Oleh: Alfiyu Nengsih

Jauh di tepian pesisir pantai ada seorang perempuan yang ingin menggapai mimpi dalam hidupnya. Hidup yang selama ini dijalaninya penuh dengan pengorbanan dan perjuangan yang harus dilaluinya. Terlebih dia anak pertama dari empat saudara dengan kehidupan keluarga yang serba kekurangan.

Langkah kakinya berharap untuk memulai perjalanan agar hidup jauh lebih baik dari apa yang ada saat ini. Dia berharap keputusannya ini tidak salah untuk masa depan diri dan keluarganya.

Perjalanan jauh ditempuh oleh perempuan yang berusaha untuk menggapai cita dan asah yang menjadi harapannya. Tak sanggup ia menutup mata selama menempuh perjalanan berliku yang penuh dengan tanjakan dan turunan. Dalam pikirannya bagaimana ia bisa dan mampu untuk merubah jalan kehidupannya yang selalu dianggap rendah oleh tetangganya.

Pada perhentian pertama perjalanannya, perempuan ini merasa canggung dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya saat ini. Namun, dengan tekad yang kuat dia berusaha untuk tersenyum tipis dengan orang-orang yang berpapasan dengannya.

Bus yang ditumpangi perempuan ini akan melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya. Perempuan ini hanya diam tanpa mempedulikan orang-orang yang bercerita tentang pengalaman mereka masing-masing dengan kenalan baru mereka di atas bus yang mereka tumpangi. Sementara perempuan ini hanya fokus pada tujuan dan impiannya untuk sampai di tempat tujuannya, agar ia bisa mewujudkan impiannya.

Saat lelah mulai dirasakan tubuhnya yang mungil, dia mencoba untuk memejamkan matanya dengan harapan dapat tertidur di atas bus yang ia tumpangi. Terlebih perempuan yang duduk di sebelahnya dari mulai naik bus hanya diam tanpa bersuara sedikit pun.

Perempuan ini belum paham seperti apa kota tujuannya untuk mencapai cita dan harapannya. Dia tidak pernah memikirkan tentang kota yang menjadi tujuannya. Baginya hanya satu yang dipikiran bagaimana dapat memperbaiki hidupnya dan keluarganya.

Bus yang ditumpangi telah sampai di pemberhentian terakhirnya, sekaligus menandakan kalau perempuan ini harus melanjutkan perjalanan dengan menumpangi kapal laut untuk sampai ke kota tujuannya. Dengan langkah yang pasti tanpa ada rasa takut sedikit pun yang terbersit di wajahnya, dia melanjutkan perjalanan dengan menumpangi kapal laut.

Ketika kapal laut sudah meninggalkan dermaga, perempuan ini tersenyum memandang ke arah lautan lepas tak bertepi. Sesekali dia membuang pandangan memembus cakrawala, sambil berpikir dan merangkai harapannya. Dia yakin cita-citanya ada di kota di ujung lautan luas ini. (Bersambung)

*Penikmat literasi menulis, tinggal di Minangkabau

(Visited 80 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.