Oleh: Rosmawati*

Pagi itu aku duduk lama di depan jendela, memandangi langit yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa, namun hatiku terasa penuh oleh sesuatu yang sulit kujelaskan dengan kata-kata.

Ada hari-hari ketika tubuhku sudah tak sekuat dulu. Sendi-sendi terasa sakit, untuk berdiri lama pun aku harus menahan perih yang datang diam-diam tanpa bisa kucegah.

Lalu aku teringat narasi Bang RIM yang membuat tulisan ini muncul. Kalimatnya tentang takdir yang tak pernah dipilih namun harus dijalani, seolah mengetuk kembali kesadaranku yang hampir padam. Bukankah setiap rancangan ilahi ada hikmahnya.

Aku pun mengambil pena dan mulai menulis perlahan. Anehnya, ketika pena ini bergoyang, rasa sakit itu hampir tak terasa lagi, seolah tergantikan oleh aliran yang menenangkan.

Aku belajar bahwa energi positif dari sebuah tulisan bisa menjadi terapi jiwa. Setiap kata yang kutulis seperti menguatkan sendi yang lemah dan menegakkan kembali hati yang nyaris roboh.

Pasrah bukan berarti berhenti, melainkan tetap berjalan dengan sisa kekuatan yang ada. Selama aku masih bisa menulis, aku percaya harapan itu masih ada.

Kini aku memahami sepenuhnya, bahwa takdir memang tidak untuk dipilih, melainkan untuk dijalani dengan iman. Dan selama hati masih bersandar pada harapan, seberat apa pun jalan itu akan tetap bisa kutempuh.

*Aktivis literasi menulis

(Visited 1 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.