Oleh: Haliga Gana Anugra*
Aku lahir di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Masa kecilku sederhana, dipenuhi permainan tradisional, suara alam, dan tawa bersama teman-teman. Hidup saat itu terasa ringan, meski keluargaku hidup pas-pasan.
Ketika aku berumur lima tahun dan sudah cukup usia untuk bersekolah, aku diasuh oleh saudara dari ayahku. Beliaulah yang menyekolahkanku hingga lulus dari sekolah menengah kejuruan. Setelah lulus, aku dianjurkan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi, tepatnya di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dengan memilih program studi Sains Aktuaria.
Saat hari orientasi kuliah dimulai, aku menyiapkan segala perlengkapan bersama teman-teman sebayaku. Dalam kegiatan orientasi itu, aku mendapatkan teman-teman baru yang dapat diajak bekerja sama selama kegiatan berlangsung.
Hari pertama kuliah tiba—seperti matahari terbit yang menjanjikan cahaya pengetahuan di jalan panjang yang menantiku. Hari itu, lembar baru dalam hidupku terbuka. Kuliah menjadi bait pertama dalam puisiku tentang masa depan. Di ambang pintu ruang kuliah, aku berdiri dengan hati penuh harap, langkah penuh doa, dan sedikit rasa gugup, seakan dunia menanti kisah baruku. Aku memandang satu per satu wajah baru yang memenuhi setiap sudut kelas—wajah-wajah yang kelak akan sering kulihat.
Malam-malam pertama dipenuhi tugas sederhana, namun tetap membuatku sibuk. Ada rasa bangga meski lelah. Setiap langkah, setiap catatan, dan setiap pertemanan yang lahir seakan menjadi potongan kecil dari mozaik besar bernama masa kuliah.
Hari demi hari pun berjalan. Pelajaran tak hanya datang dari dosen dan buku, tetapi juga dari pertemanan, perbedaan, serta pengalaman yang tak tertulis dalam silabus. Awal perkuliahan ini mungkin hanyalah sebuah permulaan, namun di balik debar dan lelahnya tersimpan janji indah: bahwa setiap langkah kecil akan menuntunku pada mimpi yang lebih besar.
*Penulis adalah Mahasiswi di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara
