Oleh Besse Risma

Andai aku bisa memutar ulang waktu, mungkin ada banyak hal yang ingin kuperbaiki.Ada begitu banyak langkah yang pernah kuambil tanpa arah yang jelas, begitu banyak keputusan yang lahir dari jiwa muda yang belum sepenuhnya memahami arti kehidupan.

Aku tumbuh dalam kehilangan. Ayah pergi terlalu cepat, memenuhi panggilan-Nya saat usiaku masih sangat membutuhkan sosoknya. Di masa ketika seorang anak seharusnya belajar tentang kehidupan dari genggaman tangan ayah, aku justru harus belajar menerima kenyataan bahwa beliau telah tiada.

Kehilangan itu meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan dengan kata kata. Mungkin karena itulah masa mudaku berjalan begitu liar. Aku dikenal sebagai perempuan yang berjiwa bebas, bahkan penampilanku lebih sering menyerupai seorang laki-laki. Aku menyukai tantangan, kecepatan, dan kebebasan. Saat itu aku merasa hidup adalah tentang berlari sekencang mungkin, tanpa pernah benar-benar memikirkan bahwa setiap langkah memiliki konsekuensi.

Hingga suatu hari, hidupku berubah dalam hitungan detik. Sebuah kecelakaan terjadi saat aku mengendarai sepeda motor. Peristiwa itu merenggut nyawa seseorang di tempat kejadian. Sampai hari ini, kenangan itu masih tersimpan dalam ruang terdalam hatiku. Tidak ada satu pun orang yang menginginkan musibah seperti itu terjadi, dan aku pun tidak pernah membayangkan akan menjadi bagian dari tragedi tersebut. Namun kenyataan tidak bisa diputar kembali.

Aku harus menjalani proses hukum. Aku harus menghadapi tatapan banyak orang. Aku harus hidup dengan rasa bersalah yang terus mengikuti langkahku. Tetapi yang paling berat adalah melihat ibuku. Aku masih bisa membayangkan betapa besarnya beban yang harus beliau pikul saat itu.

Seorang ibu yang telah kehilangan suami, kini harus menguatkan anaknya yang sedang terpuruk dalam peristiwa yang begitu menyakitkan. Jika semua kisah itu kuceritakan satu per satu, mungkin tidak akan selesai dalam waktu seminggu. Air mata yang pernah jatuh pun mungkin tak akan mampu kutampung lagi. Ada luka, ada penyesalan, ada malam-malam panjang yang diisi dengan pertanyaan, “Mengapa semua ini harus terjadi?”.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua untuk memperbaiki masa lalu. Ada kesalahan yang tidak bisa dihapus. Ada peristiwa yang tidak bisa diulang. Ada luka yang akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Aku tidak bisa memutar ulang waktu.Aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi.Tetapi aku bisa memilih bagaimana menjalani hari ini.

Dari setiap air mata, aku belajar tentang ketegaran. Dari setiap penyesalan, aku belajar tentang kehati-hatian. Dari setiap luka, aku belajar tentang arti tanggung jawab, dan dari setiap kesalahan, aku belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada diriku yang kemarin.

Hari ini aku menyadari bahwa masa lalu bukanlah penjara, melainkan guru yang paling jujur. Ia mengajarkan bahwa hidup begitu rapuh, bahwa satu detik dapat mengubah segalanya, dan bahwa setiap keputusan harus dijalani dengan penuh kesadaran. Penyesalan memang tidak akan mengubah masa lalu. Namun penyesalan yang diterima dengan lapang dapat menjadi pelajaran yang mengubah masa depan.

Kini, semua yang pernah terjadi hanya menjadi bagian dari sejarah hidupku. Sejarah yang pahit, tetapi juga membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat. Aku tidak bangga dengan luka-luka itu, tetapi aku bersyukur karena darinya aku belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana, dan…..

Jika hari ini ada seseorang yang sedang menanggung beban masa lalu, izinkan kisahku menjadi pengingat “Kita mungkin tidak bisa memutar ulang waktu, tetapi kita masih bisa menulis akhir cerita yang lebih baik. Sebab kehidupan tidak ditentukan oleh seberapa kelam masa lalu kita, melainkan oleh keberanian kita untuk bangkit dan melangkah setelahnya”.

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.