Janji di Belakang Pabrik (1995)
Oleh: Cerita Si Jibot

Maya Permata tumbuh dalam kemewahan yang terasa seperti sangkar. Rumahnya di kawasan Candi, Semarang, adalah simbol kesuksesan Ayahnya—sebuah vila besar dengan gerbang tinggi dan taman yang terawat rapi. Namun, jiwa Maya mendamba yang lebih sederhana.

Cintanya tertuju pada Andika Jaya.
Andika bukan siapa-siapa. Dia bekerja keras di bengkel motor dekat pelabuhan, tubuhnya berbau oli, matanya tajam dan penuh ambisi—seperti api yang tidak bisa dipadamkan. Mereka bertemu diam-diam di gudang tua pabrik tekstil ayah Maya, di mana bau kain bercampur dengan mimpi masa depan mereka.

Suatu sore di bulan November yang panas, Andika muncul dengan kotak kardus berlubang.

“Ini hadiah terakhir sebelum aku ke Surabaya,” bisik Andika, suaranya parau karena rencana perpisahan mereka. Andika harus merantau mencari modal, berjanji akan kembali sebagai ‘orang yang pantas’ bagi Maya.

Di dalam kotak itu, meringkuk seekor anak kucing oranye dengan tatapan mata yang cerah dan nakal.

“Namanya Jibot,” kata Andika. “Aku menemukannya hampir mati di tumpukan sampah pelabuhan. Dia sepertinya punya sembilan nyawa, seperti kita, May. Kau pelihara dia. Selama dia hidup, janji kita juga hidup.”

Maya memeluk Jibot ke dadanya. Kehangatan makhluk kecil itu adalah satu-satunya jaminan dari janji yang rapuh itu.

“Aku akan menunggumu, Dika. Sampai kau kembali dan kita bisa hidup tanpa harus bersembunyi.”

Bersambung….

(Visited 14 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.