Oleh: Muhammad Sadar*
Frase kata atau suatu kalimat yang diciptakan untuk menaruh harapan dan menggugah perhatian khalayak. Struktur bahasanya ditafsirkan sebagai jargon yang bersifat magnetis agar memantik daya tarik dan menerobos jalan pikiran para komunikan. Berbagai slogan atau kata-kata unik dari beragam kombinasi ungkapan asing atau istilah lokal yang lazim digunakan ditengah situasi tertentu baik pada masa kampanye politik, perkara hukum, atau peristiwa sosial budaya kemasyarakatan maupun bidang lain yang bertujuan sebagai pembangkit energi atau semangat pembaharuan dalam menuju perubahan.
Pada event suksesi pemilihan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2013 silam, tersingkaplah suatu jargon politik salah satu pasangan calon gubernur dengan tagline don’t stop yang bermakna suatu metode taktis menggalang opini publik dalam melanjutkan masa kepemimpinan untuk jangka waktu berikutnya. Don’t stop secara filosofis mengandung arti, meneruskan kembali kepemimpinan dan tidak berhenti hanya pada satu periode saja. Istilah tersebut sangat populis dan mendalam bagi para konstituen dan sah-sah saja menjadi sebuah trigger atau pendorong dalam merebut kemenangan. Don’t stop atau jangan berhenti berbuat sebagai sinyalemen untuk melakukan kesinambungan dalam memimpin pemerintahan dan pembangunan.
Walaupun kata asing yang dimodifikasi, namun don’t stop ditakwilkan untuk selalu bergerak dan memiliki harmonisasi pada setiap kegiatan agar dilakukan secara kontinyu. Demikian halnya pada upaya penambahan luas tanam padi atau yang lebih familiar disingkat LTT (Luas Tambah Tanam) untuk terus diperluas cakupannya di semua jenis lahan pertanian. Hakikat LTT adalah meluasnya penanaman padi pada lahan yang memiliki potensi untuk ditanami. Dengan meningkatnya luas tanam, maka skala panen di akhir musim akan ikut bertambah besar hingga produksi mampu dicapai dalam jumlah sebanyak mungkin.

Gerakan percepatan LTT padi yang digalang Kementerian Pertanian sejak diluncurkan program swasembada pangan nasional diharapkan untuk mendorong segenap kekuatan potensi bangsa terutama petani agar mengoptimalkan sumber daya lahan dan air serta jaringan pendukung lainnya seperti ketersediaan sarana produksi maupun pemasaran. Strategi memperluas jangkauan penanaman padi adalah melalui perbaikan harga gabah oleh pemerintah serta stimulan bantuan benih padi genjah dan usaha irigasi pompanisasi air permukaan atau eksplorasi air bawah tanah maupun olah lahan dan panen melalui pendekatan mekanis modern.
Intensifikasi gerakan LTT saat ini dilakukan utamanya pada transisi musim hanya semata-mata untuk menambah frekuensi penanaman padi agar sasaran tanam reguler yang akan dinilai pada akhir tahun bisa dicapai. Range waktu yang tersedia setelah musim gadu berakhir antara 2-3 bulan sebelum awal musim rendengan sangat berpeluang dilakukan agrosistem padi untuk yang ketiga kalinya. Siasat jeda musim sangat berpotensi dimanfaatkan untuk persiapan lahan hingga eksekusi tanam jika semua perangkat pendukung MT. III tersedia.
Begitupun hajat MT. III tahun 2025 atau penanaman padi untuk yang ketiga kalinya diterapkan di lahan sawah tadah hujan beririgasi pompanisasi air permukaan di kelompok tani Labucai Desa Bojo
Kecamatan Mallusetasi pada tanggal 12 September 2025. Rangkaian simbolisasi gerakan percepatan LTT padi seluas 10,0 hektare turut dihadiri Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dr.Muhammad Amin selaku Penanggung Jawab (Pj) Swasembada Pangan Kabupaten Barru yang didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Kepala Desa Bojo,
Babinsa Bojo dan segenap petani setempat.

