Oleh: Muhammad Sadar*

Di tengah perhelatan akbar sepak bola sejagat yang diselenggarakan di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat- Kanada-Mexico tahun 2026 pada laga krusial empat tim terkuat dunia yakni, (Prancis vs Spanyol, dan Inggris vs Argentina) di bagan semi final hingga sesi final antara Spanyol vs Argentina. Tim tangguh tersebut masing-masing sudah pernah meraih juara dunia di zamannya, mewakili zona kontinental Eropa dan Amerika Latin menuju pengakuan global, bahwa siapa negara yang paling superior yang akan bertahta di puncak kontestasi top one rangking FIFA yang merengkuh World Cup 2026?.

Rivalitas perebutan piala dunia tahun 2026 akan membuat pecandu bola meramaikan pasar taruhan, geliat analisis para pengamat pertandingan, tumpahnya air mata menguning sekaligus kesedihan yang mengharu biru pada tim unggulan yang kalah, lalu fenomena pemandangan menonton bersama baik di cafe/hotel, di ruang terbuka hijau atau di studio siaran televisi, bahkan di pojok kampung, diperkantoran hingga di rumah jabatan dinas sekalipun. Konvoi dan arak-arakan pendukung fanatis terhadap suatu tim yang mengalami kemenangan mewarnai setiap sudut kota atau negara peserta.

Di balik keriuhan perebutan piala dunia tahun 2026, di tengah kebisingan di dalam dan di luar stadion, intrik penuh tekanan emosional para pemain, pelatih, tim official bahkan yang terjadi adalah intervensi birokrasi FIFA oleh negara super power dunia yang berkehendak mendikte aturan main bola, namun dalam suasana senyap di luar ruang world cup tersebut, terjadi kontestasi lain di negeri ini yaitu kompetisi perebutan superioritas atas produktivitas pada varietas padi yang saat ini tengah dilakukan prosesing panen oleh petani.

Konstalasi penggunaan varietas unggul padi bagi petani saat ini adalah jawaban atas hasil riset para peneliti di dalam mendesiminasikan inovasi VUB di lapangan. Dalam dua tahun terakhir ini, beberapa varietas unggul baru padi menjadi pusat perhatian penuh atas capaian produktivitasnya. Tidak dinafikan pengakuan petani atas varietas Padjajaran Agritan yang pada awalnya dikembangkan sebagai benih sumber di wilayah Barru hanya seluas 0,50 hektare dengan kelas benih penjenis berlabel kuning langsung dari penelitinya.

Langkah perjalanan nasib Padjajaran Agritan berikutnya adalah pengembangan ke tingkat penangkaran lokal oleh penyedia benih padi nasional dengan menghasilkan benih dasar dan benih pokok. Melalui produksi benih tersebut hingga menjadi bahan bantuan program mandiri benih Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang mencapai 14,9 ton dan 11,2 ton untuk kegiatan optimasi lahan Kementerian Pertanian tahun 2025 di Kabupaten Barru. Atas proporsi bantuan benih pemerintah, menjadikan varietas Padjajaran Agritan berkembang seluas 1.321 hektar selama musim tanam tahun 2025 sampai 2026.

Berbeda dengan Padjajaran Agritan yang dilepas sejak tahun 2018 lalu, varietas Inpari 49 Jembar pertama kali diperkenalkan di wilayah ini melalui program mandiri benih padi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2025 sebesar 16,6 ton yang tersebar di Soppeng Riaja, Barru, Balusu dan Tanete Riaja, ditambah penyediaan swadaya petani di musim tanam 2026 sebanyak 1,2 ton dengan total luas tanam mencapai 752 hektare. VUB Inpari 49 Jembar yang dilepas oleh pemerintah tahun 2021, bermula diminati masyarakat petani di Kabupaten Barru ketika dilakukan penangkaran benih dasar di IKB Jampue. Dengan tampilan pertumbuhan maupun vigor tanaman yang optimal dan diiringi produktivitas tinggi yang mendekati potensi hasilnya 9,57 ton per hektar.

Kompetisi penggunaan varietas unggul padi nasional di tingkat petani tak terlepas dari perubahan sikap petani khususnya dalam fokus menerima inovasi baru. Keunggulan sifat varietas dan kesesuaian lingkungan tumbuh yang turut menjadi bahan pertimbangan utama petani di dalam memilih inovasi. Berdasarkan laporan data primer petani terhadap kedua VUB diatas (Inpari 49 Jembar dan Padjajaran Agritan) baik melalui survei ubinan plot atau ubinan produksi petak langsung, menyampaikan hasil produktivitas tergolong tinggi antara 8-9 ton per hektare gabah kering panen.

Kinerja produktivitas sebuah varietas bisa diamati dari perlakuan para pelaksana lapangannya yaitu petani. Ia bertindak selaku eksekutor terhadap perlakuan tanaman budidayanya. Ia yang memilih jenis teknologi yang harus diterapkan sekaligus wasit penentu goal produksi yang diharapkan. Varietas Inpari 49 dan Padjajaran Agritan menjadi ajang pembuktian cara kerja teknis petani sesungguhnya dan ia memberi pengakuan akhir bahwa kedua VUB tersebut sangat layak direkomendasikan pada musim-musim tanam berikutnya.

Kini saatnya dalam memacu produksi padi nasional, kembali lagi kepada ketersediaan benih unggul spesifik lokasi. Sikap penerimaan petani menjadi penentu didalam penyediaan varietas termasuk ekosistem tumbuh yang cocok agar kompetisi antar varietas lebih mudah dinilai kesesuaiannya. Evaluasi varietas dan penyebarannya terhadap suatu wilayah tak berhenti dilakukan upaya pengembangan. Respon petani sebagai sasaran pengguna inovasi akan menjadi bahan pertimbangan dan terus dilakukan perbaikan sifat, penyelamatan plasma nutfah serta usaha introduksi gen-gen padi terbaru.

Barru, 16 Juli 2026

*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan, dan TPHBun Kabupaten Barru

(Visited 3 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.