku berjalan tanpa arah, bertingkah seperti orang yang kehilangan kesadaran. Setiap malam, keluargaku harus mengunci pintu rumah dan bergantian berjaga. Jika lengah sedikit saja, aku bisa berlari keluar rumah tanpa tujuan. Kadang aku bahkan menanggalkan sebagian pakaianku tanpa menyadari apa yang kulakukan.

Bagi keluargaku, masa itu adalah hari-hari yang penuh kecemasan dan air mata. Mereka berusaha mencari kesembuhan ke berbagai tempat. Berbagai ikhtiar dilakukan, berbagai pengobatan dicoba. Namun waktu terus berjalan tanpa perubahan yang berarti. Di tengah keputusasaan itulah, Allah menunjukkan jalan-Nya.

Suatu hari, ibuku mendapatkan informasi tentang seseorang yang dipercaya mampu membantu mengobati penyakit yang kualami. Dengan harapan yang tersisa, beliau membawaku menemui orang tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Namun atas izin Allah Yang Maha Kuasa, perlahan-lahan kesembuhan mulai datang.Bukan karena kehebatan manusia, bukan pula karena kemampuan siapa pun. Semua terjadi semata-mata karena kehendak Allah. Orang itu hanyalah perantara yang Allah kirimkan untuk menjadi jalan kesembuhanku.

Hari demi hari kondisiku membaik. Kesadaran yang hilang perlahan kembali. Aku bisa mengenali orang-orang di sekitarku, berbicara dengan normal, dan menjalani hidup sebagaimana mestinya. Sebuah keajaiban yang hingga kini masih membuatku terharu ketika mengingatnya.

Sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan, ibuku kemudian menyerahkanku sebagai saudara angkat kepada orang yang telah menjadi perantara kesembuhanku. Sebuah keputusan yang mungkin sulit dipahami sebagian orang, bahkan terkadang terasa mustahil untuk diceritakan. Namun itulah kenyataan yang terjadi dalam perjalanan hidupku.

Kini, ketika aku mengenang peristiwa itu, aku menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan logika manusia. Ada kejadian-kejadian yang hanya bisa dijelaskan dengan satu kalimat sederhana

Allah berkehendak, maka terjadilah”

Andai waktu bisa kuputar kembali, mungkin aku ingin melihat bagaimana ibuku berjuang siang dan malam menjagaku. Aku ingin menyaksikan sendiri air mata yang beliau sembunyikan demi tetap terlihat kuat di hadapanku. Aku ingin memeluk keluargaku yang tidak pernah menyerah meski harapan tampak semakin jauh.

Namun waktu memang tidak dapat diputar kembali.Yang bisa kulakukan hari ini hanyalah mensyukuri setiap detik kehidupan yang Allah berikan. Sebab aku pernah berada di titik ketika keluargaku hampir kehilangan diriku, dan aku sendiri bahkan tidak menyadari keberadaanku.

Dari pengalaman itu aku belajar bahwa tidak ada ujian yang datang tanpa hikmah. Tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya. Dan tidak ada pertolongan yang lebih besar daripada pertolongan Allah. Ketika manusia berkata “tidak mungkin”, Allah menunjukkan bahwa segala sesuatu mungkin terjadi.Karena sesungguhnya, di balik kisah yang paling gelap sekalipun, selalu ada cahaya yang telah Allah siapkan untuk menerangi jalan pulang.

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.