Dua minggu terakhir ini, manusia sejagat menikmati perhelatan akbar Piala Dunia 2026 dari Benua Amerika. Malam-malam Piala Dunia sering mengubah ruang tamu menjadi tempat berkumpul yang penuh perhatian. Cahaya televisi menerangi wajah-wajah yang menunggu hasil. Layar TVRI menampilkan lapangan hijau yang jauh, sementara bola bergerak membawa harapan banyak orang. Di tengah suara penonton dan riuh stadion, terdengar suara komentator yang mencoba menjelaskan momen yang terjadi di lapangan hijau.
Komentator berbicara dari tempat yang tenang. Ia tidak berada di lapangan, tetapi mengamati setiap gerakan pemain. Dari kursinya, ia menilai usaha para pemain yang sedang berjuang. Kata-katanya mengalir cepat, mengikuti jalannya pertandingan.
Ketika seorang penyerang gagal mencetak gol, ia berkata, “Harusnya ke kiri.” Seolah-olah keputusan itu mudah diambil. Seakan-akan tidak ada tekanan, tidak ada lawan, dan tidak ada rasa gugup di hadapan ribuan penonton. Padahal, permainan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bola tidak selalu bergerak seperti yang diharapkan. Banyak hal terjadi di luar kendali, dan setiap detik membawa kemungkinan yang berbeda.
Pelatih pun sering dinilai dan dikritik. Ia dianggap terlambat mengganti pemain atau salah menyusun strategi. Dari luar, keputusan tampak sederhana. Namun di lapangan, setiap pilihan memiliki risiko yang tidak selalu terlihat. Sering kali manusia merasa lebih tahu setelah semuanya selesai. Ketika pertandingan berakhir, banyak yang merasa mampu menjelaskan hal yang seharusnya dilakukan. Kekalahan menjadi bahan penilaian yang mudah diucapkan.
Kritik memang diperlukan. Ia membantu melihat kekurangan dan memperbaiki langkah. Kritik bukanlah pengalamannya sendiri. Ia hanya melihat dari luar, bukan menjalani. Ada orang yang pandai memberi arahan, tetapi kesulitan ketika harus melakukannya sendiri. Kata-katanya terdengar meyakinkan, tetapi tindakannya tidak selalu sejalan.
Hidup tidak jauh berbeda dengan pertandingan. Banyak yang memberi komentar dari luar, tetapi sedikit yang benar-benar terlibat. Mudah menilai kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kekurangan diri sendiri.
Tanggung jawab adalah tempat di mana seseorang diuji. Di sana, tidak ada ruang untuk bersembunyi di balik kata-kata. Yang terlihat adalah usaha, keberanian, dan keputusan.
Orang yang memikul tanggung jawab memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Tidak semua keputusan akan diterima dengan baik, dan tidak semua hasil sesuai harapan.
Karena itu, tidak perlu terburu-buru menilai pemain yang gagal. Mungkin ia telah berusaha lebih keras daripada yang terlihat. Tidak perlu meremehkan pelatih. Mungkin ia telah mempertimbangkan banyak hal yang tidak kita ketahui. Kebijaksanaan tidak ditentukan oleh banyaknya kata, tetapi oleh pengalaman dan pemahaman. Seseorang menjadi matang bukan karena sering berbicara, tetapi karena mampu menjalani dan belajar dari masalah yang dihadapi.
Menjadi komentator bukanlah hal yang salah. Dunia membutuhkan suara yang mengingatkan. Namun suara itu akan kehilangan makna jika hanya digunakan untuk menghakimi tanpa memahami.
Ketika pertandingan kembali berlangsung dan komentar terus terdengar, ingatlah bahwa hidup bukan hanya tentang menilai. Hidup adalah tentang menjalani peran kita sendiri. Pada akhirnya, yang dinilai bukanlah seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa baik kita bertindak. [HTB
Makassar, 4 Juli 2026
Pk. 05.33 WITA
(…. sambil menonton Babak 16 Besar, antara Prancis – Paraguay)
