Di sebuah sudut kota Blora yang tenang, sebuah kisah luar biasa tentang keteguhan jiwa terus bergulir. Ini bukan sekadar cerita tentang kemiskinan atau nasib malang, melainkan tentang bagaimana martabat manusia tetap berdiri tegak meski badai sejarah mencoba merubuhkannya.
Soesilo Ananta Toer, adik kandung dari maestro sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, adalah manifestasi hidup dari sebuah ironi yang menggugah: seorang doktor lulusan Rusia yang memilih menjalani hari-harinya sebagai pemulung demi menjaga kejujuran dan api literasi keluarga.
Lahir pada 17 Februari 1937, Soesilo tumbuh dalam atmosfer keluarga yang memuja buku dan kata-kata. Pada akhir 1950-an, kecerdasannya membawanya terbang ke Uni Soviet melalui jalur beasiswa. Di Moskow, ia menaklukkan bangku kuliah di Universitas Patrice Lumumba dan Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov. Tak tanggung-tanggung, gelar master dan doktor berhasil ia sabet—sebuah prestasi yang sangat langka bagi pemuda Indonesia di era tersebut. Di negeri beruang merah itu, ia dikenal sebagai pemikir tajam, penulis yang produktif, dan intelektual yang disegani.
Namun, kepulangan Soesilo ke tanah air pada pertengahan 1960-an justru menjadi awal dari tragedi personal yang panjang. Indonesia sedang bergejolak. Angin politik berubah arah secara radikal, menyeret siapa pun yang dianggap berafiliasi dengan ideologi kiri ke dalam lubang gelap tanpa pengadilan. Hanya karena pernah belajar di Uni Soviet, Soesilo diciduk dan menyandang status tahanan politik. Bertahun-tahun ia hidup dalam jeruji besi dan stigmatisasi. Gelar doktornya yang mentereng seolah kehilangan makna di hadapan masyarakat yang dipenuhi rasa curiga dan ketakutan akibat indoktrinasi Orde Baru.
Alih-alih menyerah pada keadaan atau menjual idealismenya, Soesilo memilih jalan yang paling jujur untuk bertahan hidup: memulung. Setiap pagi, dengan sepeda tua yang setia menemani, ia menyusuri jalanan Blora mengumpulkan plastik dan barang bekas.
Baginya, memulung bukan tentang sampah, melainkan tentang kebebasan. Ia membuktikan bahwa gelar akademis tidak pernah menentukan nilai intrinsik seorang manusia. Prinsip, kerja keras, dan kejujuranlah yang membuat seseorang tetap berdiri sebagai manusia merdeka.
Yang paling menginspirasi adalah bagaimana Soesilo tetap menghidupkan warisan sang kakak, Pramoedya Ananta Toer. Di rumah sederhananya, ia mendirikan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa). Perpustakaan kecil ini menjadi oase bagi masyarakat sekitar.
Di sana, ia menyediakan ribuan buku secara gratis, memastikan bahwa api literasi yang dahulu diperjuangkan Pramoedya tidak pernah padam. Baginya, pengetahuan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya dimiliki kaum elite; ilmu harus menjadi milik “Anak Semua Bangsa”.
Meski terasing dari panggung akademik formal, Soesilo tidak pernah membiarkan penanya kering. Ia terus menulis buku tentang sejarah, budaya, dan pengamatannya terhadap sosial masyarakat. Ia adalah penjaga gawang sejarah keluarga Ananta Toer yang memastikan bahwa nama besar kakaknya tidak hanya berakhir di buku sejarah sekolah, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari—dalam semangat membaca, menulis, dan melawan lupa.
Kisah hidup Soesilo Ananta Toer adalah panggilan bagi kita semua agar tidak pernah melupakan sejarah para sastrawan hebat kita. Pramoedya mungkin telah tiada, namun melalui dedikasi Soesilo, kita diingatkan bahwa sastra bukan sekadar deretan kata indah, melainkan alat perjuangan untuk kemanusiaan. Kita berhutang pada sejarah untuk terus membaca karya-karya mereka dan menghargai setiap tetes keringat intelektual yang telah mereka sumbangkan bagi bangsa ini.
Di balik tumpukan sampah plastik yang ia pungut, tersimpan semangat seorang intelektual besar yang tidak pernah kehilangan kebanggaannya sebagai orang Indonesia.
Marilah kita belajar dari keteguhan Soesilo untuk terus menghidupkan api sastra di hati kita masing-masing, demi masa depan Indonesia yang lebih cerdas dan berbudaya. Jangan biarkan sejarah mereka terkubur oleh debu waktu.
