Oleh: Artati Latif*
Pusat pertumbuhan dan perkembangan usaha pertanian khususnya tanaman pangan pada umumnya berada di desa. Sebuah desa dipenuhi sumber daya kehidupan utamanya keanekaragaman hayati dan lahan baku sawah, lahan kering dan lahan rawa atau lahan pasang surut. Eksistensi semua jenis lahan tersebut sebagai media tumbuh tanaman terus diupayakan agar teroptimalisasi penggunaannya dan memberi nilai manfaat maupun tata guna lahan tetap teratur.
Setiap desa memiliki potensinya sendiri, tak terkecuali Desa Corawali. Corawali adalah sebuah desa definitif di wilayah pemerintahan daerah Kabupaten Barru yang berarti tempat yang memiliki kecerahan dari semua arah. Makna yang lebih dalam lagi yakni memberi harapan dari segenap sisi penjuru desa. Desa Corawali merupakan bagian dari wilayah kerja penyuluhan pertanian atau WKPP Kecamatan Tanete Rilau dengan luas desa mencapai 7,92 kilometer persegi.

Teritorial darat Desa Corawali terdiri atas potensi lahan kering atau kebun seluas 120 hektar, lahan basah permanen berupa tambak 13,0 hektar dengan panjang garis pantai 2 kilometer, sedangkan luas baku sawah 260 hektare yang merupakan sawah tadah hujan yang setiap tahun ditanami padi hingga dua kali setahun. Namun pada musim tanam kedua tahun 2025 hingga 2026 saat ini, salah satu kelompok tani Sipurennu 2 untuk pertama kalinya mencoba menerapkan sistem pertanaman tiga kali setahun pada hamparan sawah non irigasi seluas 10,0 hektare.
Upaya peningkatan indeks pertanaman padi yang dilakukan di Desa Corawali adalah bagian dari perluasan areal tanam dengan memanfaatkan sisa musim tanam gadu antara bulan Agustus-September 2025 dan 2026. Dukungan pemerintah sejak tahun lalu bersumber dari BPPSDMP dan BRMP Kementerian Pertanian berupa bantuan benih padi varietas
Cakrabuana Agritan.
Karakter varietas Cakrabuana Agritan tergolong genjah dan memiliki potensi produktivitas tinggi antara 10,2 ton GKG per hektare. Keunggulan lain
varietas ini adalah agak tahan terhadap hama wereng batang coklat dan penyakit hawar daun bakteri serta cocok ditanam pada sawah dataran rendah hingga ketinggian 600 meter diatas permukaan laut, termasuk beradaptasi baik dan toleran kering pada lingkungan ekstrem.
Selain tanaman yang diupayakan beradaptasi baik terhadap lingkungan tumbuh, maka penulis yang berperan selaku PPL Desa Corawali yang kembali ditugaskan TMT 01 Juli 2026 sekaligus penugasan di Desa Lalabata yang legendaris sebagai wilayah binaan lain, juga dituntut untuk memberi pelayanan optimal terhadap kebutuhan budidaya petani dan pengawalan program swasembada pangan nasional.

Program swasembada pangan khusus komoditas beras yang telah diraih pada tahun 2025 lalu, kini kembali akan dipertahankan capaiannya melalui intensifikasi padi yakni memperluas cakupan penanaman dengan cara menambah indeks pertanaman dari IP-100 ke IP- 200 atau IP-300 dalam setahun. Strategi kegiatan optimasi lahan turut menjadi pendukung meningkatkan IP serta tracking reportase LTT setiap hari menjadi barometer penambahan luas tanam harian, mingguan dan bulanan.
Dalam arahan Pj. Swasembada Pangan mengatakan bahwa raihan swasembada beras tahun 2025 harus dipertahankan capaiannya mengingat potensi lahan irigasi nasional seluas 4 juta hektar mampu ditanami hingga tiga kali setahun.
Upaya yang dilakukan sejak dua tahun terakhir seperti cetak sawah rakyat, irigasi pompanisasi dan optimasi lahan baik lahan rawa maupun lahan non rawa memberikan dampak signinifikan di dalam mendongkrak produksi beras nasional.
Untuk lebih melipatgandakan produksi beras nasional diperlukan terobosan intensif disamping memaksimalkan peran penyuluh pertanian sebagai garda terdepan menghadapi medan produksi bersama petani. Lebih lanjut
Pj.Swasembada mengungkapkan bahwa Kementerian Pertanian saat ini tengah memperkenalkan suatu temuan inovatif dalam hal memperkuat basis produksi padi dengan metode
PM-AAS atau Pertanian Modern
Advance Agriculture System,
(Sistem Pertanian Maju). Dengan nada bercanda Pj mengatakan, untuk lebih mudah melafalkan istilah tersebut yang sudah dipatenkan, bisa diucapkan saja
“Pak Menteri Andi Amran Sulaiman.”

Dalam model pendekatan PM-AAS ini, maka pengawalan dan pendampingan para PPL diharapkan memiliki target tanam berdasarkan syarat kualifikasi lahan sawah yang dimiliki petani. PPL berperan untuk meyakinkan petani bahwa model PM-AAS adalah modifikasi sistem tanam manual ke arah mekanisasi pertanian modern dengan mengandalkan pemanfaatan mesin-mesin pertanian mulai olah tanah, sistem tebar benih, pemupukan hingga panen dan pascapanen.

Penugasan penulis ke wilayah kerja baru ini, sungguh merupakan tantangan terbaru dengan adanya penerapan model sistem budidaya padi PM-AAS. Ditengah suasana ancaman El Nino tahun 2026 yang kian terasa dan berpotensi membahayakan tanaman di bawah bayang-bayang kekeringan masif, sementara disisi program swasembada pangan terus untuk dijalankan. Oleh karena itu, peran PPL didalam menyiasati tantangan alam antara lain pemanfaatan varietas padi umur genjah dan optimalisasi sumber-sumber air maupun pengerahan segenap sumber daya seperti mesin air dan menjaga suplay air tetap tersedia.

Kembali bertugas ke Desa Corawali, tentunya penulis lebih berharap untuk kolaborasi bersama petani sebagai aktor utama di lahan produksi. Peran mereka sangat berpengaruh nyata di dalam pengambilan keputusan kerja- kerja teknis di lapangan. Kesuksesan swasembada pangan tak lepas dari kontribusi besar para petani disamping dukungan proses intensifikasi sarana produksi dan out put regulasi oleh pemerintah.
Corawali, 11 Juli 2026
*PPL Kementerian
Pertanian.
