Sitti Nuraisyah nama kami pilihkan untukmu nak, berharap perangaimu seperti Aisyah wanita muda yang cantik nan berbudi luhur, istri Nabi yang menjadi teladan terbaik bagi setiap manusia. Seperti juga orangtua lainnya, kami sangat berharap kalian tumbuh menjadi kebanggaan dengan berperilku yang baik, bergelar akademik, tentu menjadi impian setiap orang tua.
Ica, panggilanmu. Seusai tamat dari pesantren Al Mawaddah salah saatu pesantren putri di kolaka tempatmu belajar yang menjadi pilihanmu sendiri, mau mondok di pesantren, kami setujui. Engkau melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Yogya. Kami sangat senang dan bangga walau hanya swasta tempat kuliahmu, setidaknya engkau lolos di perguruan tinggi di kota pelajar. Hanya saja di semester ke tiga, di saat ujian semester berlangsung engkau sakit tak mampu mengikuti ujian hingga ujiannya berakhir tanpa konfirmasi pada kami agar bisa mengusul mengikuti ujian susulan. Engkau diam, hanya menyimpan masalahmu sendiri yang menjadikan masalahmu tak ada solusi saat itu.
Kondisimu tersebut menjadi jalan seorang lelaki meminangmu yang membuat saya awalnya kurang mendukung. Terbayang, gelar akademik yang akan engkau sandang akan terhalang dengan pernikahanmu. Namun karena yang datang meminangmu pada kami adalah saudara ayahmu sendiri , tiga orang yang salah satunya menyapimu sejak kecil, menyekolahkanmu hingga tamat pesantren yang hampir setiap bulan menjengukmu dengan membawakan aneka makanan kesuakaanmu dan untuk semua teman sekamarmu, yang bagi saya sendiri sangat sulit memperlakukanmu sedemikian itu.
Berhari-hari merenung, tak memberi jawaban pasti pada peminangmu hingga mereka ingin mengulang kepastian dariku akan kesediaan dan persetujuan pernikahanmu. Kuambillah keputusan “bahwa betapa angkuhnya diriku ketika hal baik yang Allah tuntunkan pada hambanya lalu menolaknya tanpa ada alasan yang masuk akal karena kuliahmu di satu semester tersendat otomatis sudah gagal satu semester. Tetapi menjadi hal terberat menyampaikannya pada saudaraku sendiri dan harus mencari moment terbaik menyampaikannya, kwatir salah penyamaia. Hingga waktu makin mendesak, bersamaan undangan diklat membuat penyampaian makin sulit dan itu tidak pernah saya lakukan sehingga bisa jadi menimbulkan kesalah pahaman diantara kami.
Hal yang paling membuatku tak berdaya ketika engkau telah menyampaikan pernyataan saat adikmu menanyaimu, “mengapa engkau setuju dengan rencana pernikahan itu padahal engkau berhak menolaknya.” Jawabanmu tak pernah kusangka sebijak itu, bahwa “pernikahan adalah ibadah yang paling dicintai oleh Allah tetapi ibadah yang sangat dibenci oleh Iblis.” Lantas, kita mau ikut yang mana, Allah atau Iblis? Tentu pernyataan inilah yang membuat diriku merasa tertampar olehmu, anak gadisku. Laksanakanlah ibadah yang paling dicintai oleh Allah selagi berkesempatan, tentu dengan pilihan orang yang baik sesuai kriteria dalam beragama walau tak mungkin bisa sempurna. Semoga pernikahanmu menjadi pembuka jalanmu mendapat ridha dari Allah SWT juga bagikami dan semoga menjadi jalan menuju syurga dunia dan akherat bagimu. Begitupun kami orangtuamu dan orang-orang terdekatmu menjadi jalan pembuka silaturrahmi yang makin erat bagi keluarga, mendapat ridah ari AllahSWT karena mendukung terlaksananya ibadah yang paling dicintai-Nya tetapi menjadikan iblis kepanasan karena ibadah tersebut adalah yang sangat dibencinya.

Masyaa Allah ….semoga Allah swt senantiasa melimpahkan rahmatNya pada hambanya yg ihklas amiin