Dalam tausiyah LTT, Pj.Swasembada Pangan, Dr.Muhammad Amin menegaskan kepada petani untuk selalu menanam padi walaupun diluar kebiasaan selama ini. Setiap wilayah telah diletakkan target-target tanam secara nasional dan dibreakdown ke seluruh daerah. Untuk Kabupaten Barru, dialokasikan sasaran tanam pada bulan September 2025 seluas 800,3 hektare. Beliau berharap agar target tanam tersebut bisa direalisasikan mengingat dukungan benih dan kegiatan konstruksi optimasi lahan di daerah ini sedang berjalan yang diharapkan output pekerjaannya mampu mengungkit LTT padi.
Eskalasi LTT padi akan terus didorong untuk menggugah kesadaran kolektif para pelaku pertanian dalam memanfaatkan sisa musim atau ruang tanam tersedia yang memiliki syarat dan potensi pengolahan. Pemahaman terhadap penyediaan pangan secara simultan sebagai jaminan kestabilan negeri serta diintervensi dan diarahkan untuk dilakukan proses produksi tanpa henti. Perangkat LTT sedapat mungkin diciptakan nuansanya yang bisa diterima secara logis oleh petani di lapangan.
Ketiadaan atau kelangkaan bahan pangan akan menciptakan konsekuensi pada kaum yang lapar. Jangankan memanggul senjata, dan beraktivitas berat lainnya, angkat pena sekalipun tak sanggup dilakukan jika person manusia dalam kondisi mengalami kelaparan. Jika kredo tersebut menjadi KLB hunger emergency, selanjutnya akan memunculkan stigma bahwa perut yang lapar akan mudah disulut dan tidak sulit dihasut dengan daya tawar yang lemah, sehingga kalangan awam tertentu berpandangan bahwa lebih baik mati berdarah bertaruh nyawa dari pada mati bertarung lapar di dalam raga.
Begitu pentingnya sumber pangan agar tetap terproduksi tanpa diistirahatkan. Oleh karena itu gerakan LTT padi ini terus digemakan, dioptimalkan dan diberdayakan semua komponen untuk mengawal sepanjang waktu dan musim. Don’t stop LTT bukan sekedar basa basi biasa dan diharapkan menjalar seluas-seluasnya ke seluruh penjuru kampung, pelosok desa dan lembah hingga pegunungan tanpa batas. Tradisi LTT diharapkan menjangkiti atau menginpeksi kepada semua pemangku kepentingan di dalam menggerakkan setiap wilayah kerja aparat pertanian yang tanpa henti mendorong masyarakat petani melakukan penambahan intensitas tanam padi.

Jangan berhenti menanam dengan kata lain don’t stop LTT dalam koridor peningkatan indeks pertanaman padi setiap waktu tanpa jeda musim dengan memanfaatkan situasi yang sesuai ekosistem setempat dan dukungan sikap petani yang kooperatif terhadap program. Moderasi SDM petani, pemilik tanah sawah serta penggarap lahan lainnya sebagai penentu berlangsungnya sistem budidaya di lapangan agar konsisten dikawal, dituntun agar memperoleh jalan hidayah untuk penyelenggaraan LTT padi pada sela musim, baik saat ini maupun masa yang akan datang.
Don’t stop LTT padi yang menganut no season limit adalah sebuah seruan berkelanjutan untuk tetap meluaskan areal tanam padi pada semua jenis lahan produktif agar produksi padi tak berhenti pada satu musim saja, namun tanaman padi baik pada lahan optimal atau suboptimal diharapkan membentuk suatu landskap pertanaman yang luas dan akan menjanjikan ekspektasi hasil panen melimpah. Ungkapan atau ajakan agar tidak berhenti menanam padi sekiranya pelaku pertanian menyadarinya bahwa pangan adalah sumber kehidupan yang turut menentukan arah perjalanan suatu bangsa dan stabilitas negara.
Bojo, 12 September 2025
*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru.
