Oleh: Muhammad Sadar*
Drama sepak bola dunia terus berulang sejak pluit pertama dibunyikan wasit pemimpin pertandingan hingga menit terakhir. Liukan pemain, gorengan bola, sliding tackle, umpan lambung, off side, hingga goal penentu kemenangan mewarnai setiap pertandingan menuju babak final.
Selebrasi kemenangan dan sorakan pendukung dari berbagai ras manusia di planet bumi ini yang memenuhi stadion, dan gegap gempita memekakkan telinga maupun pandangan di dalam melihat aksi para pemain top dunia baik secara langsung, live streaming atau layar lebar di setiap persimpangan jalanan kota, di hotel atau di cafe, di pasar, hingga di sudut kampung sekalipun.
Percakapan dinamika piala dunia 2026 yang digelar sejak medio juni lalu seakan memberi ruang khusus untuk didiskusikan. Perbincangan sepak bola dunia kerap kali tanpa jeda hingga mengambil luang ketika tim jagoan mengalami kegagalan yang tidak disangka. Bagaimana membayangkan sisi emosional penggemar bola yang diluar stadion bahkan menyaksikan pertandingan dari luar wilayah penyelenggaraan baik dari zona waktu yang berbeda maupun lintas teritorial negara dari benua yang berbeda pula, merasakan kepedihan yang mendalam manakala tim andalan mereka memperoleh kekalahan atau timnas tersebut tak mampu melangkah ke babak berikutnya.
Hasil kompetisi sepak bola sebagai olah raga yang berkelas panggung perebutan piala sejagat memang menghanyutkan perasaan khususnya para penggemar fanatik suatu tim nasional. Kesedihan para fans tak terkecuali yang dialami pada tim-tim besar dunia jika terdegradasi dari penampilan piala dunia. Tim Samba yang telah mengantongi tropi dunia sebanyak 5 kali, terakhir menjuarai piala dunia tahun 2002 silam di Jepang dan Korea Selatan, kembali mengalami kekalahan pada babak 16 besar piala dunia 2026. Bahkan hasil yang sama pernah dialami tim Brasil selaku tuan rumah ketika dipecundangi tim Jerman, 1-7 pada edisi semi final world cup 2014 di stadion Maracana, sebagai balasan atas kekalahan Jerman pada final piala dunia 2002.
Suasana stadion pada masa tersebut nyaris runtuh dan banjir air mata kepada seluruh rakyat Brasil yang notabene tuan rumah penyelenggara, namun tak mampu mengandangkan tropi dunia tersebut di negaranya. Bahkan media setempat melaporkan seorang warga negara fanatik tinggi mengakhiri hidupnya karena kekalahan tim kesayangannya. Kini, ulangan peristiwa yang sama, tim berkostum kuning dari Amerika Latin itu dikalahkan oleh Norwegia dengan skor 1-2, yang kepesertaannya di piala dunia terkadang alpa.
Laporan media internasional dan pemberitaan lokal Brasil, pada umumnya menohok dan menganggap kegagalan tim Selecao di piala dunia adalah sebuah bencana. Penilaian terhadap pelatih berkaliber internasional, Carlo Ancelotti pun dianggap salah dalam menyusun strategi dan telat memainkan para pemain kunci seperti Neymar dan lainnya. Rakyat Brasil begitu cintanya terhadap tim kebanggaan mereka dan sepak bola sebagai penciri negaranya walau air mata menguning yang meleleh di dalam seragam para fans berat yang berwarna kuning.
Sejarah telah mencatat bahwa tim Samba Brasil tidak pernah alpa selama penyelenggaraan world cup. Namun batu sandungan Selecao kerap kali kandas pada babak perempat final hingga final sekalipun. Berturut kegagalan tim Brasil (kecuali juara edisi piala dunia, 2002), yaitu pada partai final 1998 melawan Prancis, 0-3 kemudian perempat final (2006 kembali bertemu Prancis, 0-1 selanjutnya 2010 berhadapan Belanda, 1-2, lalu 2018 melawan Belgia, 1-2). Rupanya sihir tim Samba sudah tak mempan lagi jika menghadapi tim-tim elit Eropa kecuali Swedia, Cekoslovakia, Italia dan Inggris yang pernah ia lumpuhkan pada final piala dunia sebelumnya.
Kegagalan Brasil dalam event piala dunia sejak 20 tahun lalu atau 5 edisi world cup terakhir, 2006-2026 telah menguras berbagai pengorbanan material, fisik dan mental sekalipun kepada semua elemen yang terlibat. Masa-masa kejayaan legenda bola Brasil seperti Pele, Romario dan Bebeto atau trio 3R, Ronaldo, Rivaldo dan Ronaldinho plus defender bertenaga roket Roberto Carlos atau striker tampan Kaka sisa mengenang kehebatan mereka. Pengorbanan rakyat Brasil paling elegan adalah ketika deraian air mata yang turut mengantar kegagalan tim kesayangannya di dalam bauran dan lautan jersey berwarna kuning kebanggaannya.
Bagi masyarakat Brasil, piala dunia 2026 adalah seri yang terburuk bagi negaranya. Tak ada keberhasilan yang bisa dikenang atau ketiadaan euforia kemenangan yang wajib dihargai hingga kealpaan tarian samba yang harus digoyangkan. Kali ini, yang tampak hanyalah luapan air mata kesedihan dalam masa penantian harapan juara selama dua dekade terakhir. Yang hadir hanyalah tangisan dan air mata yang menguning di seantero negeri dan di dalam arena stadium Metlife New York yang sarat dengan seragam berwarna kuning.
Pentas sepak bola dunia adalah pertunjukkan skil strategi, energi, kapital, prestasi dan martabat juara sebuah negara. Bola yang tak memiliki sudut terkadang membuat kejutan dari tim-tim non unggulan terhadap tim kelas dunia. Efek kejut yang ditimbulkannya membuat deraian air mata bagi negara yang menjadi korbannya. Tak terkecuali tim yang memiliki nama besar seperti Belanda, Jerman atau Brasil, hingga supporternya masih menyisakan air mata orange-kah, atau air mata hitam putih-kah dan air mata kuning-kah.
Barru, 06 Juli 2026
*Warga Bengkel Narasi Indonesia yang telah menonton piala dunia via siaran hitam putih TVRI sejak World Cup 1986, ketika goal tangan tuhan Diego Armando Maradona di Mexico.
