Oleh: Muhammad Sadar*

Tidak semua perjalanan diukur dari jauh dekatnya jarak, tetapi dari dalamnya rasa yang tertinggal di hati. Bagi Tim PENAS XVII 2026 Kabupaten Barru, perjalanan pulang dari Gorontalo menuju kampung halaman di Barru sejauh 1.345 kilometer bukan sekadar traveling lintas trans Sulawesi, melainkan perjalanan penuh haru, kebersamaan, dan rasa syukur setelah mengikuti event Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII.

Di dalam satu kendaraan Hiace yang hanya berisi 13 orang termasuk pengemudi, perjalanan ini berubah menjadi ruang kecil yang penuh cerita besar. Di sanalah lelah tidak selalu diucapkan, rindu tidak selalu terlihat, dan kebanggaan tidak selalu disampaikan dengan kata-kata, tetapi hadir dalam diam yang saling memahami.

Sebelum keberangkatan dari Gorontalo, rombongan dilepas dengan suasana hangat oleh Bupati Barru. Dalam momen yang sederhana namun sarat makna itu, disampaikan pesan yang terus teringat sepanjang perjalanan: “Jaga kekompakan, jaga nama baik Barru, dan pulanglah dengan selamat.”

Kalimat itu tidak hanya menjadi ucapan perpisahan, tetapi menjadi pegangan batin yang menguatkan setiap kali perjalanan terasa berat. Saat kendaraan mulai meninggalkan Gorontalo, jalan panjang trans Sulawesi terbentang seperti garis tak berujung. Di kanan kiri jalan, hamparan alam berganti dari satu wilayah ke wilayah lain—perkebunan, sawah dan tambak, sungai, laut dan pantai, perbukitan, barisan pegunungan yang tinggi, hingga deretan kendaraan logistik yang seakan ikut menemani perjalanan pulang. Namun bukan pemandangan itu yang paling membekas, melainkan suasana di dalam kendaraan yang sederhana.

Di dalam kabin jet bus Hiace itu, tawa kecil menjadi penghapus lelah, candaan ringan menjadi penguat semangat, dan lagu-lagu dari gawai yang diputar bersama menjadi pengisi ruang- ruang sunyi perjalanan panjang. Tidak ada kursi yang nyaman berlebihan, tidak ada kemewahan yang menyertai, tetapi ada sesuatu yang lebih hangat: kebersamaan yang tumbuh tanpa dipaksakan.

Setiap waktu salat tiba, rombongan berhenti di masjid yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Di tengah lelah yang mulai terasa di tubuh, mereka tetap berusaha menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, memohon keselamatan agar perjalanan panjang ini berakhir dengan selamat di rumah masing-masing.

Perjalanan juga diwarnai dengan singgah-singgah sederhana. Persinggahan di batas teritorial antara Provinsi Sulawesi Tengah dan Gorontalo yang berjarak ratusan kilometer dan ditempuh hingga delapan jam. Terlebih tanjakan ekstrem Santigi dan antrean panjang isian BBM Solar di SPBU Katimbar, shalat jumat di Tinombo/Mamuju serta breakfast di Tomini, atau lunch di Toboli wilayah Kabupaten Parigi Moutong atau mencicipi kuliner khas suasana malam-dinner di Randangan, Kabupaten Pohuwato. Bukan hanya sekadar melepas penat, menghapus peluh, menikmati makanan lokal, atau membeli buah tangan dari daerah yang dilalui untuk keluarga yang menanti di rumah. Namun di setiap pemberhentian, ada rasa syukur kecil yang terus tumbuh: bahwa perjalanan ini masih diberi kelancaran.

Bahkan ada satu momen yang paling membekas di hati rombongan, yakni ketika mereka disambut hangat oleh komunitas KKDB di Palu. Sambutan itu tidak mewah, tetapi justru di situlah letak kehangatannya. Di tengah perjalanan panjang yang melelahkan, perhatian sederhana itu menjadi pengingat bahwa di mana pun berada, selalu ada tangan-tangan yang terbuka.

