Kabar itu datang bagai petir di siang bolong. Yumna, keponakan kecilku, harus dirujuk dari RSUD Suliki ke RSUP M. Djamil Padang. Jantungku berdegup kencang. Perjalanan jauh segera terbayang di pelupuk mata.
Perjalanan Penuh Harap
Pagi itu, aku berangkat dari Surantiah menumpang travel. Di kepala hanya ada satu nama: Yumna. Sementara itu, saudara-saudaraku yang lain tak kalah gigihnya. Da Arif dan Yazid memacu sepeda motor mereka dari Simpang Kapuak, membelah dinginnya jalanan dan menantang maut di sepanjang Lembah Anai demi bisa sampai ke Padang.
Gara-gara Yumna, aku melihat betapa kuatnya ikatan darah kami. Jarak Surantiah, Simpang Kapuak, dan Padang seolah mengecil oleh rasa peduli.
Ujian Kesabaran di Lorong M. Djamil
Namun, setibanya di sana, realita pahit menghantam. RSUP M. Djamil yang besar itu ternyata menjadi tempat aku belajar tentang kerendahan hati dan pahitnya menjadi orang kecil. Aku belajar menerima takdir, belajar memahami arti Ari Dunsanak, dan belajar tentang seni menunggu yang melelahkan.
Di sana, aku melihat sisi lain kemanusiaan. Aku harus menelan ludah melihat gaya arogan oknum perawat. Mereka seolah buta pada empati, bicaranya ketus, dan kami—keluarga pasien—seringkali diusir dan dimaki. Terlebih saat mereka tahu kami datang menggunakan fasilitas BPJS. Seolah-olah karena kami miskin, kami tidak punya hak untuk merasa cemas atau sekadar ingin dekat dengan keluarga yang sakit.
Malaikat Tak Bersayap
Di tengah hinaan dan rasa lelah, Allah menunjukkan kebesaran-Nya melalui orang-orang terdekat. Di saat dompetku kosong melompong, Ociak Ama mengulurkan tangan memberikan ongkos travel dan uang saku. Begitu juga dengan Da Arif, yang meski sudah lelah menempuh perjalanan jauh lewat Lembah Anai, masih memikirkan uang belanjaku.
Gara-gara Yumna, aku bisa mencicipi Roti O yang sedang viral itu. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi bagiku adalah kemewahan yang datang dari kasih sayang saudara. Roti itu bukan sekadar makanan, tapi simbol bahwa aku tidak sendirian.
Hikmah di Balik Musibah
Kini aku paham, musibah bukan hanya tentang rasa sakit. Gara-gara Yumna, aku jadi tahu siapa dunsanak yang benar-benar berdiri di sampingku saat badai datang. Aku belajar bahwa tidak dihargai orang lain itu menyakitkan, tapi dicintai oleh keluarga sendiri adalah kekuatan yang tak terkalahkan.
Terima kasih ya Allah, atas segala takdir-Mu. Terima kasih telah memberiku sanak saudara yang sangat luar biasa. Di M. Djamil, aku kehilangan ketenangan, tapi aku menemukan arti keluarga yang sesungguhnya. Terimakasih keluarga besar Saura, Keluarga Besar Wali nagari Simpang Kapuak terutama sanak Yori Jalius, semua keluarga besar Caniago yang tidak bisa di sebutkan satu persatu.
