Oleh: Rosmawati*
Pagi itu aku duduk lama di depan jendela, memandangi langit yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa, namun hatiku terasa penuh oleh sesuatu yang sulit kujelaskan dengan kata-kata.
Ada hari-hari ketika tubuhku sudah tak sekuat dulu. Sendi-sendi terasa sakit, untuk berdiri lama pun aku harus menahan perih yang datang diam-diam tanpa bisa kucegah.
Lalu aku teringat narasi Bang RIM yang membuat tulisan ini muncul. Kalimatnya tentang takdir yang tak pernah dipilih namun harus dijalani, seolah mengetuk kembali kesadaranku yang hampir padam. Bukankah setiap rancangan ilahi ada hikmahnya.
Aku pun mengambil pena dan mulai menulis perlahan. Anehnya, ketika pena ini bergoyang, rasa sakit itu hampir tak terasa lagi, seolah tergantikan oleh aliran yang menenangkan.
Aku belajar bahwa energi positif dari sebuah tulisan bisa menjadi terapi jiwa. Setiap kata yang kutulis seperti menguatkan sendi yang lemah dan menegakkan kembali hati yang nyaris roboh.
Pasrah bukan berarti berhenti, melainkan tetap berjalan dengan sisa kekuatan yang ada. Selama aku masih bisa menulis, aku percaya harapan itu masih ada.
Kini aku memahami sepenuhnya, bahwa takdir memang tidak untuk dipilih, melainkan untuk dijalani dengan iman. Dan selama hati masih bersandar pada harapan, seberat apa pun jalan itu akan tetap bisa kutempuh.
*Aktivis literasi menulis
