Oleh: Devinarti Seixas

Setiap orang yang masih normal secara psikologi maka ia pun tidak boleh menghindari amarah, emosi, sedih, serta bahagia karena sebagai manusia normal kita diwajibkan mengalami hal tersebut.

Terkadang setetes air mata mengalir karena beban pikiran yang amat menyakitkan hingga tertusuk ke dada hingga hati, membuat orang lemah secara fisik jika itu sering ia alami dalam hidup.

Namun, jangan lupa ketika kita korbankan setetes air mata akan membuahkan ribuan makna dalam setiap langkah kita. Air mata mengajari kita untuk terus kuat melangkah meskipun kita merasakan kepedihan amat dalam.

Terkadang orang cenderung kecewa dan memprotes Tuhan mengapa, mengapa semua harus terjadi seolah dalam kehidupan hanya kita yang paling menderita dari ribuan manusia di muka bumi ini. Padahal di luar sana banyak yang jauh lebih penderita dari kita hingga setetes air mata jangan membuat kita berkedip hati.

Setiap air mata mengandung arti tersendiri menurut porsinya.Terkadang kita kecewa ketika kita merasakan bagaimana kita tersakiti oleh kata-kata yang jauh lebih tajam tapi kita harus bangkit dari kata-kata itu untuk terus kuat melangkah ke depan.

Aku sadar jika setetes air mata adalah bagian dari sebuah hikmah yang masih menjadi rahasia Tuhan dalam setiap perjalanan kita sebagai manusia. Jadi jangan mengira jika setetes air mata tak ada artinya.

Kehidupan di muka bumi, kita wajib menjalani bukan mengukur untuk jadi pemiliknya.Terkadang banyak orang yang merasa susah menggantungkan diri pada orang lain. Namun, ketika waktu merubah menjadi ada lupa dari mana ia melangkah sejak awal. Hal-hal itu banyak mengundang air mata bagi mereka yang pernah tulus membantu kita selama bertahun-tahun. Mereka bukan menangis karena kamu telah menyakiti hati mereka tapi mereka menangisi kamu yang menjadi durhaka bagi setiap pengorbanan mereka.

Kita tak sadar jika saat kita mengiris hati orang lain dengan tindakan itu tetesan air mata dari rasa sakit yang tak mampu melahirkan murka demi diri kita sendiri. Kita bahagia merasa megah dengan sungguh sombong agar orang memuji kita, tapi jangan lupa ketika air matanya keluar dengan mengikhlaskan hinaanmu, maka kamu sedang mengali pintu rezeki pada mereka yang kita sakiti.

Hari ini kamu merasa hebat hingga hari esok pun kamu akan hebat karena kamu memang ditakdirkan untuk hebat selamanya karena kamu sudah tunjukkan oleh Tuhan untuk itu.

Namun, jangan lupa tetesan air mata seorang ibu yang melahirkan anaknya hingga kembali meneteskan air mata demi anak-anaknya karena kamu sedang menanam untuk ibumu yang sama-sama merasakan gimana rasa sakitnya melahirkan seorang anak.

Segala perbuatanmu adalah amal ibadah bagi dirimu entah baik dan buruknya perbuatan itu sendiri. Karena tetesan setiap air mata seorang ibu akan selalu ada ketika kamu menghina anak-anaknya tapi satu hal yang tidak kamu sadari jika kamu bukan menghina kebaikan mereka tapi kamu justru berterima kasih pada mereka hanya kamu tidak menyadarinya.

(Visited 316 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.