Paus Fransiskus, yang bernama kristiani, Jorge Mario Bergoglio, Kelahiran Buenos Aires, Angertina, Benua Amerika, pada tanggal, 17 desember 1936 dan wafat di Casa Santa Marta Vatikan pada tanggal 21 april 2025, hari senin, pukul 7.35 waktu Vatikan dan 15.35 waktu Timor Leste.

Ia menutup mata pada usia 88 tahun, karena sakit Pneumonia. Ia mengambil nama Fransiskus sebagai penghormatan kepada Santo Frasiskus dari Asisi. Merupakan Paus ke-266 setelah Paus Benediktus XVI Pensiun.

Ia bergelar master di bidang Kimia dari Universitas Buenos Aires. Bergabung di Seminari di Villa Devoto dan masuk Serikat Yesus pada tahun 1958. Belajar filsafat dan Teologi di Faculty of San Miguel hingga mendapat gelar professor.

Uskup Agung Buenos Aires Periode 1998-2012. Diangkat sebagai Kardinal oleh Yohanes Paulus II, pada tanggal 21 februari 2001. Sosok Antidiskriminasi, berkomitmen terhadap Keadilan Sosial, Dialog antar agama dan kesetaraan gender. Terpilih sebagai Paus pada tanggal 13 Maret 2013. Mengganti Paus Emeritus Beneditus XVII yang mengundurkan diri.

Seorang paus yang terkenal dengan kesederhanaannya, seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan dan umat manusia terutama pada orang-orang pinggiran.

Pada bulan september 2024, Ia melakukan lawatannya ke Asia Tenggara, 3-6 september di Indonesia, 7-8 september di Papua New Guniea, 9-11 september di Timor Leste, dan 11-13 september di Singapura.

Di Indonesia ia mengunjungi Mesjid Istiqlal Jakarta, untuk bertemu dengan imam Besar Nasarudin Umar untuk menandatangi dokumen kemanusiaan bersama, dan meresmikan terowongan silaturahmi bawah tanah antara mesjid Istiqlal (muslim) dengan katedral (Kristen Katolik) Jakarta. Memperlihatkan kepada dunia bahwa, meskipun kita berbeda agama dan jalan yang berbeda tetapi kita percaya akan satu Allah dengan caranya masing-masing.

Hal ini menandakan bahwa, Ia (Paus Frans) setara dengan manusia sederhana di muka bumi ini, begitulah kesederhanaannya, sehingga bukan hanya umat Katolik yang mencintainya, tetapi juga umat dari agama lain, seperti Islam, protestan, hindu, budha, dsb. Semua lintas agama mencintainya. Menjadi keteladanan dan kesederhanaan bagi pemimpin tokoh agama manapun juga.

Di Timor Leste, umat Kristiani Katolik sangat antusias menyambutnya pada saat itu. Dimana umat katolik 750.000 yang menyambutnya dan mengikuti misa di Tasi Tolu. Hal ini merupakan suatu lawatanya yang dihadiri oleh umat terbanyak sepanjang sejarah dan takkan pernah terulang lagi. Kini mendiang paus Fransiskus telah berpulang ke rumah bapa di Surga, menerima mahkotanya, dan bahagia selamanya bersama Tuhan Yesus dan para malaikat di surga.

Keserdahanaannya, kerendahan hatinya, kedamaiannya, humanioranya pada orang-orang pinggiran, sehingga ia memilih mendiami hotel sederhana Santa Marta di mana sebagai tempat tinggal para Kardinal sedunia di Vatikan. Berpakaian sederhana, menaiki kendaraan sederhana, tidur di kedutaan Vatikan saat ia mengunjungi negara-negara katolik yang ia kunjungi.

Di Timor Leste, ia memberikan amanat dan pesan yang mendalam bagi umat Katolik disini, sebagai berikut:

Apa yang terindah di Timor Leste bukan kayu cendananya, Tetapi yang terindah baginya adalah Umatnya yang tercinta Timor Leste. Pantai kalian memilki banyak buaya, tetapi kalian harus berhati-hati dengan gigitannya. Karena ketika mereka mengigitnya, mereka tidak akan melepaskannya. Hati-hati juga jangan sampai menelan budaya kalian. Saya menginginkan agar kalian mempunyai banyak anak, selalu tersenyum, menjaga anak-anak kalian, memperhatikan juga para jompo, nenek dan kakek, karena merekalah yang menjadi memori masa lalu dan masa depan bagi negara ini”.

Setelah lawatannya di Timor Leste selama tiga hari dari tanggal 9-11 september 2024, meninggalkan pesan yang amat mendalam bagi umat Katolik di bumi Lorosa’e dimana ia memesan pada Presiden Ramos Horta bahwa, “cuida este povo maravilhoso de Timor Leste” atau “jagalah umat yang baik hati di Timor Leste ini….sampai di atas pesawat ia masih merindukan bumi Lorosa’e dengan mengatakan, Timor Leste bahwa, “I’m fall in love to Pueblo Timor Leste”, yang berarti, “Saya jatuh cinta pada umat/rakyat Timor Leste”.

Hal ini menunjukkan bahwa Paus Fransiskus sangat mencintai bumi Lorosa’e dengan umatnya, yang memiliki anak-anak banyak menjukkan masa depan yang gemilang. Sehingga ketika ia mengadakan pertemuan dengan para pemuda Timor Leste di CCD bahwa, “Pemuda harus selalu ribut, dan aktif, dalam hal-hal yang baik…bukan diam-diam saja karena para pemuda bukan sudah pensiun layaknya bapak dan ibunya yang telah pensiun”.

Saat mendengar kematiannya Kardinal Vigilio langsung mengadakan konferensi pers dengan memerintah kedua keuskupan lainnya agar mengadakan misa arwah di setiap paroki di Timor Leste, lalu di masing-masing Diosis dan terakhir di Dili, tempat dimana ia mengadakan misa di Tasi Tolu.

Sehari setelah meninggalnya Paus Fransiskus, Uskup Agung Dili, Kardinal Vigilio do Carmo juga terpilih untuk mengikuti pemakamannya di Vatikan, sehingga beliau berangkat ke Vatikan dengan pesawat City Link, pada tanggal 22 april 2025, karena berhak untuk mengikuti pemilihan Paus dalam Konklaf seusai pemakaman Paus, setelah masa berkabung selama sembilan hari di Katakombe Vatikan.

Dari kebaikannya, teladannya, selama hidup inilah yang meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh umat manusia di dunia, bukan hanya dengan umat Katolik saja, tetapi semua lintas agama, dimanapun ia temui dan kunjungi.

Akhir kata RIP (Requiem In Pacem) “beristirahatlah dalam damai” di taman Firdaus surga bersama Allah Trintunggal Mahakudus, Santa Perawan Maria, para Orang Kudus dan para malaikat di dunia keabadianmu disana. Semoga kami dapat mengikuti ajaran dari kerendahan hati dan kesederhanaanmu di bumi ini. Doa kami menyertaimu menuju ke tahta Allah di surga. Amin.

Dili, 22 April 2025

by prof EdoSantos’25

(Visited 65 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.