Oleh: Gusnawati Lukman
Sabtu, 11 Juni 2022, Pusat Budaya Indonesia dan Komunitas Penulis Kreatif Dili, menggelar workshop literasi bertajuk” Membangun Peradaban Dengan Menulis,” di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia, Timor-Leste. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili, Prof. Dr. Phil Ikhfan Haris, M.Sc., mengatakan bahwa pelatihan tersebut digelar untuk mengakomodasi minat penulis-penulis muda di Dili.
Selain diadakan secara luring yang dihadiri sekitar 50 peserta, kegiatan workshop ini juga disiarkan secara daring yang banyak diikuti oleh para pegiat literasi. Narasumber yang dihadirkan pun tidak tanggung-tanggung. Mereka adalah akademisi, penulis, dan jurnalis yang sangat kompeten di bidangnya. Pemateri berkelas seperti Bapak Ruslan Ismail Mage, akademisi, pengarang buku, Founder Sipil Institute,Bengkel Narasi Indonesia, Pena anak Indonesia, Zulkarnain Hamson, Direktur Pusdiklat Jurnalis Online Indonesia(JOIN) / Dosen UIT Makassar, serta Abdullah Fikri Ashri, Wartawan Kompas/pemenang Best of The Best Anugrah Jurnalistik Pertamina 2019, tentulah akan membuat kegiatan workshop ini menarik dan semarak.
Prof. Dr. Phil Ikhfan Haris, M.Sc., dalam sambutan pembukanya, menyampaikan bahwa pemuda-pemudi Dili memiliki antusiasme yang sangat tinggi pada literasi, khususnya menulis. Namun, banyak hambatan yang mereka temui di lapangan. Beliau juga berpesan agar berkarya dengan hati, karena dengan berkarya dengan hati, akan melahirkan keindahan, dan berkarya dengan akal akan membuat kita menjadi terkenal.Sementara itu, dari Komunitas Penulis Kreatif mengatakan bahwa mereka terkendala pada penerbitan dan pengurusan ISBN yang tidak ada di sana (Timor-Leste).
Bengkel Narasi bergema di langit biru Timor-Leste, ketika Bapak Ruslan Ismail Mage memaparkan materinya. Dengan suaranya yang lantang, beliau dengan detail bercerita tentang teori kepenulisan yang sangat menarik.
“Mulailah menulis 5 paragraf saja dulu. Tuliskan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Setelah itu, berhenti sejenak, rileks, kemudian dilanjutkan lagi. Jangan bersamaan menjadi penulis sekaligus editor, karena tulisan tidak akan pernah selesai,” tegasnya. Tidak perlu memikirkan apa yang akan ditulis, tapi tulislah apa yang ada di pikiran kita. Selanjutnya, beliau juga menceritakan tentang “Sumpah Pena” yang banyak menginspirasi aktivitasnya sebagai seorang penulis, yang di masa pandemi sudah menghasilkan 11 buku.
Adalah hal yang sangat luar biasa ketika beliau memperkenalkan Bengkel Narasi(BN) kepada para peserta yang hadir baik luring maupun daring di kegiatan workshop literasi tersebut. Style bicaranya yang khas, lantang dan berapi-api, dengan bangga beliau menceritakan rumah jiwa di angkasa yang didirikannya. Bengkel Narasi adalah rumah jiwa di angkasa, tempat berkumpulnya orang-orang yang rendah hati, manusia-manusia pembelajar yang berasal dari lintas kota, negara, benua,suku, dan dari berbagai profesi. Namun,dalam perbedaan itu,mereka tetap bersatu dalam keberagaman, bersama muncul ke permukaan, belajar menghasilkan karya tulis berkualitas yang akan menghiasi sudut-sudut jiwa para pencinta literasi. Penulis yang selalu memeluk kemanusiaan, penulis yang selalu berbagi, serta peduli pada hidup dan kehidupan. Bangga bahwa Bengkel Narasi adalah komunitas menulis yang sudah bergema di mana-mana dan telah menerbitkan puluhan buku dari para anggotanya.
Beliau mengajak penulis-penulis muda dari Timor-Leste untuk bergabung di Bengkel Narasi, dan bersiap menjadi penulis-penulis yang hebat. Mereka diharapkan dapat berkontribusi memperkenalkan keberagaman budaya, adat-istiadat, dan semua hal menarik tentang daerahnya, sehingga bisa dikenal khalayak luas. Semua itu adalah tanggung jawab seorang penulis dalam menyebarluaskan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat dunia, terkhusus di Timor Leste itu sendiri.
Selain itu, beliau juga menceritakan tentang Pena Anak Indonesia, rumah jiwa khusus disediakan bagi anak-anak hebat yang mencintai dunia tulis menulis. Panggung karya anak-anak termegah yang sudah menghasilkan ratusan karya tulis yang memesona pembacanya. Sungguh pencapaian di bidang literasi yang mengagumkan. Selalu terpukau dan tidak ada bosannya mendengarkan beliau ketika memaparkan literasi membaca dan menulis. Namun, waktu jua yang membatasi.
Pemateri selanjutnya adalah Bapak Zulkarnain Hamson yang mengupas sejarah dimulainya kegiatan tulis menulis, berbagai pendapat tentang literasi menulis dan membaca, serta manfaat menulis dan membaca.
Manfaat tersebut dapat dilihat secara detail pada bagan di bawah ini.
Abdullah Fikri Ashri, Wartawan Kompas/pemenang Best of The Best Anugrah Jurnalistik Pertamina 2019, sebagai pemateri terakhir pada workshop ini, mengulas materi sesuai dengan tugasnya sebagai seorang jurnalis, yaitu bagaimana menulis sebuah berita yang akurat dan terpercaya dan bagaimana menjadi seorang jurnalis yang berkualitas. Dalam paparannya tentang menulis berita, bahwa ada banyak hal yang harus diketahui oleh seorang penulis ketika mereka akan menuliskan sebuah berita.
Pengetahuan pertama yang harus dikuasai adalah menentukan 5W + 1H (What,where,when,why,who + how), selanjutnya, seorang penulis berita harus mengetahui pola penulisan berita.
Comment is Free, but Facts are Sacred ( Guardian,1921).
Abdullah Fikri Ashri juga mengajak para peserta workshop baik yang hadir secara luring maupun daring untuk langsung mempraktekkan cara membuat berita. Peserta sangat antusias menanggapinya.
Kegiatan workshop literasi” Membangun Peradaban Dengan Menulis”, diakhiri dengan sesi tanya jawab yang juga berlangsung dengan menarik. Terlihat para peserta begitu menikmati kegiatan pelatihan ini. Mereka menanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan permasalahan yang mereka hadapi kepada para narasumber. Sungguh luar biasa jawaban-jawaban yang diberikan oleh Bapak Ruslan Ismail Mage, Zulkarnain Hamson, dan Abdullah Fikri Ashr.
Hari ini, semua peserta pelatihan mendapatkan Ilmu yang sangat bermanfaat dan penting bagi seorang penulis pemula yang akan menjadi bekal dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Menulislah agar tidak hilang dari sejarah dan peradaban. Menulis untuk keabadian.
Akhirnya, semoga ke depannya kegiatan-kegiatan literasi seperti ini akan semakin mendapatkan perhatian dari para stakeholder/pemegang kebijakan.
Terima Kasih. Ilmunya sangat luar biasa.
Watansoppeng, 11 Juni 2022
