Oleh: Hidaya Mushlihah Muchlis
Suasana hati lagi senang seiring cerahnya matahari pagi, walau ragaku masih kurang bersahabat namun jiwaku semalam sudah charged dengan ikut kegiatan di ruang Zoom “Saturday Share Bengkel Narasi” yang menghadirkan narasumber tunggal Sang Inspirator andalanku Bapak Ruslan Ismail Mage. Magnet penulis buku “21 Hukum Kesuksesan Sejati” ini benar-benar luar biasa. Peserta yang hadir sangat banyak, dan Masya Allah,sangat antusias dan pro aktif dalam kegiatan ini. Mereka terdiri dari pada insan akademisi dan pendidik.

Bang RIM begitulah kami menyapa Sang Inspirator ini. Sebelum beliau memaparankan materinya berjudul “Kutemukan Peta Surga di Ujung Penaku,” diawali dulu dengan testimoni beberapa anggota BN mengenai apa yang mereka rasakan setelah ikut bergabung di Bengkel Narasi (BN), sebuah komunitas tempat berkumpulnya orang-orang lintas profesi, suku, dan agama, yang mau belajar menulis. Sungguh luar biasa mendengar testimoni mereka, bagaimana awalnya tidak bisa sama sekali marangkai kata, hingga bisa menjadi penulis yang produktif.
Setelah itu mulailah Bang RIM membahas secara gamblang “Kutemukan Peta Surga di Ujung Penaku.” Dari pembahasan itu, ada yang sangat menarik bagiku yaitu istilah “Manusia Belajar” dan “Manusia Pembelajar.” Ternyaya kedua istilah itu punya selisih harga berbeda, jelas Bang RIM.
Beliau menjelaskan secara detail perbedaan manusia belajar dan manusia pembelajar. Sesuai yang saya tangkap dan cerna bahwa “Manusia Belajar” adalah manusia yang belajar dibatasi ruang dan waktu, misalnya kelas atau tempat belajar lainnya. Didalamnya ada guru yang mengajar dan waktu yang ditentukan serta materi yang sudah disusun serta dijadwalkan secara apik. Output dari proses ini melahirkan manusia-manusia pintar, namun kecenderungannya menjadi sombong dengan pengetahuan yang didapatkan. Cenderung dikuasai logika berpikir untuk menyelesaikan masalah.
Sedangkan “Manusia Pembelajar” adalah manusia yang tidak pernah berhenti belajar sepanjang hayatnya. Tidak batasi ruang dan waktu dalam belajar. Setelah mendapatkan ilmu secara formal di institusi pendidikan, mereka tidak berhenti belajar. Terus melanjutkan belajar dari alam, dan semua manusia yang ditemuinya adalah guru baginya. Bagi manusia pembelajar, perpustakaan terbesarnya sebagai tempat belajar adalah alam beserta segala isinya. Itulah yang disebut alam terkembang menjadi guru.
Itulah sebabnya manusia-manusia pembelajar cenderung menjadi bijak, dan rendah hati penuh rasa tawadhu. Manusia yang peka dan peduli pada lingkungan sekitarnya. Kasih dan sayangnya mendorong menolong saudara-saudaranya yang membutuhkan uluran tangannya.
Di samping itu manusia pembelajar selalu siap berbagi ilmu dan pengetahuan yang dia miliki. Belajar bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi sudah diniatkan untuk diberbagi ilmu yang bermanfaat bagi sesama. Manusia pembelajar akan selalu muncul dipermukaan sebagai khalifah di bumi dengan membawa kebajikan dan manfaat bagi sesamanya dan bagi makhluk Allah yang lain disekitarnya.
Ulasan-ulasan Bang RIM yang sangat inspiratif memberikan pencerahan buatku dan peserta yang hadir di zoom semalam. Jadilah manusia pembelajar yang terus belajar tanpa henti sepanjang hayat dan mengabadikan diri dengan tulisan bermakna melalui ujung pena. Sesungguhnya tulisan inspiratif yang bisa menginspirasi orang lain melakukan kebaikan, akan menjadi amal abadi bagi penulisnya, hingga membawanya ke taman-taman surgawi. wallahu a’lam.

MasyaAllah keren sekali tulisannya Kak…