Para perempuan tentu mengingat buku Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang fenomena itu. Itulah semangat emansipasi kartini melawan segala bentuk penindasan.
Sebagaimana ulasan sebelumnya bahwa sejarah kelam jugun Ianfu di indonesia merupakan “noda hitam” dibawah kekuasaan militerisasi Jepang. Dimana wanita-wanita kerap menerima perlakuan kasar tanpa rasa prikemanusian membuat bulukudu berdiri.
Wanita-wanita korban jungun ianfu terbilang tangguh, betapa hebatnya perempuan kala itu berkorban jiwa raga serta kehormatannya, meski pada akhirnya tak berdaya.
Tubuh mulusnya disetubuhi secara paksa dibawah tekanan tanpa perlawanan, bayangkan kaum “hawa” ini dalam sehari dipaksa melayani 10 orang hingga 20 orang tanpa imbalan sepadan.
Zaman globalisasi sekarang ini sangat sulit mencari pengakuan dari perempuan-perempuan Jugun Ianfu, pada posisi seperti ini delimatis mengungkap kehidupan mereka yang tidak pernah mendapat “pengakuan” dalam sejarah indonesia.
Mayoritas korban-korban “Jugun Ianfu” menutup diri bercerita karena merasa malu dan merupakan “aib”.
Namun, wanita Indonesia saat ini adalah bagian dari rintisan para pejuang sebelumnya. Maka diharapkan jangan melupakan sejarah bangsa yang telah dibangun oleh kaumnya sendiri.
Setelah sekilas membaca sejarah Jugun Ianfu dimasa itu sungguh menyedihkan. Apa yang tersurat maupun tersirat, betapa memiriskan atas pemberlakuan tidak manusiawi terhadap kaum wanita di Indonesia sungguh terinjak-injak harga dirinya saat itu.
Nah kalau sudah demikian bagaimana keadaan kaum wanita Indonesia saat ini?
Meski sebagian perempuan-perempuan Jugun Ianfu telah tiada, kita sebagai generasi penerus bangsa wajib mendongengkan sejarah ini agar tidak termakan zaman.
Betapa egoisnya bangsa ini apabila menghapus sejarah perempuan indonesia korban kebuasan fasisme jepang yang dipaksa melayani nafsu seksualnya selama berkuasa di indonesia.
Sebelumnya perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu ada yang disekap dalam satu asrama dengan tingkat penderitaan menyedihkan, bahkan dalam sehari dipaksa melayani 10 birahi laki-laki tentara jepang. Siksaan berupa pukulan, tendangan, tamparan makanan sehari-hari setiap menolak melayani.
Perlakuan “sadisme” harus diterima ketika mendapati “jugun Ianfu” hamil, calon jabang bayi yang ada dalam kandungan akan dipukuli, ditendang, ditampar, sampai perempuan tersebut keguguran dan jabang bayi “mati”.
Kisah pilu Jugun Ianfu memang pedih untuk diungkap dipermukaan, sehingga membuat kehilangan semangat untuk hidup.
Dari uraian diatas tadi banyak mengetahui bahwa kaum wanita Indonesia saat ini boleh dibilang sudah banyak kemajuan dalam berbagai hal. Tidak sedikit perempuan saat ini banyak terlibat langsung pada pembangunan bangsa Indonesia dari berbagai bidang. Di dunia politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, militer dan lain sebagainya.
Selain dari itu perjuangan perempuan jaman sekarang lebih baik melalui “emansipasi”.
Namun, tidak sedikit perempuan tertindas dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang kian tak menentu pada sistem monopoli pemerintahan yang berjalan tidak seimbang.
Selesai
