Oleh: Hildayanti Yunus
Dikutip pada artikel Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di dalam negeri dinilai sebagai konsekuensi dari meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga minyak dunia.
Untuk jenis solar nonsubsidi, lonjakan harga lebih terasa. Dexlite kini berada di level Rp14.200 per liter dari sebelumnya Rp13.250, sedangkan Pertamina Dex naik menjadi Rp14.500 per liter. Di sisi lain, pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masing-masing di Rp10.000 dan Rp6.800 per liter guna menjaga daya beli masyarakat
Posisi Indonesia di ASEAN
Di tengah tekanan global, posisi Indonesia relatif lebih stabil dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara. Kenaikan harga BBM nonsubsidi masih terbatas, sementara subsidi energi tetap menjadi bantalan utama.
Sebagai perbandingan, negara dengan mekanisme pasar penuh seperti Thailand dan Vietnam mengalami kenaikan harga yang lebih signifikan, khususnya pada solar yang berkaitan erat dengan sektor logistik dan industri. Sementara itu, Malaysia yang masih memberikan subsidi besar mampu menjaga harga tetap rendah. Di sisi lain, Singapura mencatat harga BBM tertinggi di kawasan karena tidak menerapkan subsidi serta membebankan pajak energi yang tinggi.
Pemerintah berada dalam posisi yang serba sulit karena harus memilih antara dua konsekuensi yang sama-sama berat. Di satu sisi, jika harga BBM dinaikkan, dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat melalui kenaikan harga transportasi dan barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini mendorong inflasi dan menurunkan daya beli, yang pada akhirnya berpotensi memicu keresahan sosial. Kondisi menjadi semakin sensitif karena bahkan sebelum adanya kenaikan harga, antrean panjang untuk mendapatkan BBM sudah terjadi di berbagai daerah, menandakan bahwa tekanan di masyarakat sudah cukup tinggi.
Di sisi lain, jika pemerintah mempertahankan harga BBM agar tidak naik, beban subsidi yang ditanggung oleh APBN akan terus membengkak. Kenaikan harga minyak dunia membuat biaya yang harus dikeluarkan negara untuk menjaga harga tetap stabil menjadi semakin besar, sementara kemampuan anggaran memiliki batas. Jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, defisit anggaran dapat melebar dan mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk membiayai sektor penting lainnya seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial. Dalam jangka panjang, situasi ini berisiko mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Contohnya, kondisi antrean yang sudah terjadi menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya terletak pada harga, tetapi juga pada keterbatasan pasokan dan distribusi, sehingga apa pun
keputusan yang diambil tetap mengandung risiko yang tidak kecil.
Indonesia sebagai negara net importir minyak berarti kebutuhan BBM dalam negeri tidak sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi sendiri, sehingga harus mengandalkan pasokan dari luar negeri. Ketergantungan ini membuat kondisi energi nasional sangat rentan terhadap gejolak global, baik dari sisi harga maupun ketersediaan pasokan. Ketika harga minyak dunia naik atau jalur distribusi internasional terganggu, dampaknya langsung terasa di dalam negeri karena biaya impor meningkat dan pasokan bisa tersendat.
Situasi ini mempersempit ruang gerak pemerintah dalam mengendalikan harga BBM. Berbeda dengan negara yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, Indonesia tidak memiliki kendali penuh atas sumber energi tersebut. Akibatnya, setiap perubahan di pasar global akan “ditransmisikan” ke dalam negeri, baik dalam bentuk kenaikan harga maupun tekanan terhadap subsidi. Dalam kondisi seperti ini, menjaga harga tetap rendah membutuhkan biaya yang sangat besar dari APBN, sementara menaikkan harga berisiko menimbulkan dampak sosial dan ekonomi.
Dikolaka Utara Sendri BBM bisa tetap stabil karena ditahan oleh subsidi pemerintah, sementara bahan baku industri seperti plastik tetap mengikuti harga pasar global. Di sinilah terjadi perbedaan efek: BBM “ditahan”, tapi bahan baku lain “dilepas ke pasar”. Selain itu, faktor distribusi juga berperan. Kolaka Utara bukan pusat produksi plastik, sehingga kantong plastik harus didatangkan dari luar daerah. Ketika terjadi gangguan pasokan atau biaya logistik naik (meskipun tidak selalu karena BBM, bisa juga karena kelangkaan barang, gangguan rantai pasok, atau spekulasi distributor), harga di tingkat lokal bisa ikut naik.
Contohnya lagi para kurir yang bergantung pada kendaraan untuk mengantar paket kini harus menghadapi situasi di mana mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bensin. Waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja dan menyelesaikan pengiriman terpaksa terbuang di antrean. Akibatnya, jumlah paket yang bisa diantar dalam sehari menjadi berkurang, sementara kebutuhan hidup dan target pendapatan tetap harus terpenuhi. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan tarif jasa menjadi pilihan yang sulit dihindari sebagai bentuk penyesuaian terhadap penurunan produktivitas.
Kenaikan harga jasa kurir menjadi salah satu contoh nyata bagaimana gangguan kecil pada akses energi dapat merambat luas ke aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat.
Dalam sistem Islam, sumber daya alam strategis seperti minyak dan gas dipandang sebagai kepemilikan umum yang tidak boleh dimonopoli oleh individu atau korporasi, melainkan harus dikelola oleh negara untuk kemaslahatan seluruh rakyat. Prinsip ini menempatkan negara sebagai pengelola utama yang bertanggung jawab memastikan distribusi energi berjalan adil dan merata ke seluruh wilayah, tanpa bergantung pada mekanisme pasar global yang sering kali dipengaruhi kepentingan ekonomi dan politik negara-negara besar.
Dalam sistem islam, tidak bergantung pada satu sumber energi saja. Pengembangan energi
alternatif seperti nuklir, gas, atau sumber energi lainnya tetap dilakukan sebagai bentuk antisipasi jangka panjang. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk membangun sistem energi yang kuat dan berkelanjutan, sehingga tidak mudah terguncang oleh perubahan kondisi, baik dari dalam maupun luar.
Jika dibayangkan negara-negara muslim berada dalam satu kesatuan dan tidak bergantung pada kekuatan eksternal, maka distribusi sumber daya seperti minyak bisa diatur lebih stabil sesuai kebutuhan internal. Dalam kondisi seperti itu, gangguan di pasar global atau konflik di jalur distribusi internasional mungkin tidak akan terlalu mengguncang kehidupan masyarakat sehari-hari, karena pasokan energi sudah berada dalam kendali sendiri dan tidak terlalu terikat pada dinamika luar. Wallahualam Bisshawab