Perjalanan berlanjut melewati Sulawesi Barat. Di wilayah ini, rombongan kembali merasakan hangatnya persaudaraan ketika bertemu warga asal Barru yang merantau di daerah Tarailu, Kabupaten Mamuju. Jamuan sederhana di tanah rantau menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan: ada rasa ramah meski jauh dari rumah, ada kehangatan keluarga meski bukan di tempat kelahiran.

Pada titik itulah perjalanan ini perlahan mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis di peta: bahwa jarak tidak pernah benar-benar memisahkan hati yang saling peduli, dan kebersamaan bisa tumbuh bahkan di tempat yang paling jauh sekalipun. Perjalanan yang menyaksikan singsingan matahari terbit di ufuk timur yang menandakan siang hari mulai menyapa serta melihat sang surya terbenam di bagian barat sebagai pertanda selimut malam mulai beranjak yang diiringi cahaya rembulan pada awal bulan muharram 1448 hijriyah.

Seiring kilometer terus berkurang, rasa lelah memang tidak hilang sepenuhnya, tetapi berganti menjadi rasa rindu yang semakin dekat dengan rumah. Setiap percakapan di dalam kendaraan menjadi lebih pelan, setiap tatapan menjadi lebih dalam, seolah semua orang sedang bersiap kembali pada kehidupan masing-masing setelah perjalanan panjang yang tak terlupakan ini. Akhirnya, Tim PENAS XVII Kabupaten Barru tiba kembali di daerah dengan selamat. Tidak ada sorak-sorai berlebihan, tidak ada kemewahan yang menyambut, tetapi ada sesuatu yang lebih bermakna: rasa syukur yang diam-diam mengisi hati setiap orang di dalam rombongan.

Mereka pulang tidak hanya membawa oleh-oleh di tangan, tetapi juga membawa cerita di hati—tentang lelah yang ditemani kebersamaan, tentang jarak yang dijembatani doa, dan tentang perjalanan yang mengajarkan arti pulang yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, pulang bukan sekadar kembali ke rumah.

Pulang adalah membawa kembali kebanggaan, pengalaman, dan rasa syukur untuk tanah pengabdian yang selalu dicintai. Kembali ke kampung sesungguhnya membawa tanggung jawab ilmu yang wajib disampaikan kepada pengguna inovasi yaitu petani nelayan. Perjalanan legenda kali ini menabur hasil riset pertanian para ahli yang dibawa pulang dari PENAS XVII Gorontalo.

Satu hal yang paling menarik perhatian bagi penulis-selain materi penas dan pelengkapnya-adalah pertemuan yang paling membahagiakan antara para alumni dan civitas akademik Polbangtan Gowa dimana segenap alumni khususnya yang berdomisili di wilayah BOHUSAMI, Maluku, Papua dan alumni yang mendiami daratan pulau Sulawesi lainnya melakukan temu alumni di Gorontalo. Cerita nostalgia puluhan tahun lalu ketika berstatus mahasiswa pertanian menjalani masa-masa kuliah tugas belajar di APP, STPP hingga kini perguruan tinggi tersebut telah bertransformasi menjadi Polbangtan di Kementerian Pertanian. Diskusi dan brain storming melengkapi temu alumni untuk memperkuat basis Polbangtan sebagai ekosistem pendidikan pertanian kedinasan di Indonesia.

Kehadiran tim Penas Petani Nelayan Kabupaten Barru di Gorontalo menciptakan catatan perjalanan panjang yang akan menjadi bagian dari sejarah pengembangan usaha pertanian di Barru melalui ilmu terapan inovasi yang diperoleh di arena penas. Perjalanan yang akan melegenda sepanjang masa karena ia ditempuh menggunakan moda transportasi darat ribuan mil tanpa hambatan yang berarti dan tim kembali dalam keadaan selamat.

See you next PENAS Petani Nelayan XVIII 2029 di Provinsi Lampung

Gorontalo-Palu, Mamuju-Barru, 25-26 Juni 2026

*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan, TPHBun Kabupaten Barru

*Angkatan kedua
STPP Gowa, 2003

(Visited 13 times, 13 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.